oleh

Tampilkan Kearifan Lokal, Seni Kreatif dari Kabupaten Hulu Sungai Utara Pukau Pengunjung Incraft 2025 di JCC Senayan

JAKARTA – Ada yang menarik perhatian pada hajatan Incraft 2025 yang digelar dari tanggal 5 sampai 9 Oktober di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat. Salah satunya adalah penampilan binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, tampil percaya diri membawa produk unggulan kearifan lokal.

Mereka membawa produk unggulan ramah lingkungan seperti kerajinan rotan merah, tikar purun, hingga eceng gondok olahan   karya perajin muda Ratu Salwa (Rere). Menurut Emma, anggota Dekranasda HSU, meski waktu persiapan menuju Inacraft terbilang singkat, para pengrajin tetap siap berpartisipasi.

“Kami siap karena semua pengrajin sudah punya stok barang. Jadi, ketika dikabari, langsung bawa produk dan ikut jaga stand sendiri,” ujar Emma di pameran Inacraft 2025, Senin (6/10).

Menariknya, seluruh penjaga stand merupakan pengrajin asli HSU sekaligus ASN. Dengan begitu, setiap transaksi dilakukan langsung antara pengrajin dan pembeli tanpa perantara dinas.
Emma menjelaskan bahwa sebagian besar produk yang dipamerkan merupakan hasil karya pengrajin lokal yang mewarisi keahlian turun-temurun.

“Di HSU itu, dari sejak nenek moyang sudah senang menganyam tikar purun. Sekarang berkembang, ada rotan merah, Bambang, dan bahan alam lainnya,” tutur Emma. Produk seperti tikar lampit dan rotan merah kini banyak diminati pasar domestik hingga mancanegara. Pembeli dari Jepang dan wisatawan Bali pernah datang langsung untuk memesan kerajinan khas HSU.

Emma menegaskan bahwa harga produk HSU tetap terjangkau karena dijual langsung oleh perajin. “Ada pembeli dari Jakarta bilang dia beli tikar lampit Rp 2 juta, padahal kita jual cuma Rp 600 ribu, karena langsung dari perajin, bukan dinaikin lagu,” jelas Emma. Meski murah, produk anyaman HSU terkenal kuat, artistik, dan ramah lingkungan, menunjukkan kualitas ekspor tanpa kehilangan nilai tradisi.

Salah satu sosok yang menarik perhatian di Inacraft 2025 adalah Ratu Salwa, pengrajin muda berusia 24 tahun asal Desa Tapus Dalam. Ia berhasil mengubah eceng gondok , tanaman air yang dianggap gulma, menjadi sumber ekonomi kreatif bernilai tinggi. “Awalnya saya lihat ecdng gondok banyak banget, kemudian saya belajar bikin kerajinan. Akhirnya jadi barang produktif,” ujarnya.

Produk olahan Salwa meliputi tas, sovenir, dan anyaman khas bermotif baling-baling tengah, motif unik yang hanya ditemukan di desanya. Galeri yang ia kelola di Bayramang  kini mempekerjakan sekitar 15 orang, termasuk ibu rumah tangga dan pemuda putus sekolah. “Saya senang bisa tampil di Inacraft 2025. Ajang pameran berbagai produk kreatif ini membangkitkan UMKM Indonesia. Pengunjung bisa melihat berbagai produk dari seluruh daerah sehingga bisa jadi ide kreatif,” kata Emma.

Turut hadir, Zasirangan adalah brand asal Kalimantan Selatan yang fokus pada berbagai produksi kain tradisional sasirangan. Produk unggulan Zasirangan adakah kaos kombinasi sasirangan yang menjadi cirikhas pembeda brand ini. Founder Zasirangan, Irwan Zasir menjelaskan pihaknya mengembangkan berbagai koleksi fashion dan aksesori lainnya. “Mulai dari kain sasirangan, kemeja siap pakai, syal, jilbab, jam tangan, topi, dan lainnya. Tiap produk Zasirangan menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas Kalimantan Selatan,” tandasnya.

Dekranasda Hulu Sungai Utara di bawah kepemimpinan Ibu Murniati yakni istri Bupati HSU Sahrujani,  berkomitmen memperkuat ekonomi kreatif daerah melalui pelatihan, inovasi desain, dan partisipasi aktif dalam berbagai event nasional seperti Inacraft. Langkah ini membuktikan bahwa potensi lokal, jika digarap serius, mampu mengangkat nama daerah hingga ke panggung nasional bahkan internasional. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *