Oleh : Karsidi Diningrat
ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, yang suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.” (QS. Al-Qalam [68]: 11). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Kelak sesudahku benar-benar umatku akan diselimuti oleh fitnah-fitnah yang seakan-akan gelapnya malam; di zaman itu seseorang di pagi hari dalam keadaan mukmin, kemudian di sore harinya ia menjadi kafir; banyak kaum yang menjual agamanya dengan harta duniawi yang sedikit.” (HR. Hakim melalui Ibnu Umar r.a.).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Umatku ini dirahmati Allah dan tidak akan disiksa di akhirat, tetapi siksaan terhadap mereka di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, perselisihan, perseteruan dan musibah-musibah.” (HR. Abu Dawud). “Fitnah itu sedang tidur (reda) dan laknat Allah terhadap orang yang membangkitkannya.” (HR. Arrafi’i).
Sesudah Nabi Saw. wafat, umat Islam akan dilanda oleh banyak fitnah yang datang bergelombang dengan hebatnya. Apa yang telah diberitakan oleh Nabi Saw. ini benar-benar terjadi, di awali dengan terbunuhnya Khalifah Utsman r.a.
Menurut suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Nabi Saw. wafat, maka cincin cap kenabian diserahkan kepada khalifah pertama, yaitu Abu Bakar r.a. Setelah itu diserahkan kepada khalifah yang kedua, yaitu sahabat Umar bin Khathab, dan terakhir diserahkan kepada khalifah ketiga yaitu Utsman bin Affan r.a. Pada suatu ketika cincin itu terjatuh ke dalam sumur; setelah dicari dan airnya dikeringkan, ternyata cincin itu tidak ditemukan.
Nabi Muhammad Saw. telah bersabda, “Aku meminta tiga perkara kepada Rabbku, maka Dia memberiku hanya dua perkara sedangkan yang satu perkara lagi tidak Dia berikan. Aku meminta kepada Rabbku hendaknya Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik, maka Dia memenuhi permohonanku itu; dan aku meminta kepada Rabbku hendaknya Dia tidak membinasakan umatku dengan tenggelam (banjir), maka Dia memenuhi permintaanku itu; dan aku meminta kepada-Nya hendaknya Dia tidak menjadikan peperangan di antara sesama mereka, Dia menolak permintaanku itu.” (HR, Bukhari dan Muslim melalui Sa’d bin Abu Waqqaash r.a.).
Rasulullah Saw. telah bersabda, “ … dan janganlah berbicara dengan perkataan yang esok engkau akan meminta maaf karenanya …” (HR. Ahmad). Menjaga lidah dan mengawasinya, karena menjaga lidah adalah poros dan tiang segala urusan seorang hamba. Ketika hamba bisa mengendalikan lidahnya maka dia bisa mengendalikan seluruh anggota tubuhnya. Tetapi bila justru dirinya dikuasai oleh lidahya, dan tidak menjaga ucapannya dari perkataan yang rusak, maka itu menjadi perusak agama dan dunianya. Hendaklah kita tidak berkata melainkan pada perkara yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Dan hendaklah kita meninggalkan segala perkataan yang mengandung celaan dan berakhir dengan meminta maaf. Bila kita berkata-kata dengan ucapan ini kita akan dikuasai oleh ucapannya dan menjadi tawanannya, bahkan mungkin bisa menimbulkan bahaya yang tidak bisa kita perbaiki.
Dalam hadits lain disebutkan, “ … Dan Allah membenci bagi kalian menceritakan setiap yang didengar … “ (HR. Muslim). Dalam hadits ini Rasulullah Saw. menyebutkan salah satu perkara yang dibenci Allah bagi para hamba-Nya. Di antara perkara yang bertentangan dengan apa yang dicintai Allah atau menguranginya adalah menceritakan semua apa yang didengar dari orang lain, karena ia termasuk pemicu kebohongan, tidak adanya kepastian, dan keyakinan terhadap sesuatu yang tidak benar. Selain itu ia menjadi salah satu penyebab terjadinya fitnah, sibuk dalam perkara yang berbahaya dan lalai dari perkara bermanfaat. Sedikit sekali orang yang bisa selamat dari hal ini, bila ada rasa senang menceritakan semua yang didengar dari orang lain.
Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Kelak akan terjadi banyak fitnah; pada zaman tersebut orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri; dan orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan; serta orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.” (HR. Abu Hurairah r.a.).
Peperangan Antara Sesama Kaum Muslimin
Hadits ini menceriterakan tentang fitnah. Yang dimaksud dengan fitnah dalam hadits ini ialah peperangan yang terjadi di antara sesama kaum muslimin, seperti yang telah diterangkan dalam hadits sebelumnya, yaitu ketika Nabi Saw. memohon tiga perkara kepada Allah Swt. yang dua perkara dikabulkan, sedangkan yang ketiganya ditolak. Permintaan yang ketiga itu ialah agar jangan terjadi pertempuran di antara sesama mereka. Kelak sesudah Nabi Saw wafat akan terjadi banyak pertempuran atau perang saudara di kalangan kaum muslimin. Pada masa itu orang yang duduk lebih baik dari pada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.
Juga Rasulullah Saw. bersabda, “Kelak akan ada para pemimpin yang menguasai rezeki kalian; mereka berbicara kepada kalian tetapi mereka berdusta, dan mereka bekerja, tetapi mereka mencaci maki pekerjaan itu. Mereka selalu merasa tidak puas sebelum kalian menganggap baik perbuatan buruk mereka dan membenarkan kedustaan mereka. Maka berikanlah kepada mereka perkara yang hak selagi mereka rela dengan perkara yang hak itu (apabila mereka melampaui batas). Barang siapa terbunuh demi membela perkara yang hak, dia mati syahid.” (HR. Thabrani melalui Abu Sulalah).
Hadits ini termasuk ke dalam kelompok hadits yang menceritakan tentang fitnah yang akan menimpa kaum muslimin sesudah Nabi Saw. tiada. Kesimpulannya, kelak akan ada para pemimpin yang zalim, maka sampaikan terus olehmu perkara yang hak kepada mereka. Apabila mereka sampai membunuhmu, maka kamu mati sebagai syuhada (mati syahid), karena kamu membela perkara yang hak. Dan dalam hadits yang lain sebagai hadits tanda kiamat adalah Beliau Saw. bersabda, “Belum akan terjadi kiamat sehingga anak selalu menjengkelkan kedua orang tuanya, banjir di musim kemarau, kaum penjahat melimpah, orang-orang terhormat (mulia) menjadi langka, anak-anak muda berani menentang orang tuanya serta orang jahat dan hina berani melawan yang terhormat dan mulia.” (HR. Asysyihaab). Wallahu A’lam bish Bishawab.
-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.
-Mantan Ketua Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.







Komentar