JAKARTA-Pemerintah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Penanganan Sampah Nasional, untuk memperkuat sinergi penanganan persoalan sampah dari hulu hingga hilir. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto yang hadir dalam Rakor tersebut menegaskan komitmen kuat perguruan tinggi sebagai pusat riset, inovasi, dan solusi teknologi dalam mendukung agenda prioritas nasional, salah satunya penanganan sampah nasional, Kamis (5/2).
Pada Rakor yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Mendiktisaintek memaparkan berbagai praktik baik yang telah dijalankan perguruan tinggi melalui gerakan pengelolaan sampah berbasis kampus.
“Sejak tahun lalu kami telah mengembangkan gerakan ‘Pengelolaan Sampah di Kampus’. Sejumlah perguruan tinggi seperti UGM, UNNES, ITB, hingga Telkom University sudah mampu mengolah sampahnya secara mandiri dengan kapasitas sekitar 10–15 ton per hari,” ujar Menteri Brian.
Gerakan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan timbulan sampah di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran, riset terapan, serta pengembangan teknologi pengolahan sampah yang dapat direplikasi di masyarakat. Kampus didorong menjadi living laboratory bagi inovasi teknologi ramah lingkungan, mulai dari pengolahan organik, daur ulang, hingga konversi sampah menjadi energi.
Lebih lanjut, Mendiktisaintek menyebut akan mempercepat konsolidasi inovasi teknologi pengolahan sampah, yang dikembangkan perguruan tinggi agar siap dihilirisasi, dan dimanfaatkan secara luas.
“Jadi kami akan percepat, nanti kami akan konsolidasikan. Ini juga dibantu oleh peneliti-peneliti dari BRIN supaya bisa siap, dan ada yang memproduksi tentunya dengan sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup,” tegas Menteri Brian.
Kolaborasi Lintas Kementerian
Kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta kementerian teknis menjadi langkah strategis untuk memastikan kesiapan produksi, standardisasi, hingga sertifikasi teknologi agar memenuhi aspek keselamatan lingkungan serta dapat diterapkan di berbagai daerah sesuai kebutuhan kapasitas.
Melalui pendekatan ini, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai penghasil riset, tetapi juga sebagai produsen solusi teknologi yang aplikatif, terjangkau, dan berdampak langsung bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko bidang Pangan), Zulkifli Hasan menyampaikan, pemerintah mendorong percepatan pengembangan teknologi pengolahan sampah melalui berbagai kolaborasi lintas sektor. Salah satunya melalui kerja sama yang dapat dilakukan dengan kampus-kampus di Indonesia yang telah memiliki kapasitas untuk merancang dan memproduksi teknologi pengolahan sampah, termasuk waste to energy, dengan skala yang dapat disesuaikan dari tingkat desa hingga kabupaten.
Ke depan pemerintah memprioritaskan kajian, pendataan, dan persiapan teknologi secara berkelanjutan agar pemerintah daerah dapat memanfaatkan produk teknologi dalam negeri untuk menuntaskan persoalan sampah, sekaligus menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian strategis dalam gerakan nasional penanganan sampah melalui inovasi, riset terapan, dan edukasi masyarakat.
Partisipasi aktif Kemdiktisaintek dalam rapat koordinasi ini menegaskan posisi strategis pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sebagai penggerak solusi berbasis inovasi. Kemdiktisaintek terus mendorong hilirisasi riset, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan kepakaran akademik untuk menjawab persoalan nyata bangsa menuju Indonesia yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (fs)







Komentar