oleh

Beriman kepada Kitab-Kitab Allah (Bagian II)

Oleh : Karsidi Diningrat

SYAIKH Said bin Ali Al-Qahthani mengatakan, “gambaran paling buruk lagi adalah pengakuan dari para dukun mereka – yang tercantum dalam Taurat sekarang – bahwa Harun a.s. telah memerintahkan kepada kaum Bani Israil untuk mengumpulkan emas yang akan dijadikan patung anak sapi sebagai objek sesembahan mereka kepada selain Allah. Anehnya, mereka sama sekali tidak melibatkan As-Samiri.” Bahkan selain itu, “Harun juga dituduh sebagai penghambat jalan agar Fir’aun tidak mengakui tauhid, bahkan ia mengajaknya untuk kafir dan musyrik.”

Namun, Allah telah berfirman menyanggah semua tuduhan tidak mendasar itu dan kembali menempatkan permasalahan pada proporsi yang sebenarnya, “… dan demikian pula Samiri melemparkannya. Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lubang itu)  anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata, ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tapi Musa telah lupa.’ Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemadaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan? Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya, ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Rabbmu ialah Yang Maha Pemurah. Maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. Mereka menjawab, ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” (QS. Thaha: 87-91).

Itulah kebenaran hakiki Al-Qur’an yang menerangkan bahwa As Samiri dan pengikutnyalah yang telah membuat patung emas anak sapi. Adapun Harun a.s. justru merelarang mereka, tapi mereka menentangnya, bahkan Harun nyaris terbunuh karena ini.

Penyimpangan Kaum Yahudi terhadap Kitab Taurat

Diantara perubahan yang dilakukan kaum Yahudi terhadap Taurat adalah memutarbalikan kata, yang tujuannya untuk mengecoh orang lain ketika membacakan firman Allah tersebut. Dengan demikian, makna dari ayat tersebut bisa menyimpang dari yang sebenarnya. Kemudian dengan seenaknya mereka mengganti kata-kata tersebut, sebagaimana firman Allah, “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 75).

Dalam Firman-Nya yang lain disebutkan, “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar’, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): ‘Dengarlah’ semoga kamu tidak dapat mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): ‘Ra’ina’, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami’, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali Iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisaa [4]: 46).

Penyimpangan Kaum Nashrani terhadap Kitab Injil

Para Ahli Kitab telah menyembunyikan hukum-hukum yang ada dalam Taurat, di samping hal-hal lain yang juga mereka sembunyikan. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”. (QS. Al-Maaidah [5]: 15.

Sebagai contoh penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nashrani terhadap agama mereka adalah kaum Yahudi mendakwahkan Uzair sebagai anak Allah SWT, sedang kaum Nashrani mendakwakan Isa Al Masih juga sebagai anak Allah, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firman-Nya, “Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang Nashrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikianlah itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allahlah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling”? (QS. At-Taubah [9]: 30).

Dan termasuk juga penyimpangan yang direka-reka oleh kaum Nashrani adalah seperti yang diberitakan oleh Allah SWT bahwa mereka telah mendustakan hakekat kenabian, mereka semua telah menuhankan Isa bin Maryam dengan konsep akidah palsunya yang disebut dengan ungkapan Trinitas atau Tri Tunggal.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam’, padahal Al Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabb-ku dan Rabb-mu”. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidaklah ada ilah selain dari ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maaidah [5]: 72-73).

Maka datanglah Al-Qur’an yang mulia, yang membeberkan adanya penyimpangan itu, membatalkannya, serta menunjuki manusia kepada akidah yang lurus yang selamat dari tuduhan orang terhadap Isa dan ibunya. Allah berfirman, “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua duanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS. Al-Maaidah [5]: 75).

Al-Qur’an Terjaga Keutuhannya

Suatu kenyataan bahwa di atas bumi ini tidak ada suatu kitab pun yang sampai detik ini masih tetap terjaga keutuhannya tanpa adanya suatu perubahan dan penyimpangan seperti Al-Qur’an. Al-Qur’an yang selalu terpelihara keutuhannya itu.

Dr. Muhammad Na’im Yasin mengatakan bahwa, “Kitab-kitab yang turun sebelum Al-Qur’an telah hilang naskah aslinya, dan tidak satupun yang masih tersisa di tangan manusia kecuali sekedar terjemahannya belaka. Adapun Al-Qur’an senantiasa utuh isinya dan terpelihara dari penyimpangan-penyimpangan baik mengenai surat-suratnya, ayat-ayatnya, kalimat-kalimatnya, bahkan harakatnya. Semuanya masih sama persis dengan yang dibacakan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW, dan seperti yang dibacakan Rasulullah SAW kepada para sahabat yang diridhai Allah.”

Abu Ala Al-Maududi mengatakan bahwa, “Dalam kitab-kitab tersebut (sebelum Al-Qur’an) telah terjadi pencampur-adukan antara Kalamullah dengan ucapan-ucapan manusia, baik dalam hal penafsirannya, sejarahnya, sirah para nabinya, murid-murid mereka, dan pemikiran-pemikiran fuqahanya. Sudah tidak dikenali lagi mana yang di dalamnya merupakan Kalamullah dan mana yang merupakan kalam manusia, semuanya sudah kacau balau. Adapun Al-Qur’an, seluruh kandungannya merupakan Kalamullah, tidak sedikitpun tercampuri oleh hadis Rasulullah SAW, atau ucapan para sahabat, atau oleh yang lainnya.”

Berkata Abul Wafa’ Ali Ibnu Aqil, “Jika anda bermaksud untuk memastikan bahwa Al-Qur’an itu bukan perkataan Rasulullah SAW, maka pembuktiannya cukup dengan mempertemukan ucapan Rasul dengannya (Al-Qur’an). Perhatikanlah perkataan-perkataan beliau untuk membedakan dengan Al=-Qur’an itu, dan bandingkan dengan gaya bahasa serta cara pengungkapan dari kedua sumber itu. Memang bisa saja perkataan manusia itu menyerupai Al-Qur’an, namun apa yang terjadi dengan Rasulullah SAW, ternyata ucapannya itu sekedar untuk menjelaskan hal yang masih samar dari Kalam Allah”.

Selanjutnya Dr. Muhammad Na’im Yasin mengatakan bahwa, “sesungguhnya kitab-kitab itu (selain Al-Qur’an) sudah tidak merupakan kitab yang sah lagi jika dinisbatkan (ditetapkan) kepada rasul yang seharusnya menerimanya. Kitab Taurat atau yang juga dikenal dengan kitab Perjanjian Lama yang kita temukan sekarang misalnya, di dalamnya mengandung sanad tarikh (kodifikasi sejarah) yang sudah tidak akurat lagi (tidak bisa dipercaya kebenarannya), karena sebenarnya kitab tersebut dibukukan jauh berabad-abad setelah Nabi Musa As wafat.”

Al-Qur’an Merupakan Kitab Pemersatu

“Sangat lain dengan Al-Qur’an; Kitab yang agung itu merupakan kitab pemersatu yang memperkokoh kedudukannya dengan memberikan gambaran yang qah’i (meyakinkan) tentang rasul yang menerima wahyu, yakni Muhammad SAW. Kitab Al-Qur’an tersebut disusun dalam bentuk surat-surat dan ayat-ayat, dengan metode penyusunan yang sistematis, dan dengan aturan pembacaan yang tetap dari masa ke masa tanpa mengalami perubahan. Ini membuktikan kepastian kebenarannya, dan bagi kita yang membacanya menjadi semakin yakin bahwa Al-Qur’an itu telah diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya yang mulia SAW.”

Lanjut Maududi, bahwa “dari dalil-dalil yang menunjukkan terjadinya penyimpangan terhadap kitab-kitab tersebut (kitab-kitab selain Al-Qur’an), dapatlah disimpulkan bahwa penyimpangan-penyimpangan yang ada menyangkut keaslian naskahnya, perbedaan-perbedaan nukilan kata-kata yang ada di dalamnya, serta benturan-benturan pemikiran (pendapat) yang ada di dalamnya.”

Kitab suci Al-Qur’an memiliki keutamaan yang sangat besar dibandingkan kitab-kitab suci yang  diturunkan sebelumnya. Al-Qur’an juga merupakan penegas kitab suci yang lain, dan juga sebagai pembatal hukum yang sudah tidak berlaku. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman, “Dan Kami telah menurunkan  Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (QS. Maaidah [5]: 48).

Dengan demikian, kita mengetahui perbedaan antara Al-Qur’an dan kitab-kitab lainnya, maka mudahlah bagi kita untuk menentukan batas-batas keimanan pada Al-Qur’an dan terhadap kitab-kitab lainnya. Beriman kepada kitab-kitab selain Al-Qur’an adalah berfungsi sebagai dan sebatas pengakuan; kita wajib mengakui bahwa kitab-kitab selain Al-Qur’an itu juga berasal dari sisi-Nya secara benar dan jujur.

Adapun dalam beriman kepada Kitab Al-Qur’an, maka wajib bagi kita untuk mengimani bahwa kitab itu merupakan Kalamullah SWT yang murni dan haq. Tiap-tiap lafadznya terpelihara dan tiap-tiap kalimatnya terjaga kebenarannya. Wajib bagi kita untuk mengikuti perintah-perintah-Nya yang terkandung di dalamnya, menjauhi larangan-larangan-Nya, membenarkan berita-beritanya, dan menolak hukum-hukum yang berlawanan dengannya.

Siapa pun yang ucapannya berdasarkan Al-Qur’an, berarti ia pasti orang yang jujur. Siapa pun yang perbuatannya berdasarkan Al-Qur’an, maka ia pasti berlimpah pahala. Siapa pun yang menetapkan hukum berdasarkan Al-Qur’an, maka ia pasti orang yang adil. Dan siapa pun yang mengajak orang lain untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, maka tentulah ia mengajak ke jalan yang lurus. Wallahu alam bish-shawwab.

-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *