oleh

Tidak Mustahil Keimanan Bercampur Perilaku Jahiliah  

Oleh: Karsidi Diningrat

RASULULLAH SAW. telah bersabda, “Iman ialah, hendaknya engkau percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan percaya pada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim melalui Umar ra.).  Dalam hadis lain disebutkan, “Islam dibangun di atas lima perkara yaitu, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; membayar zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan bershaum pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Ibnu Umar r.a.).

Iman, atau keimanan, atau akidah, ada kalanya bercampur dengan satu cabang atau lebih dari cabang-cabang ‘kufur’, atau dengan perilaku jahiliah atau dengan salah satu cabang nifak, atau kemunafikan. Iman itu adalah ucapan, perbuatan, dan niat; iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Kebenaran ini tertutup bagi banyak orang, baik pada masa dahulu maupun sekarang. Orang beranggapan bahwa seseorang itu mukmin murni atau kafir murni, tiada jalan tengah antara keduanya. Seseorang dianggap mukhlis dengan setulus-tulusnya, atau munafik. Dekat dari pendirian ini adalah faham yang mengatakan, orang itu muslim murni, atau jahiliah murni, tidak ada yang berdiri di tengah-tengah antara keduanya.

Itulah pandangan kebanyakan orang, karena kita hanya memandang kepada titik-titik yang paling ujung, yang saling berhadapan, tanpa memperhatikan titik-titik yang ada di tengah-tengah garis. Menurut mereka, sesuatu itu putih murni, atau hitam murni. Tidak ada sesuatu warna yang bercampur antara putih dan hitam. Tetapi dalam pandangan aliran Mu’tazilah bahwa jika orang mukmin melakukan dosa besar tidak disebut kafir mutlak atau mukmin mutlak, tetapi dinamakan orang fasik dan berada diantara dua kedudukan: manzilah bainal manzilatain.

Sifat-Sifat Iman Murni

Maka tidaklah mengherankan, bila kita menjumpai dalam masyarakat sekelompok orang, yang bila menemukan dalam diri seseorang atau dalam masyarakat hal-hal yang tidak bersesuaian dan berselarasan dengan sifat-sifat iman yang murni. Dan sebaliknya, pada diri orang atau masyarakat itu ditemukan beberapa tanda yang bebas bagi kemunafikan, atau beberapa ciri kekafiran atau beberapa aspek yang menjadi ciri moral jahiliah. Maka dengan cepat mereka menghukum orang atau masyarakat itu sebagai orang atau masyarakat kafir, munafik besar, atau bermoral jahiliah. Vonis ini bersumber dari kepercayaan mereka, bahwasanya iman atau kepercayaan tidak mungkin dicampuri oleh sedikitpun kekafiran, atau kemunafikan dalam bentuk apapun. Islam dan perilaku jahiliah adalah dua lawan yang tak dapat bertemu.

Pandangan seperti itu benar, apabila yang diperhatikan hanya ujung-ujung yang ekstrem, yaitu dekat dari segi Iman yang sempurna dan kekafiran penuh. Atau dari Islam yang sempurna dan perilaku jahiliah yang menyeluruh. Atau dari segi Iman yang lengkap dan kemunafikan yang lengkap pula.

Tetapi kalau berbicara hanya mengenai iman secara umum dan kekafiran secara umum pula atau iman secara umum dan kemunafikan secara umum, atau Islam secara umum dan perilaku jahiliah secara umum, maka kedua hal itu dapat saja bercampur. Sebagaimana dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw berkata kepada Abu Dzar ra, “Kamu seorang yang dalam dirimu terdapat kejahiliyahan.” Ini dikatakan Nabi terhadap Abu Dzar, yang terkenal dengan keterdahuluannya dalam masuk Islam, kejujurannya serta keikhlasan dan ketaqwaannya. Ibnu Mas’ud berkata yang maksudnya, bahwa perbuatan-perbuatan destruktif menumbuhkan kemunafikan, sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur. Kaum salaf mengatakan bahwa di dalam hati dapat bersemayam iman dan nifak bersama-sama.”

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Barang siapa memisahkan diri dari Jama’ah sejengkal kemudian dia mati maka matinya adalah (mati) jahiliah.” (HR. Mutafaq ‘alaih melalui Ibnu Abbas). Dalam suatu riwayat disebutkan, “Ummat Muhammad Saw di atas kesesatan. Tangan Allah bersama Jama’ah. Barang siapa menyempal maka dia menyempal ke neraka.” (HR. At-Tarmidzi). Dan juga dalam hadist lain disebutkan, “Barang siapa mati, sedang ia tak pernah berjuang di medan jihad. Dan tak pernah berangan-angan untuk ikut berjihad, maka ia mati dalam salah satu cabang dari cabang-cabang kemunafikan.”

Ada Empat Jenis Hati

Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda, “Ada empat jenis hati; ada hati yang tertutup, yaitu hati orang kafir; yang kedua hati berlapis kufur, yaitu hati orang munafik; ketiga hati yang polos, padanya sebuah pelita yang memancarkan cahaya cemerlang, itulah hati orang mukmin; dan keempat hati yang mengandung iman dan nifak. Perumpamaan iman pada hati tersebut, seperti sebatang pohon yang selalu menerima siraman air yang baik, sedang perumpamaan nifak pada hati tersebut adalah seperti bisul yang berisi nanah dan darah busuk. Yang mana di antara kedua itu (yakni iman dan nifak) mengalahkan yang lain maka menanglah ia (atas lawannya).” (HR. Abu Dawud melalui Hudzaifah bin Yaman r.a.).

Menurut Ibnu Taimiyah berkata, Hadis ini menafsirkan pengertian yang terkandung dalam Firman Allah, “Agar Allah mengetahui siapa yang munafik; apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kita berperang di jalan Allah atau mari kita pertahankan, “Mereka menjawab, “Kalau kami mengetahui akan terjadi perang pasti kami akan bersama kamu.” Saat itu mereka lebih dekat kepada kekufuran dari pada keimanan.” (QS. Ali Imran [3]: 167). Firman Allah di atas itu menunjuk pada sikap orang-orang munafik pada hari perang Uhud. Semula kemunafikan mereka lemah, karena dikalahkan oleh keimanan. Tetapi pada hari perang Uhud itu, kemunafikan mereka menang atas keimanan mereka, sehingga pada hari itu mereka lebih dekat pada kekafiran daripada keimanan.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Hati ini diciptakan dengan fitrah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berkuat buruk terhadapnya,” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Mas’ud r.a.). Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin Mubarak meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa ia berkata, “Iman itu terlihat sebagai bintik putih di hati.” Makin bertambah iman seseorang hamba Allah, maka makin bertambah bintik-bintik putih pada hatinya, sehingga bila iman telah terjadi sempurna, maka seluruh hati itu menjadi putih.

Bercak Hitam di Hati

Adapun nifak (kemunafikan) terlihat sebagai bercak hitam di hati. Makin bertambah kemunafikan seorang hamba Allah, maka makin bertambah bercak hitam dihatinya, sehingga apabila kemunafikan orang itu menjadi lengkap, maka menjadi hitamlah hatinya (karena penuh dengan bercak-bercak hitam itu). Rasulullah menyatakan dengan tegas, ‘Demi Allah, sekiranya kalian membelah hati seorang mukmin, kalian akan mendapatinya putih. Sebaliknya, bila kalian membelah hati orang kafir, kalian akan mendapatinya hitam’.

Nabi Saw. menerangkan bahwa barang siapa yang dalam hatinya bersemayam satu cabang dari cabang-cabang nifak, maka hatinya pada hakekatnya, telah mengandung satu cabang dari cabang-cabang kemunafikan, sampai ia meninggalkannya. Cabang kemunafikan yang ada dalam hati itu, adakalanya disertai oleh beberapa cabang iman. Hal ini sesuai Sabda Rasulullah Saw, “Akan keluar dari neraka orang yang dalam hatinya terdapat iman, sekalipun seberat zarah.” Dengan ini dapat diketahui bahwa barangsiapa mempunyai iman, sekalipun sangat sedikit, ia tidak akan kekal dalam neraka, walau hatinya mengandung kadar kemunafikan yang tak kecil. Ia akan menjalani masa hukumannya dalam neraka, kemudian ia dikeluarkan dari padanya.

Banyak Hadis yang menyatakan bahwa seseorang dapat memperoleh siksaan dari Allah (karena kemaksiatannya), tetapi kemudian dikeluarkan dari neraka dan kemudian dimasukan ke surga (karena amalan-amalan yang baiknya). Hal itu menunjukkan bahwa dalam diri sorang seorang berkumpul maksiat dan ketaatan. Sebagaimana dalam suatu riwayat, “Barang siapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah maka ia akan memperoleh keridhoan Allah.” Dan dalam hadis yang lainnya dinyatakan, “Tiada seorang berzina selagi dia mukmin, tiada seorang mencuri selagi dia mukmin, dan tiada seorang minum khamar pada saat minum dia mukmin.”

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. tidaklah melihat kepada bentuk-bentuk kalian, dan tidak kepada kedudukan kalian, serta tidak pula kepada harta benda kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Thabrani). Dalam hadis lain disebutkan, “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Thabrani).  Hadis ini menafsirkan pengertian yang terkandung dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Dalam hadis lain disebutkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh itu terdapat segumpal darah, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah, hal itu adalah hati.” Dan dalam hadis lainnya disebutkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda seraya mengisyaratkan ke arah dadanga, “Taqwa itu terletak di sini”, yang dimaksud ialah di dalam hati. Wallahu alam bish-shawwab.

-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *