oleh

Pengusaha Batik UMKM Indonesia Berpeluang Naik Kelas, Pasar Ekspor Masih Luas

JAKARTA – Ribuan pengusaha batik Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia berpeluang naik kelas karena potensi ekspor ke luar negeri masih besar. Saat ini ekspor batik dari Kota Pekalongan saja baru 20 persen dari total produksi. Selebihnya masih diserap oleh pasar dalam negeri yang dinilai relatif stabil.

Wali Kota Pekalongan, H.A Afzan Arslan Djunaid, menyebut ekspor batik dari Kota Pekalongan saat ini baru mencapai sekitar 20 persen dari total produksi. Selebihnya masih diserap oleh pasar dalam negeri yang dinilai relatif stabil.

“Kalau untuk pasar ke luar negeri kita masih di Kota Pekalongan masih sekitar 20 persen (dari total produksi) itu memang masih sedikit,” ujar Walikota Pekalongan, H.A Afzan Arslan Djunaid, kepada wartawan usai acara Indonesia Batik Outlook & Launching Festival Batik 3 Kota 2025 di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (2/10).

Afzan menjelaskan pasar utama ekspor batik Pekalongan saat ini berada di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Selain itu, produk sarung dari Pekalongan juga diminati di Timur Tengah, sedangkan pasar Afrika cenderung menggemari batik dengan warna-warna cerah.

“Kalau di Eropa masih sangat sedikit terbatas, hanya misalkan kita kemarin di Paris Fashion Week dan beberapa desainer nasional sebenarnya sudah ada yang buka toko,” tutur Afzan.

Menurut dia, tren penjualan batik saat ini mulai membaik setelah terdampak pandemi COVID-19. Bahkan lebih baik lagi. Peningkatan penjualan didukung oleh keterlibatan generasi muda dalam pengembangan batik. Pemerintah Kota Pekalongan secara rutin menggelar lomba desain batik untuk melibatkan milenial dan Gen Z.

Selain itu, dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian UMKM dan Kementerian Luar Negeri dinilai membuka akses pasar baru lewat keikutsertaan pada sejumlah pameran internasional.

“Seperti kemarin di Dubai, terus di Hamburg, Jerman, kemarin di Kota Pekalongan ada yang ikut juga. Itu menurut saya juga mendorong,” katanya.

Meski begitu, Afzan mengatakan kondisi ekonomi nasional tetap menjadi faktor penting yang mempengaruhi perkembangan industri batik. Penutupan sejumlah pabrik tekstil di beberapa daerah sempat menimbulkan persoalan pasokan bahan baku, namun Pekalongan relatif aman karena memiliki sentra pabrik tekstil dan produsen pewarna batik.

Saat ini, Pekalongan juga tengah mengembangkan batik berbasis pewarna alami. Namun, Afzan mengakui pengembangan ini masih menghadapi kendala.

“Kelemahan kita, batik warna alam itu warnanya belum bisa cerah. Jadi untuk kalangan anak muda masih kurang menarik. Tetapi ini kita kembangkan terus bagaimana nanti ke depan biar warnanya bisa cerah dan diminati anak muda,” ujarnya.

Meski Pekalongan memiliki motif batik khas, Afzan mendorong setiap daerah untuk mengembangkan corak batiknya masing-masing.

“Misalkan Magelang membuat motif Borobudur, terus di Banyumas, di Cirebon dengan Megamendungnya. Itu saya rasa setiap daerah justru kita dorong untuk memiliki motif supaya lebih beragam. Karena batik ini kan seni, tidak ada keterbatasan motif, semua bebas improvisasi, agar lebih kreatif,” katanya.

Hari Batik Nasional

Pada kesempatan sama, staf Ahli Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM, Sudaryano Lamangkona, menyampaikan bahwa peringatan Hari Batik Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa batik bukan hanya simbol budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi ribuan perajin, pengusaha mikro, dan komunitas lokal di seluruh Indonesia.

“Sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda pada 2 Oktober 2009, Hari Batik Nasional bukan hanya momentum untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga untuk menghidupkan kembali semangat agar tradisi dan kemajuan ekonomi dapat berjalan beriringan. Batik harus menjadi kekuatan bangsa Indonesia untuk berperan dalam ekonomi global,” ujar Sudaryano dalam acara Batik Outlook 2025 sekaligus launching Festival Batik 3 Kota, di Jakarta.

Ia menjelaskan, Kementerian UMKM terus mendorong pertumbuhan ekosistem batik melalui program Juragan UMKM dan kerja sama dengan pemerintah daerah, dengan memberikan akses pemasaran melalui bazar, pameran, hingga pengembangan toko digital. “Kami ingin UMKM menjadi pemeran utama yang turut menggerakkan ekonomi daerah dan nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sudaryano menekankan pentingnya penguatan citra batik sebagai warisan budaya dunia agar generasi muda tetap bangga mengenakannya. Selain itu, pengembangan UMKM batik terus didorong melalui festival batik di tiga kota yakni Pekalongan, Magelang, dan Malang, serta dorongan pada inovasi desain, teknologi produksi, dan prinsip ramah lingkungan.

Sudaryano juga menyampaikan apresiasi kepada kepala daerah dari Pekalongan, Magelang, dan Malang atas dedikasi mereka dalam memajukan ekosistem batik. “Ketiga kota ini memiliki peran penting dalam menjaga tradisi batik sekaligus mendorong inovasi agar UMKM batik tetap hidup dan relevan di era modern,” ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memaparkan upaya penguatan batik melalui program Kemis Mbois, yaitu kewajiban bagi ASN dan non-ASN di lingkungan pemerintahan untuk menggunakan batik khas Malang setiap hari Kamis. “Program ini sudah berjalan selama dua tahun dan berhasil membuat perajin batik di Kota Malang kebanjiran permintaan,” katanya.

Adapun Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan bahwa meskipun industri batik di Magelang tidak sebesar di Pekalongan dan Malang, pihaknya tetap berkomitmen meningkatkan daya saing melalui penyediaan fasilitas Industri Kecil Menengah (IKM) Center. Gedung ini difungsikan sebagai tempat promosi, produksi, dan uji mutu produk UMKM, termasuk batik. “Kami ingin memastikan kualitas produk UMKM Magelang memiliki standar yang baik agar mampu bersaing di pasar,” ujarnya.

Acara ini turut dihadiri Direktur Utama LLP-KUKM Doddy Akmadsyah Matondang, Asisten Deputi Bidang Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Ari Anindya Hartika, serta Direktur Bisnis dan Pemasaran LLP-KUKM Rizki Firdaus. (aga)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *