oleh

Unsur Kesempurnaan dalam Ciptaan-Nya

Oleh : Karsidi Diningrat

APABILA penciptaan makhluk ini menunjuk pada adanya Allah, maka kesempurnaan dalam penciptaan lebih jelas dan terang sebagai petunjuk akan adanya Allah. Kesempurnaan dalam ciptaan lebih cermat dan pelik daripada perbuatan mencipta. Dapat saja sesuatu itu diciptakan, tetapi tidak sempurna.

Kesempurnaan dalam ciptaan berarti ‘tercipta dalam mutu yang sebaik-baiknya’. Segala sesuatu yang diciptakan itu dicetak dalam keadaan siap melaksanakan tugasnya dalam hidup dan dalam bentuk menurut ukuran yang ditentukan baginya; kemudian dibekali dengan berbagai perlengkapan, fisik dan non fisik, bagi keperluan hidupnya. Ia dijadikan bertubuh sempurna menurut ukuran yang seimbang.

Kesempurnaan dan keseimbangan dalam ciptaan Allah ini merupakan fenomena yang terdapat umumnya pada semua makhluk ciptaan-Nya, dan khususnya pada manusia. Al-Qur’an mengungkapkan bahwa ciptaan Allah tidak tampak sesuatu yang tidak seimbang. Al-Qur’an mengemukakan kesempurnaan dalam ciptaan ini dengan beranekaragam ungkapan dan kata-katanya, tetapi sama dalam maknanya.

Bumi, misalnya. Pencipta telah menyempurnakan pembuatannya, sehingga bumi itu menjadi hamparan yang cocok untuk tempat tinggal, terutama bagi manusia. Oleh sebab itu, bumi dibentangkan dan dijadikan-Nya laksana permadani, sehingga mudah dijalani.  Ditancapkan-Nya di atas bumi gunung-gunung berdiri kukuh sebagai pancang agar bumi tidak bergeser dari tempatnya. Bumi diberkahi-Nya dan diberinya sumber makanan menurut ukuran yang telah ditetapkan-Nya – bagi setiap makhluk yang hidup di atasnya. Andai kulit bumi ini keseluruhannya terdiri dari batu, yang keseluruhannya kering, atau hanya terdiri atas samudra saja, maka tidak mungkin bumi itu akan dapat menumbuhkan tanam-tanaman dan menghasilkan buah-buahan.

Sekiranya kulit bumi ini lebih tebal beberapa kaki saja dari keadaannya yang sekarang, maka karbondioksida dan oksigen yang ada di udara akan diserap masuk ke dalam tanah, sehingga tiada kemungkinan bagi adanya kehidupan.

Kesempurnaan ciptaan manusia. Apabila kita berpaling dari alam semesta dan meninggalkan dunia hewan dengan segala penyempurnaannya, lalu kita meningkat ke dunia insan, maka kita temukan manifestasi kesempurnaan (penciptaannya) lebih jelas dan lebih hebat dari makhluk-makhluk selain insan. Memang manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya; ia diciptakan dalam sebaik-baik acuan.

Manusia dijadikan Allah untuk memikul suatu tugas yang sangat tinggi, yaitu memegang kekuasaan dan menjadi khalifah di muka bumi. Oleh sebab itu, pada manusia diberikan-Nya sifat-sifat khas, berbagai fasilitas dan perangkat jasmani dan rohani guna membantu kelancaran fungsi yang harus dijalankan dan memudahkan pekerjaannya.

Kalau kita memperhatikan struktur tubuh manusia, akan kita dapati suatu struktur yang menakjubkan dan mengagumkan, karena kesempurnaan dan keakuratannya, sehingga setiap anggota tubuh dan organ atau alat yang mempunyai tugas tertentu di dalam tubuh manusia akan menunjukkan ketepatan dan kesesuaian bagi hidup manusia yang memikul tugas sebagai penguasa dan khalifah di muka bumi ini. Bila alat-alat dan sistem peralatan buatan manusia dibandingkan dengan anggota tubuh dan sistem keorganan yang dirancang dan diciptakan oleh Allah itu, maka perbandingan itu tak sejajar, sebab ciptaan Allah tidak dapat diungguli oleh ciptaan siapa pun (selain Allah) betapapun canggihnya buatan manusia itu.

Susunan otot dan tulang, sistem pencernaan makanan, peredaran darah, pernapasan, susunan alat-alat seksual, sistem perkelenjaran, susunan urat saraf, dan alat perasa yang lima; pelihat, pendengar, pencium, pengecap dan peraba. Kesemuanya itu merupakan tanda-tanda kesempurnaan ciptaan Allah, yang dengan akal budi bersujud dan kalbu tunduk dengan khusyuknya.

Semua makhluk yang hidup di muka bumi telah disempurnakan dan dikeseimbangkan penciptaannya, sehingga setiap makhluk dapat menjalankan fungsinya dengan mudah, tanpa mengalami kesulitan.

Unta, misalnya, telah diberi-Nya bentuk badan (postur) yang sesuai dengan cara memperoleh kemudahan di dalam mengambil makanan dan fungsinya sebagai kendaraan yang melakukan perjalanan jauh di padang pasir. Untuk itu, unta diciptakan-Nya dengan leher panjang agar dapat mengangkat kepalanya setinggi mungkin, sehingga dengan demikian dapat melindungi ke dua matanya dari debu pasir sahara. Ia diberi-Nya bibir terbelah untuk memudahkannya memungut tumbuhan berduri dengan mulutnya, tanpa bibirnya merasa kesakitan. Diberi-Nya ponok dipunggungnya, sebagai tempat menyimpan lemak, yang diperlukan bagi tubuhnya dalam melakukan perjalanan jauh di padang pasir yang kering. Kakinya tidak berujung dengan kuku, sebagaimana kaki kuda, keledai dan bagal. Sebab bila kaki unta berkuku, maka ujung kakinya tidak dapat memegang pasir yang diinjaknya, sehingga ia akan memperoleh kesukaran bila berkelana di padang pasir. Oleh sebab itu, maka ia diberi-Nya kaki bagaikan bersepatu, sehingga ia dapat melalui tanah pasir tanpa dikhawatirkan kakinya akan tenggelam di pasir. Sebab itulah maka pantas bila unta mendapatkan julukan “bahtera sahara”.

Unsur Ukuran yang Tepat dan Akurat

Membuat ukuran yang tepat dan akurat dalam suatu ciptaan ialah, menciptakan sesuatu menurut ukuran, timbangan, susunan dan perhitungan yang tepat. Sedemikian tepatnya, sehingga apa yang diciptakan itu serasi dengan lingkungan dan masanya. Dan dengan memperhatikan fungsinya (yang untuknya sesuatu itu diciptakan), agar terdapat keseimbangan yang sempurna antara semua makhluk yang ada. Dengan demikian, maka kehadiran semua makhluk itu berjalan dengan teratur.

Ukuran yang tepat ini merupakan fenomena umum alam raya, sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an. “… Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS. Ar-Ra’d: 8). “… Dan telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqaan [25]: 2). “ … Allah telah menjadikan ketentuan ukuran bagi segala sesuatu (yang diciptakan-Nya).” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 3). “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar [54}: 49). “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (QS. Al-Hijr [15]: 21).

Matahari, misalnya. Allah telah menyempurnakan penciptaan matahari, agar dapat menjalankan fungsi sebagai pemberi energi dan cahaya pada bumi. Allah menetapkan jalannya, sehingga ia selalu berada dalam garis edarnya, dengan demikian tidak akan membentur bintang yang lain. Jaraknya dari bumi ditentukan menurut ukuran yang tepat. Ia tidak boleh berada di jarak lebih dekat dari bumi. Sebab bila demikian, maka ia akan membakar semua yang hidup di muka bumi. Ia juga tidak boleh berada di jarak yang lebih jauh daripada yang ditentukan, sebab bila demikian, maka bumi dan segenap penghuninya tidak memperoleh suhu panas sebagaimana yang diperlukan, dan ini juga akan mendatangkan kematian pada makhluk yang hidup yang hidup di permukaan bumi.

Allah swt berfirman, “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (posisi-posisi), sehingga (setelah ia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaa Siin [36: 38-40).

Unsur Hidayah atau Tuntunan dan Bimbingan

Penciptaan segenap makhluk yang bertebaran di alam semesta ini membuktikan wujud Allah, eksistensi Allah. Membuat segala yang diciptakan sebaik-baik dan sempurna-sempurna ciptaan, agar dapat menjalankan fungsinya -sebagaimana mestinya- merupakan manifestasi tentang wujud Allah; eksistensi Allah.

Ada unsur yang lain lagi yang membuktikan wujud Allah, atau eksistensi Allah, yaitu unsur ‘hidayah’, atau tuntunan dan bimbingan. Sebagaimana semua makhluk di alam semesta ini telah diciptakan dengan bentuk dan rupa yang khas, agar dapat menyesuaikan dirinya dengan fungsi yang dipikulkan dan bentuk tubuhnya -baik fisik maupun non fisik- dapat memudahkan dalam menjalankan fungsinya, merekapun dituntun dan dibimbing ke arah tujuan yang oleh karenanya mereka diciptakan. Setiap makhluk diilhami petunjuk mengenai tujuan keberadaannya di alam semesta ini. Padanya dimudahkan jalan untuk mencapai kesempurnaan penuh, sesuai dengan dirinya. Itulah yang disebut “hidayah”, atau tuntunan dan bimbingan. Nilai hidayah mengungguli nilai-nilai ciptaan, kesempurnaan (dalam ciptaan) dan ketetapan ukuran. Hidayah adalah ilham atau hasil didikan. Dengan hidayah segala bentuk dan macam ukuran akan menjadi sempurna dan penciptaan akan menjadi lengkap.

Hidayah, atau tuntunan dan bimbingan itu adalah sesuatu yang sifatnya umum; universal. Diberikan pada semua makhluk di alam semesta ini, baik makhluk yang hidup dan bergerak, ataupun yang diam; baik yang bisu maupun yang berbicara; dan, baik yang berakal maupun yang tidak berakal.

Hidayah, atau tuntunan dan bimbingan yang dimaksudkan di sini bukanlah bimbingan khusus yang lazim diberikan kepada manusia yang mukallaf dan berakal, bukan pula macam bimbingan yang diberikan pada makhluk-makhluk yang hidup dan bergerak atas kehendak sendiri, seperti manusia dan binatang. Hidayah, atau tuntunan dan bimbingan yang dimaksud di sini ialah hidayah yang sifatnya umum; berlaku atas semua makhluk, yaitu hidayah, atau tuntunan dan bimbingan sebagaimana yang dimaksudkan oleh Musa a.s. ketika ditanya oleh Fir’aun, “Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?” Musa menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha [20]: 49-50).

Jadi, tiada sesuatu yang wujud di alam semesta ini, melainkan menerima (dari Allah) bentuk kejadiannya dan bimbingan (daripada-Nya). Keberadaan hidayah, atau tuntunan dan bimbingan itu dapat dideteksi pada semua makhluk yang hidup dan bergerak.

Semua binatang atau hewan telah diberi indera dan alat khas untuk membantu dalam kehidupannya, agar makhluk-makhluk itu dapat menunaikan tugas hidup yang dipikulkan padanya.

Burung elang misalnya, padanya diberikan mata, seolah-olah mata teleskopis, dengan itu ia dapat melihat mangsanya yang ada di darat atau di laut, walau ia terbang tinggi di angkasa. Adapun bagi serangga, kiranya ia mempunyai mata mikroskopis, entah berapa ukurannya.

Daya perasa pada manusia, secara intuitif, untuk kembali ke tempat asalnya sangat lemah, sebab ia dapat melengkapi daya perasaannya yang lemah itu dengan alat-alat pelajaran dan sebagainya. Tetapi pada burung merpati pos misalnya, daya perasa tersebut sangat kuat. Ia mampu menempuh perjalanan pulang ke tempat asalnya, dengan terbang berkilo-kilo meter, tanpa bantuan kompas, peta atau petunjuk lainnya sebagai pedoman arah terbangnya. Apabila ia bingung terhadap arah perjalanannya, maka ia melayang-layang sejenak, kemudian ia langsung terbang menuju tempat asalnya, tanpa tersesat jalan. Lebah terbimbing untuk mengenali sarangnya, sekalipun angin kencang menghapus semua petunjuk yang menuju ke sarangnya. Wallahu ‘alam bish-shawwab.

-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

-Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *