BEKASI– Dari mulai usia 6 tahun Fanny Afnan Jannati sudah menekuni olahraga beladiri karate. Proses panjang dia lewati dengan penuh semangat sampai saat sekarang duduk di kelas 2 SMP 04 Cibitung Bekasi.
Hampir 8 tahun dia bekutat di karate, mulai fisiknya masih bertulang lunak sampai sekarang bertulang kuat dan berotot.
Baru saja menyandang Sabuk Hitam DAN 1, Fanny mengaku dunia karate telah membawa cakrawala berpikir, pergaulan, kemampuan serta kepercayaan dirinya menjadi lebih kuat dan luas.
Pekan lalu, Fanny menorehkan prestasi membanggakan dengan keberhasilannya meraih medali emas di nomor kumite kadet -61 putri dalam kejuaraan karate OSC Cup Championship 2026 yang digelar di OSO Sport Centre KKI Bekasi, Jawa Barat.
Di partai puncak dia menaklukkan atlet provinsi Jabar dengan keunggulan poin tipis. “Ngga mudah, sulit, maklum yang saya hadapi bukan atlet sembarangan, lawan saya punya jam terbang dan pengalaman yang lebih dari saya,” ungkapnya senang.
Sebelumnya Fanny meraih medali perunggu di kejuaraan karate nasional terbuka Bharaduta Serie 6 Piala MENPORA RI 2025 di kelas yang sama.
Bagi gadis yang juga pintar mengaji ini, karate bukan hanya menjadi sarana perlindungan dan kepercayaan diri, tapi juga sebagai jalan prestasi dirinya.
Dalam usia dini sekitar 7 tahun silam, Fanny meraih gelar juara 2 SBY Cup 2017, dan itu sekaligus menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia karate.
Prestasi demi prestasi terus diraihnya. Masuk ke SMPN 04 Cibitung juga berkat konsistensi prestasinya itu dengan nilai tertinggi dibanding atlet-lain yang juga mengunakan jalur yang sama.
Meski menyadari prestasi olahraga memiliki batas usia, tapi Fanny menilai pencapaiannya sebagai bekal penting masa depan, menjadi apapun dia nanti. Pencapaian sesuatu yang diinginkan tentu saja membutuhkan proses, pengorbanan dan ketekunan.
Bontot dari 4 bersaudara pasangan Achmad Siamin dan Prijayati yang hobi memasak ini, tumbuh dengan karakter kemandirian dan konsistensi, sehingga apapun yang ditekuni atau disukainya, selalu menghasilkan dengan standar memuaskan. Bahkan di usia remaja belia ini, Fanny sudah mampu dan percaya diri menjadi pelatih karate di beberapa sekolah.Bukan hanya itu, di TPA ALBAMA TWI, Fanny juga belajar membaca dan penghafal Al-Quran, bahkan dia sudah hafal 2 Juz.
Hal lain, Fanny tertarik pada seni sastra. Dia suka menulis cerpen, bahkan belum lama dia dinobatkan pihak sekolahnya sebagai penulis cerpen terbaik. Fanny juga mahir berbahasa Inggris.
Keseriusannya itu, karate, menghafal Quran, seni sastra, les bahasa Inggris, pelan-pelan mulai membuahkan hasil prestasi. Bidang akademik dan non akademik bagi Fanny sama-sama penting.
Di karate, puluhan medali telah dikoleksinya sebagai bukti prestasi yang dihasilkan, baik tingkat kabupaten, provinsi sampai nasional. Di setiap kejuaraan, Fanny selalu naik panggung juara. Dia jarang pulang tanpa medali.
Prestasinya antara lain medali perunggu Senkaido Open Karate Championship Piala Menpora RI HAORNAS 2022, juara 2 Piala Kadisdik dan STTD Provinsi Jawa Barat, medali perunggu Senkaido Open International Karate Championship 2024, medali perunggu Piala Ketua Umum KONI Pusat National Open Karate Championship 2025 dan lain-lain.
“Ini bukan keberuntungan, ini hasil kerja keras dan perjuangan,” tegas remaja berhijab kelahiran Bekasi, 18 Desember 2011 ini, Jumat (6/2/202.
“Setiap bertanding, saya harus latihan khusus dengan sensei saya mulai dari masih kecil dulu sampai sekarang. Sebab bertanding itu berarti harus berjuang, harus persiapan dulu. Apalagi kemarin, saya harus menaklukkan atlet provinsi Jawa Barat. Ini bukan mudah, lawan terlatih dengan fasiltas lebih representatif. Kalo bukan semangat dan keinginan yang kuat, ngga mungkin saya bisa menang,” bebernya.
Di rumahnya, sederet medali dan piagam tergantung sebagai tanda hasil perjuangannya bertahun-tahun.
“Ini bukan semata-mata murni keberhasilan saya. Ada ayah dan ibu yang mendukung penuh, ada pelatih saya yang tak jemu-jemunya membimbing setiap waktu. Ada teman-teman yang ngasi suport, bahkan lawan pun bisa memberikan spirit,” jelasnya.
“Mata rantai dan lingkaran positif itulah yang membentuk saya menjadi seperti ini. Mudah-mudahan saya bisa menjaga konsistensi ini ke depannya,” imbuh Fanny yang berlatih di dojo Fighter Karate School Taman Wanasari Indah (TWI) dh FAC Cibitung Bekasi.
“Dojo ini khusus untuk bimbingan atlet kumite prestasi buat kejuaraan. Sudah ada sejak saya masih te-ka hehe,” tuntasnya tertawa bahagia.(ta)







Komentar