Oleh: Prof. Basuki Supartono (Bulan Sabit Merah Indonesia/BSMI).
PERJALANAN hari ini benar-benar luar biasa. Dari Banda Aceh, kami bergerak menuju Sigli, lalu menyusuri jalan nasional Aceh–Medan. Dari sana kami belok kiri menuju Bireuen. Sepanjang jalan, air banjir menutupi sawah, dan di kejauhan tampak bukit-bukit dengan hutan gundul kecoklatan. Air bah yang turun dari pegunungan mengalir deras menutup sungai dan pesawahan, meninggalkan lumpur, becek, dan bangunan yang rusak di sepanjang jalur.
Dari kota Bireuen, kami kembali belok kiri mengikuti jalan Bireuen–Takengon, lalu belok kiri lagi menyusuri aliran sungai, melewati kebun sawi yang terus menanjak menuju perbukitan. Hingga satu titik, mobil Innova tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan karena medan yang sangat berat.
Kami berganti kendaraan ke mobil 4-wheel drive, berdiri di bak belakang di antara barang-barang bantuan. Kanan–kiri adalah hutan sawit, dan semakin ke atas tampak aliran sungai dari hulu Takengon yang mengalir deras—sumber bencana banjir bandang hari itu.
Tujuan kami adalah Desa Simpang Mulia, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, sebuah desa terisolasi yang sangat terdampak. Sekitar 200 kepala keluarga mengungsi; rumah mereka hancur tergerus banjir bandang, termasuk polindes, rumah keuchik, dan rumah bidan desa yang turut hilang tersapu arus. Tanpa polindes, warga kini tidak dapat berobat, sementara akses ke fasilitas kesehatan resmi jauh dan sangat sulit ditembus.
Di pengungsian tampak anak-anak, ibu hamil, lansia, dan warga rentan lainnya. Selain itu terdapat penyandang disabilitas, termasuk seorang perempuan usia 80 tahun, yang tidak dapat mendatangi pos pelayanan. Kami melakukan home visit ke rumahnya untuk memberikan pemeriksaan medis dan penguatan psikologis. Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya warga lanjut usia dan penyandang disabilitas di tengah bencana besar seperti ini.
Seorang ibu hamil dirujuk oleh bidan desa, menempuh perjalanan ekstrem menuruni tebing curam, melewati longsoran tanah, dan menyusuri tepian sungai menuju Bireuen. Yang membuat kami terharu, bidan desa melakukan rujukan itu seorang diri, menyetir sendiri di malam hari, hanya berbekal keberanian dan rasa tanggung jawab. Ia bukan pegawai pemerintah, tetapi dedikasinya untuk melindungi warganya melebihi banyak pejabat.
Kami juga menjumpai seorang warga yang mengalami depresi berat setelah kehilangan rumah dan seluruh harta benda; tekanan mental yang tak tertahankan membuat kondisi jiwanya terganggu dan memerlukan rujukan lanjutan.
Teladan luar biasa juga terlihat pada keuchik Simpang Mulia, yang pada malam banjir bandang, di bawah derasnya hujan, berkeliling mengevakuasi warganya satu per satu, memastikan tidak ada yang tertinggal meskipun akhirnya rumahnya sendiri hancur tersapu banjir. Pengorbanan yang sunyi, tetapi sangat mulia.
Setelah memberikan pelayanan medis, asesmen, home visit, dan memastikan warga mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, kami kembali ke Bireuen sekitar pukul 23.00 WIB. Perjalanan pulang ditemani cahaya bulan purnama yang memantul di antara pepohonan dan aliran sungai. Berdiri di bak mobil 4×4, saya melihat kembali jalur kami dari ketinggian, seolah sedang memeriksa defile pasukan. Namun ini bukan parade—ini adalah perjalanan kemanusiaan, melintasi bukit terjal dan hutan gelap demi menjangkau saudara-saudara sebangsa yang sedang diuji.
Warga Simpang Mulia adalah saudara setanah air yang memiliki hak konstitusional untuk hidup layak, hidup sehat, beribadah, dan memperoleh pendidikan. Saat ini, anak-anak tidak dapat bersekolah karena jembatan gantung menuju sekolah telah hilang digerus banjir. Mereka berhak menikmati hasil kemerdekaan sebagaimana anak-anak di kota-kota besar Indonesia.
Semoga Allah mengganti setiap kehilangan warga dengan yang lebih baik.
Wallahu a‘lam.
Bireuen, Aceh 5 Desember 2025







Komentar