oleh

Kamsul Hasan, Teman Serasa Saudara

Oleh : Nico Karundeng, Wartawan Senior

SALAH seorang teman karib saya di dunia adalah Kamsul Hasan. Kami satu kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta. Kamsul memang tidak sekelas di tingkat 1-3, tapi beliau mahasiswa yang banyak kawan.

Berperawakan tinggi kulit bersih dan wajah tampan, Kamsul sangat digemari mahasiswi yg bening-bening. Saya mulai akrab dengannya saat tingkat 3, sewaktu bergabung dalam Gabungan Angkatan Publisistik 80 yang ia dirikan bersama beberapa teman.

Salah satu kegiatan positif GAP melakukan lomba gerak jalan Budaya Betawi di kawasan Condet. Kegiatan ini sangat didukung oleh Wagub 1 DKI Edy Nalapraya yg asal Betawi. Kamsul sendiri anak Betawi, sehingga ia punya inisiatif menjaga kelestarian Kawasan Budaya Condet yang masih asri dengan rumah-rumah panggung khas Betawi.

Di samping itu kawasan Condet dipertahankan sebagai kebun salak dan dukuh. Tapi kini semua inisiatif itu tak berbekas Condet kini jadi belantara permukiman padat dengan beton di sana-sini. Apa boleh buat warga Betawi akhirnya tersingkir ke Depok dan Bogor.

Sejak duduk di tingkat 3 Kamsul sudah bekerja di Pos Kota, sehingga ia bisa menerapkan langsung ilmu yg didapat di tempat kuliah ke dunia profesinya sebagai wartawan. Betapa tidak sejak usia belia Kamsul sudah memimpin PWI Jakarta Timur.

Bahkan dalam tempo tidak lebih 2 tahun, Kamsul bergabung dengan wartawan yg meliput di balaikota Jakarta. Penguasaannya terhadap masalah perkotaan, Kamsul sangat dikenal pejabat mulai dari gubernur,wagub,kepala dinas dan walikota-walikota.

Apalagi saat ia menjadi ketua wartawan balaikota DKI dan Ketua PWI Jaya sebanyak 2 periode. Kecerdasannya terus belajar menjadikan Kamsul sosok wartawan profesional di bidang hukum pers.

Penguasaan materi UU Pokok Pers, ITE, Kode Etik Jurnalistik dan UU Perlindungan Anak dll membuat ia sering di dapuk menjadi nara sumber di beberapa instansi dan wartawan di daerah.

Pokoknya yg mengandung hukum pers, Kamsul Hasan adalah pakarnya saat ini. Apalagi ia juga merangkap dosen di sejumlah perguruan tinggi swasta.

Entah karena kesibukan, keberhasilannya di bidang profesi tidak berbanding lurus dalam urusan keluarga. Kamsul baru menikah di usia kepala 4. Ia mempunyai seorang anak perempuan yg baru berusia belasan tahun.

Memang, sejak kami sama-sama di harian Pos Kota, saya sangat akrab jalan bersama seperti makan dan menikmati dunia gemerlap ibukota. Kamsul yg berhasil mencapai karier gemilang sangat peduli teman yg kekurangan.

Bahkan sejak masih kuliah ia menyewa rumah untuk membantu teman-teman dari daerah yg kesulitan bayar uang kos. Kamsul dewa penolong sejumlah teman yg kini juga mencapai karier baik di dunia pers.

Beberapa tahun terakhir walau dirinya masih menjabat suatu jabatan strategis di PWl, tapi aktivitasnya agak terganggu karena digerogoti penyakit kronis. Namun, penyakit yg mengharuskannya beraktivitas memakai kursi roda tak menyurutkan niatnya bekerja.

Kamsul tetap menjalankan aktivitas menjadi nara sumber dalam seminar atau dialog zoommetting. Pokoknya semangat hidupnya sangat tinggi. Saat seniornya Sakti Sawung Umbaran meninggal, ia berusaha menyempatkan diri nyetir mobil ke TPU Menteng Pulo, Februari 2024. Rupanya itulah perjumpaan terakhir kami.

Kebaikan Kamsul sebagai wartawan bagi teman seprofesi terlihat tadi malam di rumah duka Tebet Barat ll. Sejumlah tokoh pers datang seperti Ketua PWI Pusat Hendry CH Bangun, Ketua PWI Jaya Kesit B Handoyo, Raja Parlindungan Pane, Naek Pangaribuan dan rekan-rekan mantan harian Pos Kota.

Senior kami Nelson Siahaan,  Dwiyantoro yg kini jadi notaris, Joko Sudadi, Rafles Lesmana, Tete Martadilaga, Supriyanto, Bambang Prihandoko, Faisal, Agus Santosa, Toto Irianto, dan  Syahrul Ayung Syam.

Selamat jalan saudaraku Kamsul Hasan, tokoh pers nasional dan ahli hukum pers ……..

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *