oleh

Bukti-Bukti Mengenai Eksistensi Allah (I)

Oleh : Karsidi Diningrat

EKSISTENSI Allah swt. adalah hakikat dan kebenaran yang pertama, terbesar dan paling menonjol. Kesadaran akan eksistensi Allah itu dituntut oleh fitrah (naluri) manusiawi dan akal pikiran yang sehat secara logis. Kesadaran akan eksistensi Allah ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan, wahyu dan sejarah.

Orang-orang yang membantah akan eksistensi Allah tidaklah besar jumlahnya, mereka hanyalah golongan minoritas yang keblinger. Golongan ini ada di setiap jaman, dan sebagian besar terdiri dari orang-orang yang telah terjerumus ke dalam hawa nafsu dan dikuasai oleh tabiat pembawaan yang rendah.

Dekadensi moral dan penyimpangan dari naluri insaniah itulah yang mendominasi mental mereka. Mereka manifestasikan dalam bentuk atheisme atau ketidakpercayaannya akan eksistensi Allah, agar mereka tidak dituntut pertanggungjawaban oleh siapa pun atas perbuatan-perbuatan rendah mereka dan mereka sendiri pun tidak merasa perlu mengoreksi diri. Maka, tidak mengherankan sebagian ahli pikir menyatakan bahwa, “Atheisme yang demikian itu adalah atheisme perut dan pelampiasan syahwat, bukan atheisme hasil akal dan pemikiran.”

Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa mereka pertama-tama menjatuhkan dirinya ke jurang amoralitas, kemudian mengingkari adanya Allah. Dengan meminjam pendapat para pakar ilmu psikologi, maka dapat dikatakan bahwa mereka yang ingkar akan eksistensi Allah itu tidak lain hanyalah merupakan suatu bentuk tipu muslihat yang timbul tanpa kesadaran, dan hal itu mereka jadikan semacam tempat perlindungan untuk membenarkan penyelewengan mereka dari jalan yang benar dan membela dekadensi akhlak mereka serta untuk menutupi kelemahan diri mereka dalam menghadapi syahwat hawa nafsu dan kelezatan hidup.

Unsur Fitrah atau Naluri Insaniah

Yusuf Al-Qardhawi mengatakan bahwa “Bukti paling awal mengenai eksistensi Allah swt. bukan di luar diri manusia, tetapi berada di dalam diri manusia itu sendiri, yaitu pembawaan asli yang diciptakan Allah pada manusia, yakni perasaan alami yang tajam, yang merasakan bahwa di balik segala yang ada di alam semesta, yang bersifat terbatas dan berkesudahan ini, ada suatu Dzat yang maujud, yang tidak terbatas dan tidak berkesudahan, yang mengawasi segala sesuatu, mengurus dan mengatur segala yang ada di alam semesta, yang diharapkan kasih sayang-Nya, dan ditakuti kemurkaan-Nya. Dia Dzat yang diagungkan dan dituju”.

Ibnu Taimiyah mengemukakan banyak dalil tentang kebenaran adanya pengakuan manusia secara fitrah tentang Penciptanya ini, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah dan dijelaskan dalam banyak aspek. Di antaranya dia mengatakan, “tidak mungkin bagi jiwa untuk lepas dari perasaan terhadap Penciptanya dan dari perasaan tentang keberadaan-Nya. Demikian itu karena setiap jiwa selalu berkehendak dan merasa. Selama jiwa ini masih berkehendak, pasti ada tujuan yang dirasakan dan ingin dicapainya. Setiap jiwa mempunyai keinginan yang banyak dan bermacam-macam, hanya saja karena banyaknya dan bermacam-macamnya keinginan itu, maka akhirnya pasti akan berhenti pada satu keinginan yang terfokus padanya bukan kepada yang lain. Keinginan yang satu itu adalah Allah. Dialah yang selalu diinginkan hati dan dicari jiwa, …. Maka dari itu jiwa tahu bahwa seandainya di dunia ini ada banyak Tuhan, tentu langit dan bumi sudah hancur.”

Perasaan tersebut bersumber dari lubuk hati yang dalam. Dari perasaan itulah manusia menerima segala yang dia harapkan, bukan dari akal budinya saja dan bukan dari hati sanubarinya semata. Perasaan yang dirasakan oleh manusia tanpa dipelajari, diajarkan kepadanya atau diperoleh dari luar.

Seorang ahli pikir terkenal. Descartes (1596-1650), mengungkapkan perasaan yang timbul dari naluri insaniah itu dengan perkataan, “Saya, dengan kesadaran sendiri mengakui tentang kekurangan yang ada pada diri saya, pada waktu yang sama merasa akan adanya Dzat yang sempurna. Saya yakin dan percaya, bahwa perasaan tersebut ditanamkan dalam diri saya oleh Dzat yang sempurna dan yang menyandang segala sifat kesempurnaan itu. Dzat itu adalah Allah.”

Dinding yang Menghalangi untuk Makrifat kepada Tuhan

Makin sehat naluri seseorang dan makin bersih jiwanya, maka makin tipis pula dinding yang menghalangi untuk makrifat kepada Tuhan dan makin terbuka mata hatinya. Dia akan melepaskan diri dari daya tarik tanah untuk terbang tinggi ke langit jiwa. Dalam keadaan yang demikian itu, dia akan merasa bahwa ekistensi Allah menggenangi segenap penjuru dirinya. Dia akan merasa bahwa dia tidak memerlukan bukti akan kewujudan Tuhannya. Dia akan merasa bahwa adanya Allah lebih jelas dan terang dari segalanya. Bahkan adanya Allah itu sendiri yang merupakan bukti akan adanya segala yang maujud. Allah swt berfirman, “Tidaklah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat [41]: 53).

Imam Al-Ghazali menyebutnya Wujud Hissi (Perasaan) adalah suatu wujud yang bisa dipresentasikan atau dijelmakan dengan kekuatan indera mata, yang sebenarnya sesuatu yang dijelmakan itu tidak memiliki wujud di luar mata, tapi ia bisa wujud dalam perasaan, sehingga hanya khusus dirasakan oleh perasaan saja. Ini seperti wujud yang disaksikan oleh orang yang sedang tidur, bahkan seperti juga yang disaksikan oleh orang yang sedang sakit dan dalam kondisi sadar, karena kadang-kadang terbayang suatu bentuk dalam halusinasinya, dimana bayangan itu semestinya tidak memiliki wujud konkret di luar perasaannya, sehingga bisa disaksikan seperti benda-benda lain yang memiliki wujud di luar perasaannya.”

Seorang lelaki bertanya kepada Ja’far Ash-Shadiq tentang ‘Allah’. Ja’far menjawab: “Pernahkah Anda berlayar di laut?”  “Pernah”, jawab orang itu. Ja’far meneruskan, “Pernahkah kapal Anda ketika berada di tengah laut diserang angin topan?” “Pernah”, jawabnya. Lalu Ja’far melanjutkan, “Ketika hal itu terjadi, tentunya Anda tidak menaruh lagi harapan pada para anak buah kapal bahwa mereka akan dapat menolong Anda dari bencana; segala jalan yang dapat membawa keselamatan terputus, bukan?” “Benar”, kata orang itu. Ja’far berkata, “Apakah di saat itu terlintas dalam benak pikiran dan ada perasaan dalam hati Anda, bahwa ada Dzat yang dapat menyelamatkan Anda, bila Ia berkehendak?” “Memang benar, demikianlah yang terlintas dalam pikiran dan yang saya yakini dengan sebenarnya”, kata orang itu. “Nah”, kata Ja’far. “Itulah Dia, Allah.”

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa, “untuk membuktikan tentang wujud Allah ditempuh dengan dua metode (cara), yang salah satunya adalah Al-Mauqif Adz-Dzzati adalah kembali kepada kemurnian fitrah yang secara alami menegaskan tentang adanya Tuhan Yang Maha Mencipta. Demikian itu karena setiap jiwa butuh kembali kepada kekuatan tertinggi yang dijadikan sebagai sandaran dan tempat kembali pada saat terkena musibah, Jiwa siapa saja membutuhkannya, baik orang yang beriman maupun kafir. Jiwa manusia ketika tertimpa musibah atau bahaya pasti membutuhkan kekuatan tertinggi yang dijadikan sebagai sandaran melalui doa dan meminta pertolongan agar dihindarkan dari musibah dan bahaya tersebut”.

Al-Qur’an telah mengarahkan pandangan agar mengakui adanya fitrah ini, yang tertuang dalam bentuk pertanyaan sekaligus penetapan, “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml [27]: 62).

Unsur Mengenal Allah

Untuk mengenal Tuhannya Islam, maka kita harus mengenal ciptaan-Nya. Pencipta dikenal melalui ciptaan-Nya. Karena Tuhan Maha Pencipta, maka untuk mengenal Tuhan, kita harus mengenal ciptaan-Nya.

Allah menciptakan makhluk-Nya agar mereka bisa mengenal-Nya. Hal itu bisa dilakukan melalui perantara asma’ al-husna dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, sempurna, dan jauh dari segala kekurangan. Jika mereka mengenal-Nya dengan baik, mereka hanya akan beribadah, mendekatkan diri, dan memuji kepada-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 12).

Yusuf Al-Qardhawi dalam menafsirkan ayat ini, “sebab (ta’lil) yang ada dalam kata “agar kamu mengetahui” menunjukkan bahwa penciptaan dunia ini bertujuan untuk mengetahui Allah. Baik hal itu diketahui melalui perantara nama ataupun sifat-sifat-Nya, yang dalam hal ini disebut dengan kemampuan dan ilmu yang absolut … ketika menfasirkan ayat “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku,” sebagian ulama salaf ada yang menafsirkan dengan “Agar mereka mengetahui-Ku.”

Ibn Abbas mengatakan, bahwa suatu hari seorang badui datang kepada Rasulullah Saw. Badui itu berkata, “Wahai Rasulullah! Ajari aku pengetahuan yang paling luar biasa!” Rasul bertanya, “Manfaat apa yang dapat engkau petik dari puncak pengetahuan sehingga engkau kini menanyakan pengetahuan yang paling luar biasa?” Si Badui bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa itu puncak pengetahuan?” Rasul saw. menjawab, “Puncak pengetahuan adalah mengenal Allah sebagaimana Dia patut dikenal.” Si Badui lalu berkata, “Mana mungkin Dia dikenal sebagaimana semestinya?” Rasulullah saw. menjawab, “Yaitu engkau mengenal bahwa tak ada contoh untuk-Nya, tak ada bandingan untuk-Nya, tak ada lawan untuk-Nya, dan bahwa Dia satu: Dia nyata dan sekaligus gaib, pertama sekaligus terakhir, tak ada bandingan dan tak ada yang menyamai; inilah sebenar-benar pengetahuan tentang Dia.”

Salah jalan dalam mengenal Allah merupakan penyebab utama kenapa banyak orang tidak benar keimanannya kepada Allah. Al-Qur’an menuturkan kisah-kisah tentang orang-orang yang tidak beriman kepada Allah disetiap zaman dan masa. Kisah-kisah itu memperlihatkan betapa orang-orang seperti itu bersikeras bahwa mereka baru akan beriman kepada Allah kalau mereka mendengar dan melihat-Nya. Mereka mengandalkan pancaindra.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami, atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.” (QS. Al-Baqarah [2]: 118).

Unsur Ciptaan Allah

Mengenai masalah pembuktian tentang adanya Allah dengan tanda-tanda kekuasaan ini, kita dapati Al-Qur’an telah memaparkan di hadapan manusia tanda-tanda yang sangat jelas dan gamblang dalam pembuktiannya, yaitu tentang tanda-tanda penciptaan dari ketiadaan. Karena tanda-tanda penciptaan merupakan tanda paling kuat yang menunjukkan atas adanya Pencipta. Tanda-tanda penciptaan bersifat fitri dan sudah diketahui oleh akal, sehingga dengannya bisa dijadikan bukti atas adanya sang Pencipta.

Segala yang ada di alam semesta ini, yang tak terhingga luas dan besarnya, apabila ia direnungi manusia dengan semestinya, maka alam maujud ini akan menuntun seseorang itu pada tali Allah swt., dan akan menunjukkan kepadanya eksistensi Allah, bahkan akan memberinya keyakinan akan keesaan Allah, kekuasaan-Nya atas segala yang ada di alam semesta ini, serta pengaturan-Nya akan kehidupan dan perjalanan semua makhluk yang ada di langit dan bumi. Orang itu bahkan akan dituntun pada pengetahuan bahwa Tuhannya pasti mempunyai Nama-nama yang Maha Indah dan sifat-sifat yang Maha Tinggi.

Yang dimaksudkan dengan “menciptakan” ialah mengadakan, menjadikan dan mewujudkan dari keadaan ‘tidak ada’ menjadi keadaan ‘ada’. Hanya Allah sajalah yang menciptakan dari ketiadaan. Dia, dan hanya Dia, Sang Pencipta, sedangkan selain-Nya adalah ciptaan-Nya. Segala yang ada di alam semesta ini, bintang-gemintang dan berbagai konstelasinya, bumi dan gunung-gunungnya, lautan, sungai-sungai, tumbuhan, makhluk kecil atau besar, dan manusia yang hidup di muka bumi, semuanya adalah makhluk-Nya. Firman Allah tentang hal ini banyak jumlahnya, antara lain:

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Kami bangun atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah; supaya Kami tumbuhkan dari air itu biji-bijian, tumbuh-tumbuhan dan kebun-kebun yang lebat.” (QS. An-Naba’ [78]: 6-16).

Allah Ciptakan Langit Bertingkat-Tingkat

Allah swt juga berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari Kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh [71]: 15-18). Juga dalam (QS. Al-Baqarah [2]: 164). (QS. Al-Waqi’ah [56]: 58-72).

Dari ayat-ayat tersebut, maka semua itu tidak ada sesuatu yang tidak jelas bagi orang yang mau merenungkan dengan kemampuan intelegensinya yang minim sekalipun, tentang kandungan ayat-ayat tersebut, kemudian dia mau melihat berbagai keajaiban ciptaan Allah di bumi dan di langit, dan berbagai bentuk keindahan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang diciptakan oleh Allah. Maka akan jelas sekali masalah yang cukup menakjubkan dan tersusun secara rapi dan kokoh ini, tidak bisa lepas dari adanya Sang Pencipta Yang mengaturnya, dan Sang Pelaku Yang menentukan dan menakdirkannya. Bahkan fitrah jiwa manusia hampir mampu menyaksikan bahwa semua itu tunduk di bawah kekuasaan dan pengelolaan Sang Penciptanya. Oleh karena itu Allah swt. berfirman, “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta Langit dan bumi? …” (QS. Ibrahim [14]: 10). Wallahu ‘alam bish-shawwab.

-Dosen Aqidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *