oleh

Konseptual Nilai Diri dan Kebahagiaan Hakiki di Era Disrupsi (Refleksi QS An Nahl : 97)

Oleh: Yennie Kurniawati )*

ERA digital yang melingkupi keluarga Indonesia saat ini, bukan sekedar zaman “serba online”, bersamanya sumber pengetahuan tidak lagi dimonopoli keluarga, lembaga pendidikan formal, ulama dan tokoh agama, buku serta lingkungan. Siapapun saat ini, bisa menjadi narasumber dan produsen informasi, baik dalam skala lokal, regional bahkan global, yang dapat diakses kapanpun dan di manapun. Diantara dampaknya adalah perubahan nilai diri seseorang dan standar kebahagiaan yang tidak bisa dielakkan. Alih-alih dibangun di atas indikator ketangguhan mental dan integritas, parameter semu seperti visibilitas digital, kecepatan pencapaian, dan validasi sosial menjadi lebih penting.

Media digital di era disrupsi ini, bukan hanya ruang interaksi, tapi mesin pembanding sosial otomatis. Orang akan cenderung membandingkan dirinya dengan versi terbaik orang lain, ini selaras dengan Social Comparison Theory yang pertama kali diperkenalkan oleh Festinger tahun 1954. Survei McKinsey Health Institute (MHI) tahun 2022, juga menemukan bahwa responden Gen Z yang mayoritas aktif menggunakan media sosial harian lebih sering, melaporkan pengaruh negatif media digital, seperti Fear of Missing Out (FOMO), citra tubuh buruk dan menurunnya kepercayaan diri.

Di tengah dampak negatif media digital di atas, QS An Nahl ayat 97 hadir sebagai penawar, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami (Allah) berikan kepadanya kehidupan yang baik (ḥayātan ṭayyibah), dan sesungguhnya akan Kami beri balasan mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Ayat ini, bukan hanya memberikan kabar gembira tentang balasan di akhirat, tapi konseptual standar kebahagiaan yang dapat dirasakan sejak di dunia.

Pertama, Wahbah az Zuhaili dalam Tafsir al Munir menyampaikan, bahwa disebutkan laki-laki dan perempuan, untuk mengantisipasi munculnya asumsi keliru yang mengkhususkan salah satunya. Maknanya, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk beramal shalih dan mendapatkan balasan dari Allah SWT.

Kedua, amal shalih yang akan mendapat balasan dari Nya SWT, adalah yang memiliki kaidah orisinal, yaitu kaidah yang terbangun dengan 2 pilar, keimanan kepada Allah SWT dan Rasul Nya SAW. Amal shalih yang motivasi dan pembangkitnya adalah balasan Allah SWT dan meneladani Rasul Nya, bukan visibilitas digital atau keterlihatan seseorang di ruang digital yang menjadi alat penilaian diri dan sosialnya.  Kaidah keimanan ini meruntuhkan “standar baru” bahwa yang sering terlihat dianggap bernilai, yang ramai dianggap penting dan yang viral disamakan dengan berhasil.

Kaidah keimanan ini akan melahirkan ketenangan jiwa, di saat amal shalihnya tidak tersorot media, tetap bersemangat beramal shalih walaupun sedikit yang memberikan “komen” ataupun membubuhkan “like” nya, bahkan selalu optimis walaupun melewati dinamika ujian yang tak dilihat oleh mata manusia, karena nilai diri bersandar kepada nilai Allah SWT bukan respon sosial dan citra di dunia digital.

Ketiga, balasan amal shalih dengan kaidah di atas, adalah ḥayātan ṭayyibah, kehidupan yang baik mencakup berbagai kesenangan yang beragam di dunia ini. Az Zuhaili mengutip pendapat Ibnu Abbas dan sejumlah ulama lain, yang menafsirkan dengan rezeki yang halal lagi baik, kebahagiaan yang dirasakan dan hati yang merasa gembira saat melakukan amal shalih serta  qana’ah atau perasaan cukup yang menghadirkan ketenteraman. Perasaan senantiasa terhubung dengan Allah SWT, tsiqah dan percaya kepada Nya serta tenteram berada dalam pemeliharan Nya, penjagaan Nya dan Ridha Nya adalah termasuk kehidupan yang baik. Konsep ini, mereduksi “standar kesuksesan hidup adalah kekayaan dan harta yang berlimpah” yang membelenggu manusia dari masa ke masa dan memaksanya untuk mendapatkan serta menguasainya dengan berbagai cara tanpa mengindahkan aturan dan norma.

Penulis al Munir mengangkat hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Amr RA, “Sungguh benar-benar beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup (tidak berlebih dan tidak pula kurang), dan Allah SWT menjadikannya memiliki sifat qana’ah atas yang Dia berikan kepadanya.” Dia juga menambahkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan an Nasa’i, “Beruntunglah orang yang ditunjuki kepada Islam, kehidupannya cukup (tidak kekuarangan dan tidak berlebihan) dan ia qana’ah (puas dengan apa yang dimiliki).”  Saat hati sudah terpaut dengan yang lebih besar, lebih mulia dan lebih kekal di sisi Allah SWT, harta hanyalah salah satu unsur kebahagiaan yang cukup dimiliki dalam jumlah yang tidak berlebihan.

Keempat, kehidupan yang baik, yang dirasakan seorang mukmin di dunia ini, tidak akan mengurangi pahala yang mulia di akhirat nanti. Bahkan Allah SWT janjikan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan di dunia ini. Az Zuhaili menguatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim, dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Allah SWT tidak menzalimi (tidak akan mengurangi dan menyianyiakan) satu kebaikanpun (yang dilakukan)  seorang mukmin. Di dunia, ia diberi balasan atas amal baiknya, dan di akhiratpun, ia akan diberikan balasan atas amal baiknya.”

Ayat ini menegaskan, bahwa pemahaman yang benar bagi seorang mukmin, atas nilai diri nya dan standar kebahagiaannya akan mengantarkannya kepada ketangguhan mental dan integritas dalam mengarungi berbagai tantangan zaman, bahkan menyampaikannya kepada kebahagian hakiki yang bisa dirasakan di dunia saat ini dan di akhirat nanti.

)* Ketua Yayasan Sekolah Keluarga Nusantara (Segara)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *