POSKOTA.CO-Berpikir positif, kreatif, dan aman di internet merupakan tujuan atas pemahaman empat pilar utama literasi digital. Pilar etika digital memandu perbuatan positif, pilar kecakapan dan budaya digital menghasilkan kreativitas, dan pilar keamanan digital menjanjikan keamanan dan kenyamanan di dunia maya.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Lombok Tengah Jaelani menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam webinar literasi digital bertajuk ”Positif, Kreatif, dan Aman di Internet” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk komunitas pendidikan di Lombok Tengah, NTB, Selasa (4/4).
Jaelani mengatakan, digitalisasi budaya merupakan salah satu ruang lingkup budaya bermedia digital yang mengandalkan kreativitas. Jatidiri manusia dalam ruang budaya digital tak berbeda dengan budaya non-digital.
”Digitalisasi budaya memungkinkan kita mendokumentasikan kekayaan budaya, dan dapat menjadi peluang untuk mewujudkan kreativitas,” ujarnya.
Menurut Jaelani, media digital terbukti mampu menumbuhkan kreativitas warganet melalui berbagai aksi kegiatan. Salah satunya, aksi solidaritas warga melalui media digital selama pandemi berlangsung. Gerakan social sepanjang pandemi, di antaranya: donor plasma konvalesen, warga membantu warga dengan cara menyediakan bahan pangan dan kebutuhan pokok bagi yang isoman.
”Contoh aksi lainnya, mewujudkan kesetaraan lewat gerakan digital inklusif.
Yakni, memberikan literasi digital bagi kelompok rentan, anak-anak, perempuan, lansia, disabilitas, dan masyarakat 3T (terdepan, terluar, tertinggal),” sebut Jaelani dalam diskusi yang dipandu Rendy Tan sebagai moderator.
Dari perspektif keamanan digital, Kepala Cabang Dinas Dikbud Lombok Tengah Syarif Hidayatullah menegaskan, aman berinternet berarti mampu memberikan perlindungan data pribadi hingga terbebas dari masalah penipuan seperti phising.
”Phising adalah upaya untuk mendapatkan informasi data seseorang dengan teknik pengelabuan. Data yang menjadi sasaran: data pribadi (nama, usia, alamat), data akun (username dan password), serta data finansial (info kartu kredit, rekening),” jelas Syarif di hadapan siswa berbagai sekolah menengah atas maupun santri beberapa pesantren di Lombok Tengah, NTB.
Sementara, menurut Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB Najamuddin Amy, positif, kreatif, dan aman di internet berarti tidak mengakses atau mendistribusikan konten negatif. Jenis-jenis konten negatif pada media digital menurut UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yakni: melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, dan pemerasan atau pengancaman.
”Juga penyebaran berita bohong dan menyesatkan, sehingga mengakibatkan kerugian, serta penyebaran kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA,” pungkas Najamuddin.
Untuk diketahui, kegiatan #literasidigitalkominfo pada lingkup komunitas merupakan bagian dari program nasional Indonesia #MakinCakapDigital (IMCD). Program ini menargetkan 50 juta masyarakat Indonesia terliterasi hingga tahun 2024. Tahun 2023, program IMCD menargetkan 5,5 juta warga masyarakat sebagai peserta.
Program IMCD diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan teknologi digital secara positif, produktif, dan aman. Berdasarkan survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan Kemenkominfo bersama Katadata Insight Center pada 2021, tingkat literasi digital masyarakat Indonesia skornya 3.49 dari 5.00. Dengan skor tersebut, tingkat literasi digital kita berada dalam kategori ”sedang”. Program IMCD diperlukan, lantaran survei Asosiasi Penyelenggara JasaInternet Indonesia (APJII) dan We Are Social menemukan bahwa pengguna internet dan media sosial di Indonesia pada periode 2021-2022 sudah mencapai 220 juta orang.
”Padahal, pada 2019, jumlah itu tak lebih dari 175 juta orang,” jelasnya.
Informasi lebih lanjut mengenai literasi digital dan info kegiatan dapat diakses melalui Instagram @literasidigitalkominfo, Facebook Fan Page, Kanal YouTube Literasi Digital Kominfo serta website info.literasidigital.id. (*/fs)







Komentar