Oleh : Karsidi Diningrat
- Faasikuun (Orang-orang yang fasik/durhaka kepada Allah)
Faasikuun atau faasiqin, artinya orang-orang yang fasik, yaitu orang-orang yang percaya kepada Allah, tetapi melalukan dosa dengan sengaja (baik dosa karena menerjang larangan maupun dosa karena meninggalkan perintah Allah) tanpa ada rasa penyesalan, bahkan menantang segala akibatnya tanpa takut mendapat balasan (ancaman dari Allah). Ia melanggar batas-batas ketentuan Allah. Ia selalu berbuat maksiat, menyebarkan kemunkaran dan tidak mau bertaubat.
Diantara orang-orang yang tergolong kelompok fasik ialah: a. Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan ditimpa azab karena mereka selalu berbuat fasik (berbuat dosa).” (QS. Al-An’am [6]: 49); b. Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad), dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 99).
- Orang-orang yang tidak mau memutuskan hukum dengan hukum Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 47). d. Orang yang melupakan Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19).
- Orang yang menuduh wanita baik-baik (muhsanah) berzina tanpa ada bukti, sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delepan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24]: 4). f. Orang yang berbuat kezaliman, sebagaimana firman Allah, “Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka (selalu) berbuat fasik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 59).
- Mufsiduun (Orang-orang yang membuat kerusakan)
Mufsiddun atau mufsidin artinya, orang-orang atau golongan yang selalu membuat kerusakan di muka bumi, yaitu orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, mencemooh kebenaran yang telah terbukti kebenarannya, mengabaikan petunjuk akal dan petunjuk agama. Karena orang itu keberadaan mereka di muka bumi ini hanyalah merusak diri sendiri dan merusak orang lain, terutama di bidang akidah dan syari’ah, di mana keduanya adalah merupakan soko guru yang membentengi stabilitas kemashlahatan manusia dan lingkungannya.
Diantara mereka yang termasuk golongan mufsiduun ialah: a. “Penguasa yang sewenang-wenang terhadap rakyatnya” (QS. Al-Qasas [28]: 4). b. “Mereka mengingkari ayat-ayat Allah” (QS. Al-A’raaf [7]: 103). c. “Mereka selalu menyalakan api peperangan dan permusuhan dalam masyarakat” (QS. Al-Ma’idah [5]: 64). d. “Mereka selalu menghalangi manusia dari jalan Allah” (QS.an-Nahl [16]: 88). e. “Mereka selalu melanggar hak-hak orang lain” (QS. Huud [11]: 85).
- Mujrimuun (Orang-orang yang berbuat kejahatan)
Mujrimuun atau mujrimin, adalah bentuk jama’ dari lafaz mufrad mujrim ialah orang yang melakukan jarimah (jinayah atau tindak pidana).
Jarimah, ialah larangan-larangan syariat yang diancamkan kepadanya dengan hukuman had dan ta’zir. Seorang dikatakan mujrim atau mujrimin ialah apabila seorang menerjang larangan atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh syariat, baik berupa hukuman had, qisas maupun ta’zir.
Jarimah hudud (had) ialah hukuman-hukuman yang telah ditetapkan dengan nas Al-Qur’an atau hadis, baik macam perbuatannya maupun macam (kadar) hukumannya. Yang termasuk kelompok ini ialah: a. Zina (an-Nur [24]: 2). b. Qazaf (penuduhan zina). (An-Nur [24]: 4-5). c. Minum-minuman keras (al-Maidah [5]: 90). d. Pencurian (al-Ma’idah [5]: 38-39). e. Perampokan (al-Ma’idah [5]: 34). f. Murtad (al-Baqarah [2]: 217, an-Nahl [16: 106). g. pemberontakan (al-Mai’dah [5]: 33).
Jarimah qisas, ialah hukuman balasan yang setimpal dengan apa yang diperbuat oleh mujrim. Hal ini bisa berupa pembunuhan dan penganiayaan, (al-Ma’idah [5]: 45, dan al-Baqarah [2]: 178).
Sedangkan ta’zir, ialah hukuman-hukuman yang tidak ditentukan syara’ tentang kadar berat ringannya. Penentuan berat atau ringan hukuman diserahkan kepada penguasa (pemerintah); yang berupa jarimah-jarimah dari selain huduud dan qisas.
Orang-orang yang melakukan jarimah (berbuat dosa) akan dibalas oleh Allah dengan hukuman yang telah ditentukan-Nya. Sebagaimana Allah swt berfirman, “Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat zalim, padahal para rasul mereka telah datang membawa keterangan-keterangan (yang nyata), tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.” (QS. Yunus [10]: 13).
Agama telah melarang kita untuk menolong mujrimin (orang-orang yang berbuat dosa). Sebagai mana Allah swt berfirman, “Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (QDS. Al-Qasas [28]: 17).
- Mu’taduun (orang-orang yang melampaui batas)
Mu’taduun atau mu’tadin, artinya orang-orang yang melampaui batas, orang-orang yang keterlaluan dalam melakukan sesuatu yang telah digariskan oleh Allah. Islam tidak menyukai sikap keterlaluan dan melampaui batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan Islam dengan keras telah memperingatkan kita tidak boleh menganutnya. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda, “Hindarkanlah dirimu sikap melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya.” (HR. Ahmad dari ‘Abdullah bin ‘Abbas).
Sangat Luasnya Rahmat Allah Swt
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., bahwa beliau pernah berkata, “Pada suatu malam aku pernah kehilangan Rasulullah saw, kemudian aku berusaha mencarinya, ternyata beliau sedang shalat di kamar, kemudian aku melihat tiga cahaya di atas kepala beliau. Ketika beliau usai menunaikan shalatnya, beliau bertanya, ‘Siapa gerangan orang ini?’ Aku menjawab, ‘Saya Aisyah ya Rasulullah!’ Lalu beliau bertanya lagi, ‘Apa engkau melihat tiga cahaya tadi?’ Aku menjawab, ‘Benar ya Rasulullah!’ Kemudian beliau menerangkan, “Sesungguhnya ada utusan yang datang dari Tuhanku memberi kabar gembira kepadaku bahwa, Allah swt. akan memasukkan tujuh puluh ribu orang dari umatku dengan tanpa hisab (perhitungan amal) dan tanpa mendapatkan siksa.”
“Kemudian datang lagi cahaya yang kedua kalinya dari Tuhanku yang ingin memberikan kabar gembira bahwa, Allah swt. akan memasukkan lagi dari umatku untuk setiap satu orang dari tujuhpuluh ribu orang (yang pertama) tujuhpuluh ribu orang lagi dengan tanpa perhitungan amal dan siksa. Kemudian ada cahaya ketiga kalinya datang dari Tuhanku untuk memberi kabar gembira kepadaku bahwa, Allah swt akan memasukkan lagi dari umatku untuk setiap satu orang dari tujuh puluh ribu orang (yang kedua) kelipatan dari tujuh puluh ribu orang lagi dengan tanpa perhitungan amal dan siksa.’ Kemudian aku bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Engkau tidak menyampaikan berita gembira ini kepada ummatmu!’ Beliau menjawab, ‘Kalian akan disempurnakan dari orang-orang A’rabi (suku Badui pedalaman) yang mereka tidak puasa dan juga tidak shalat’.
Dalam hadis lain di sebutkan, “Sesungguhnya Allah swt. ketika menciptakan makhluk Dia memastikan (berjanji) terhadap diri-Nya, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR. Ibnu Majah melalui Abu Hurairah r.a. dan ada dalam riwayat Imam Muslim). Sesungguhnya rahmat Allah itu lebih luas daripada murka-Nya. Hadis ini memberikan semangat agar orang-orang yang berdosa segera bertaubat kepada-Nya dan jangan sekali-kali ia berputus asa dari-Nya, karena sesungguhnya rahmat Allah itu jauh lebih besar daripada murka-Nya. Dalam surat Yusuf disebutkan melalui firman-Nya, “Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87).
Kemurkaan Allah
Kemurkaan Allah selalu didahului oleh rahmat-Nya, maka yang dimaksud ialah bahwa tidak sekali-kali Allah menimpakkan azabnya atas suatu kaum, melainkan terlebih dahulu datang kepada mereka para rasul yang mengajak mereka ke jalan hidayah dan sekaligus sebagai juru peringatan. Kedatangan mereka itu merupakan suatu rahmat bagi kaum tersebut. Akan tetapi, jika kaum itu tidak mau ikuti jalan petunjuk, baru Allah swt. menurunkan azab-Nya atas mereka. Pengertian ini tersimpulkan dalam firman-Nya, “Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra [17]: 15).
Dalam hadis lain juga disebutkan, “Allah swt. telah berfirman, “Apabila hamba-Ku mendekatkan dirinya satu jengkal kepada-Ku, niscaya Aku mendekat kepadanya satu hasta. Apabila ia mendekatkan dirinya satu hasta kepada-Ku niscaya Aku mendekat kepadanya satu depa (rentangan tangan). Dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku mendatangi-Nya dengan berlari kecil.” (HR. Bukhari melalui Anas r.a.).
Aku mendekat kepadanya satu hasta. Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Swt mendekatkan rahmat-Nya kepada dia dalam jarak lebih dekat dari apa yang dia lakukan. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin dekat pula ia memperoleh rahmat-Nya, bahkan jauh lebih dekat dari apa yang ia lakukan. Aku sampaikan rahmat-Ku kepadanya dalam keadaan kadar yang lebih cepat/banyak dari itu. Setiap kali seorang hamba menambah amal taqarubnya (pendekatannya kepada Allah), maka Allah makin menambahkan rahmat kepadanya dalam kadar yang lebih besar.
Rasulullah Saw bersabda, “Berjalan luruslah kalian, dekatkanlah diri kalian (kepada Allah), dan bergembiralah (dengan pahala-Nya). Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa amal perbuatan seseorang di antara kalian tidak dapat memasukkannya ke surga. Mereka (para sahabat) bertanya, “Juga termasuk Engkau, wahai Rasulullah?” Rasul saw menjawab, “Ya, juga termasuk aku sendiri, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan sesungguhnya amal yang disukai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus sekalipun kecil.” (HR. Syaikhan dan Nasa’i).
Tetaplah pada Jalan yang Lurus
Rajin-rajinlah beramal saleh, tetaplah pada jalan yang lurus, jangan menyimpang, dekatkanlah dirimu kepada Allah swt, dan bergembiralah dengan pahala dari sisi-Nya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tiada seorang pun yang di masukkan ke dalam surga oleh amal perbuatannya, karena sesungguhnya surga itu merupakan kemurahan dari Allah buat hamba-hamba-Nya yang saleh, dan neraka merupakan bukti dari sifat Allah Yang Mahaadil. Mengingat hal tersebut maka berusahalah dengan beramal saleh terus menerus tanpa kenal lelah, yang terpenting dalam beramal saleh ialah yang dikerjakan secara terus menerus dan menurut batas kemampuan karena di dalam hadis yang lain telah disebutkan bahwa tiada seorang pun yang berlebih-lebihan dalam mengerjakan agama ini, melainkan ia pasti dikalahkan olehnya. []. Wallahu alam bish-shawwab.
-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.







Komentar