Oleh : Karsidi Diningrat
SECARA sederhana dapat disebutkan bahwa asal usul manusia dari tanah. Adam diciptakan dari tanah, sementara anak cucunya dari saripati (ekstrak) tanah yang terkandung dalam spermatozoa dan ovum. Pada penciptaan awal, manusia dibentuk dari tanah yang digunakan al-Qur’an, yaitu turaab, diartikan sebagai tanah atau partikel debu tanah, tin yang diartikan sebagai tanah liat (lempung) atau ekstrak tanah liat, hama’in masnuun dimaknai sebagai lumpur hitam yang pekat, dan term salsaat yang diartikan sebagai bentuk tembikar kering sebelum proses pembakaran.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya seseorang di antara kalian penciptaan dirinya dihimpun dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah (air mani), kemudian ia menjadi ‘alaqah dalam masa yang sama, lalu berubah menjadi segumpal daging dalam masa yang sama pula. Setelah itu Allah mengutus malaikat kepadanya dengan membawa perintah Allah untuk menuliskan empat kalimah. Allah memerintahkan kepada malaikat: “Catatlah amal perbuatannya, rezekinya, dan ajalnya lalu apakah dia orang yang celaka atau berbahagia: ”Kemudian ditiupkan roh ke dalam tubuhnya. Sesungguhnya seseorang di antara kalian benar-benar mengerjakan perbuatan ahli surga hingga tiada jarak antara dirinya dengan surga kecuali hanya sejengkal, tetapi catatan takdir telah mendahuluinya, lalu ia mengerjakan perbuatan ahli neraka, akhirnya ia masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang mengerjakan perbuatan ahli neraka, hingga tiada jarak antara dia dan neraka kecuali hanya sejengkal, tetapi catatan takdir telah mendahuluinya, lalu ia mengerjakan perbuatan ahli surga, akhirnya ia masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini sangat menimbulkan ketakutan hati orang-orang yang baik amalannya dan taat kepada Allah Swt., apalagi bagi orang-orang durhaka yang selalu mengerjakan perbuatan jahat, dan hadits ini merupakan penafsiran dari apa yang terkandung dalam firman-Nya, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu lalu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun [23]:12-14).
Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina (mani), kemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka (Kamilah) sebaik-baik yang menentukan.” (QS. Al-Mursalaat [77]: 20-23).
Kemudian bagian terakhir dari hadits ini menjelaskan tentang takdir yang telah dipastikan oleh Allah Swt. terhadap setiap orang. Apabila catatan takdir seseorang memastikannya sebagai ahli surga, maka dirinya terdorong untuk mengerjakan amalan-amalan ahli surga. Dan apabila catatan takdir memastikannya perbuatan-perbuatan ahli neraka, maka dirinya terdorong untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan ahli neraka. Beriman kepada taqdir artinya ialah kita yakin dan percaya bahwa sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi adalah dari kehendak, kekuasaan dan ketentuan Allah semata, segala sesuatu terjadi atas taqdir Allah belaka.
Mengakui Keesaan dan Ketuhanan Allah Swt
Allah Swt., pernah mengeluarkan semua zurriyat Adam ini dari tulang punggungnya, setelah Dia menyimpan mereka di sana, pada hari Mitsaaq (hari pengambilan janji) sekalian manusia untuk mengakui keesaan dan ketuhanan Allah subhanahu wa ta’ala, sesuai dengan firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukanlah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi,” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A’raf [7]: 172).
Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang janji yang dibuat pada waktu manusia dilahirkan dari rahim orang tua (ibu) mereka, secara turun temurun, yakni Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah menyuruh roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesaan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna, dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem urat syaraf yang mengagumkan, dan sebagainya. Berkata Allah kepada roh manusia “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Maka menjawablah roh manusia, “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan.” Jawaban ini merupakan pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha Esa, yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia.
Dengan ayat ini Allah bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia itu dilahirkan dari rahim orang tua mereka ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah pada kejadian mereka sendiri.
Allamah Sayyid Abdullah Haddad mengatakan di dalam hadits atau atsar, tersebut suatu riwayat bahwasanya setelah Allah Swt. mengambil perjanjian dari keturunan Adam a.s., dituliskan-Nya bagi mereka suatu catatan, lalu disimpan-Nya pada Hajarul-aswad. Oleh karena itulah Jama’ah Haji ketika mencium Hajaraul-aswad sesudah selesai tawaf di Baitul-Atiq (Ka’bah), membaca bacaan berikut, “Ya Allah, ya Tuhanku! Ini demi memenuhi keimananku dan menunaikan janjiku kepada-Mu, serta lebih meyakini Kitab-Mu!”
Tidak syak lagi, pengakuan ini menunjukkan bahwasanya zurriyat Adam itu sudah memiliki wujud dan pendengaran, akan tetapi mereka berada di dalam tingkatan wujud yang lain, bukan pada tingkatan wujud seperti yang tampak di dunia ini, karena tingkatan-tingatan wujud itu banyak sebagaimana yang telah diketahui oleh para ahli mengenai hal ini.
Manusia Menerima Amanah
Manusia adalah makhluk sentral di planet ini. Selain penciptaannya paling sempurna dan seimbang, makhluk-makhluk lain yang ada seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan diciptakan untuk kepentingan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hak pemakmuran dan pengelolaan bumi beserta isinya diberikan kepada manusia sebagai konsekuensi logis atas kesediaannya memangku amanah Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72).
Karena adanya amanah ini manusia derajatnya dapat naik lebih tinggi di atas makhluk malaikat, sebab dia merupakan makhluk yang sanggup mengetahui baik dan buruk, yang dengan itu manusia menjadi lebih di atas orang yang melakukan kebaikan semata, tetapi tidak sanggup berbuat lain daripadanya dan tidak pula tahu sebaliknya. Oleh karena itu adanya beban-beban tugas-tugas keagamaan (amanah) seperti ini menyebabkan manusia bisa jatuh pada perbuatan sesat dan negatip seperti halnya perbuatan setan.
Sesungguhnya Allah telah menawarkan tugas-tugas keagamaan kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Karena ketiganya tidak mempunyai persiapan untuk menerima amanat yang berat itu, maka semuanya enggan untuk memikul amanat yang ditawarkan Allah itu.
Kemudian amanat untuk melaksanakan tugas-tugas keagamaan itu ditawarkan kepada manusia dan mereka menerimanya dengan konsekuensi barang siapa yang melaksanakan ini akan diberi pahala dan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, barang siapa yang mengkhianatinya akan disiksa dan dimasukkan ke dalam api neraka. Walaupun bentuk badannya lebih kecil dibandingkan dengan ketiga makhluk yang lain (langit, bumi, dan gunung-gunung), manusia berani menerima amanat tersebut karena manusia mempunyai potensi. Tetapi, karena pada diri manusia terdapat ambisi dan syahwat yang sering mengelabui mata dan menutup pandangan hatinya, Allah menyifatinya dengan amat zalim dan bodoh karena kurang memikirkan akibat-akibat dari penerimaan amanat itu.
Sebagai pemangku amanah wajar apabila ia diberi berbagai keistimewaan hidup, dilengkapi berbagai instrumen pada dirinya untuk memudahkannya dalam tugas, seperti indra, akal, dan kalbu. Dengan pemanfaatan secara baik instrumen-instrumen itu sesuai dengan tuntutan Allah subhanahu wa ta’ala, maka label zalim dan bodoh dengan sendirinya tereduksi atau tereliminasi sama sekali. Sebaliknya, apabila instrumen itu tidak dimanfaatkan untuk kebaikan maka label itu akan tetap melekat pada dirinya, bahkan istilah yang digunakan Al-Qur’an adalah ‘laksana binatang ternak bahkan lebih rendah (lebih dungu) dari itu’.
Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna dan paling baik struktur tubuhnya, maka setiap individu harus mengupayakan secara maksimal agar memiliki tingkat keagamaan yang baik pula. Sebab kalau tidak, maka ia akan mengalami degradasi, meluncur hingga strata lebih rendah daripada hewan melata. Pada situasi ini, kesempurnaan kejadian dan struktur tubuh yang baik tidak lagi memiliki makna apa-apa apabila tidak dibarengi dengan tingkat keagamaan yang tinggi pula. Wallahu a’lam bish-shawwab.
-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.







Komentar