oleh

Surga Hanya untuk Umat Muslim

Oleh : Karsidi Diningrat

DALAM ajaran-ajaran samawi disebutkan manusia akan memperoleh balasan sesuai amal perbuatannya di dunia. Dalam ajaran Yahudi dan Nashrani mereka yang berbuat baik akan ditempatkan di kerajaan Tuhan dan akan merasakan kebahagiaan yang abadi. Demikian pula dalam agama Islam. Seorang muslim selalu berusaha mencapai puncak ketaatan dan peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengharap keridaan-Nya yang berupa kebahagiaan hidup di sisi-Nya. Yang membuat seorang muslim semakin merindukan dan mendambakan kehidupan bahagia tersebut yaitu apa yang dikemukakan Al-Qur’an dan hadis menyangkut kenikmatan di akhirat yang berbeda dengan kehidupan di dunia. Alam akhirat tempat kebahagiaan itu diperoleh dalam bahasa Indonesia disebut surga.

Kenikmatan surga disimpulkan dalam firman-Nya, “Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 71). Dalam suatu hadis Qudsi disebutkan, “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa-apa yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga dan tidak juga terlintas dalam hati manusia.” (H.R. al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Dalam sejarah para sahabat rasul, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, rela mengorbankan segala sesuatu yang berharga miliknya; harta, kedudukan, jiwa dan keluarga, berjuang membela agama demi memperoleh janji Allah berupa hidup bahagia di akhirat kelak.

Sebagai sesuatu yang gaib, informasi tentang surga dalam pandangan jumhur ulama hanya diperkenankan diperoleh melalui informasi yang pasti kebenarannya, yaitu dari Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih, bahkan sebagian ulama berpandangan hadis tersebut bukan hanya sahih tetapi mesti diriwayatkan oleh orang banyak dari satu generasi ke generasi berikutnya yang diduga pasti tidak mungkin berdusta.

Surga, tempat tinggal orang-orang salih di akhirat, dalam Al-Qur’an disebut al-jannah, artinya “Taman”. Surga merupakan salah satu tema utama Al-Qur’an, yang disebutkan dengan nama ini lebih dari seratus kali, dan dengan nama-nama lain seperti firdaus, Negeri Kedamaian, Tempat Tinggal Orang-orang Saleh, dan sebagainya. Ini mencerminkan makna asasi pengadilan dan perhitungan akhir amal manusia dalam teologi Islam. Manusia diberi kesempatan di dunia ini untuk menentukan pilihan bagi dirinya sendiri. Ganjaran apapun yang bisa terjadi di dunia ini tidaklah komprehensif, abadi atau sempurna, dan bercampur dengan kefanaan dunia ini. Pahala yang utuh, murni dan abadi akan datang disekitar fase pengadilan. Ini adalah janji nyata dari Allah, Tuhan Yang mustahil melanggar janji-Nya.

Setiap muslim pasti mengharap untuk memperoleh pahala dengan memasuki surga, terjauh dari siksa api neraka. Untuk itu, diperlukan persiapan diri yang cukup agar segala syarat dan prasyarat untuk masuk surga itu dapat terpenuhi.

Iman dan Amal Salih

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Baqarah [2]: 25). “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka ini penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 82). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Luqman [31]: 8).

Penyebutan amal saleh secara beriringan dengan iman dalam banyak ayat Al-Qur’an memberikan petunjuk yang jelas bahwa iman yang benar akan melahirkan amal saleh. Dengan demikian, iman dalam ajaran Islam bukanlah konsep keyakinan yang mandul yang hanya tersimpan dalam hati seorang, melainkan ia harus tercermin dalam kesalehan perilakunya dalam kehidupan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya iman itu adalah ucapan dengan lisan, makrifat dengan hati dan pengamalan dengan anggota badan. Iman bertambah karena ketaatan dan ia terkurung karena kemaksiatan. Ia menjadi kuat karena ilmu dan ia melemah karena kebodohan. Dengan taufik Allah iman akan tercipta.” (HR. Imam Thabrani).

Mengenai mutlaknya kedudukan iman sebagai prasyarat bagi masuknya manusia ke dalam surga dipertegas lagi dalam ayat-ayat yang mencantumkan iman sebagai sifat yang harus dimiliki oleh orang yang beramal saleh, sebagaimana Allah berfirman, “Dan barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga.” (QS. Gafir [40]: 40). “Dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa [4]: 124). “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97).

Amal Kebaikan Harus Disertai Iman

Mengenai penekanan yang terakhir ini, dapat disimpulkan dari keberadaan kalimat wa huwa mu’min sebagai penjelas bagi keadaan orang yang mengerjakan amal saleh. “Menurut Imam al-Qurtubi, dengan ayat-ayat tersebut Allah menegaskan bahwa amal kebaikan tidak diterima bila tidak disertai iman”. “Asy-Syaukani dengan redaksi yang berbeda menyebut bahwa kalimat itu memberi pengertian disyaratkannya iman dalam setiap amal saleh”.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sesuai dengan penegasan Al-Qur’an, iman merupakan syarat mutlak masuknya seseorang ke dalam surga. Hal ini ditegaskan pula dalam hadis-hadis nabi. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, “Kamu tidak masuk surga sehingga kamu beriman; dan kamu tidak beriman (dengan sempurna) sehingga kamu saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang apabila kamu kerjakan kamu menjadi saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!.” (HR. Muslim melalui Abu Hurairah).

Dan dalam hadis yang lain disebutkan, “Demi Dia (Allah) yang diri Muhammad ada pada kekuasaan-Nya. Sungguh saya berharap bahwa kamu sekalian menjadi separuh bagian ahli surga. Yang demikian itu karena surga tidak bisa dimasuki kecuali oleh jiwa yang Islam.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Begitu mutlaknya kedudukan iman itu dalam membawa seseorang ke dalam surga, sehingga ia disebut pula sebagai kunci surga. Rasulllah saw. berkata kepada Mu’az bin Jabal tatkala diutus ke Yaman, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi Ahli Kitab. Mereka akan menanyakan kepadamu tentang kunci surga. Maka Rasulullah bersabda: kunci surga adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.” (HR. al-Baihaqi dari Mu’az bin Jabal).

Demikian pula dengan begitu kuatnya keterkaitan antara iman dan surga, orang-orang mukmin yang berbuat dosa pun masih berpeluang untuk masuk surga. Sudah barang tentu setelah mereka menjalani terlebih dahulu balasan siksa atas perbuatan dosa mereka. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Telah datang kepadaku utusan dari Tuhanku, lalu ia memberitahukan kepadaku atau memberikan kabar gembira kepadaku bahwa barangsiapa mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, ia akan masuk surga. Aku (Abu Zarr) bertanya: Walaupun orang itu berzina dan mencuri?” Rasulullah menjawab, “Walaupun orang itu berzina dan mencuri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Amal Kebajikan Non Muslim Bagaikan Debu

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan [25]: 23). Amal-amal baik yang mereka kerjakan di dunia. Amal-amal itu tidak dibalas oleh Allah karena mereka tidak beriman.

Rasulullah saw bersabda, “Amal-amal orang kafir bagaikan debu yang ditiup angin pada hari yang berbadai.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain dinyatakan, dari Abu Hurairah RA, Nabi Saw bersabda, “Tidak ada amal yang diterima dari orang kafir kecuali iman.” (HR. Muslim). Juga dalam hadis lainnya dinyatakan, Dari Umar bin Khaththab RA, Nabi Saw bersabda, “Amal-amal orang kafir tidak diterima oleh Allah, sebagaimana firman-Nya: “Maka adapun orang-orang yang kafir, maka akan Aku azab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, sedang mereka tidak memperoleh penolong”. (QS. Ali Imran [3]: 56). (HR. Ahmad). Maka amal orang kafir tidak memiliki nilai di sisi Allah. Iman adalah syarat utama diterimanya amal. Allah tidak menerima amal kecuali dari orang yang beriman.

Masuk Surga Tanpa Hisab

Hisab adalah menghitung apa yang masih berceceran dan beraneka ragam untuk dijadikan dalam satu jumlah, dan kemudian jumlah tersebut akan digunakan sesuai dengan ketentuan.

Setiap manusia pasti punya amal perbuatan yang beraneka ragam dan dalam jumlah yang banyak, baik amal yang bermanfaat atau amal yang membahayakan, amal yang bisa mendekatkan kepada Allah Swt, atau amal yang bisa menjauhkan dari Allah swt., tidak ada seorang pun yang mengetahui jumlahnya dan tidak seorang pun bisa mengetahui berapa macamnya. Apabila amal yang beraneka ragam dan jumlahnya cukup banyak itu sudah dikalkulasi, maka proses itulah yang disebut dengan hisab (penghitungan amal manusia).

Walaupun pada prinsipnya semua manusia akan melalui proess hisab di akhirat, namun sudah secara luas juga diketahui bahwa ada pihak-pihak tertentu yang diistimewakan Allah dengan masuk surga tanpa melalui proses hisab terdahulu. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm, “arwah para nabi dan syuhada disegerakan Allah untuk masuk ke surga, bahkan jauh sebelum datangnya hari Kiamat sesuai dengan penegasan ayat-ayat Al-Qur’an.”

Rasulullah Saw bersabda, “Aku telah diberi tujuh puluh ribu orang di antara umatku, mereka masuk surga tanpa hisab, wajah mereka seakan-akan bulan di malam purnama, dan kalbu mereka seakan-akan kalbu satu orang. Lalu aku memohon tambahan kepada Rabbku, maka Dia memberi tambahan kepadaku untuk masing-masing orang tujuh puluh ribu orang lagi.” (HR. Ahmad melalui Abu Bakar r.a.).

Untuk para nabi, masalahnya sangat jelas, karena mereka adalah manusia-manusia pilihan yang memang terpelihara dan terjaga dari kesalahan (ma’sum). Adapun tentang syuhada sesuai dengan penegasan Al-Qur’an, mereka tidaklah mati, melainkan tetap hidup di sisi Tuhan mereka di surga, seraya mendapatkan rezeki dari-Nya. Hanya saja, untuk para syuhada ada pengecualian, yakni syuhada yang memiliki beban tanggungan hak-hak anak Adam, seperti utang piutang, berbuat aniaya terhadap sesama manusia dan semacamnya. Mereka harus mempertangungjawabkan terlebih dahulu hal-hal tersebut di hari hisab. Rasulullah saw bersabda, “Diampuni untuk orang yang syahid segala dosa kecuali utang.” (HR. Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘As).

Rasulullah Saw, telah bersabda, “Para syuhada di lembah (tepi) sungai dekat pintu surga dalam bangunan berkubah berwarna hijau. Rezeki mereka datang dari surga setiap pagi dan petang.” (HR. Al-Hakim dan Ahmad). Dalam hadis lain disebutkan, “Seorang yang mati syahid diberi enam perkara pada saat tetesan darah pertama mengalir dari tubuhnya, semua dosanya diampuni (tertebus), diperlihatkan tempatnya di surga, dikawinkan dengan bidadari, diamankan dari kesusahan kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), diselamatkan dari siksa kubur dan dihiasi dengan pakaian keimanan.” (HR. Bukhari). Wallahu alam bish-shawwab.

-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washhliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *