TERLALU BANYAK DUDUK BERDAMPAK PADA KEMATIAN DINI – Poskota.co
Saturday, September 23

TERLALU BANYAK DUDUK BERDAMPAK PADA KEMATIAN DINI

POSKOTA.CO – Kita sudah sering mendengar bahwa makin jarang bergerak Anda, makin besar berdampak pada kematian dini. Tentu kita tak mau hidup yang indah ini harus cepat berakhir hanya gara-gara kurang bergerak.

Tetapi, masalahnya bukan hanya seberapa banyak yang kita habiskan untuk duduk, melainkan juga seberapa efisien atau tidak efisien kita membakar kalori.

Dalam sebuah studi yang dimuat dalam American Journal of Preventive Medicine , para peneliti menunjukkan bahwa berkurangnya waktu duduk akan memperpanjang usia.

Dari sebanyak 93.000 wanita usia menopause yang terlibat dalam studi ini, mereka yang duduk lebih dari 11 jam setiap hari memiliki risiko kematian dini 12 persen dibandingkan dengan wanita yang hidupnya aktif.

Secara spesifik, mereka yang jarang bergerak (sedentari) berpotensi meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, jantung koroner dan kanker.

Sebenarnya, mengapa terlalu banyak duduk bisa menyebabkan efek yang begitu buruk? Riset menunjukkan, duduk dalam waktu lama akan mematikan sistem metabolisme yang juga mematikan molekul yang disebut lipoprotein lipase (LPL) yang sebenarnya bekerja untuk menggunakan lemak sebagai energi.

Jika Anda sehari-harinya stuck di belakang meja, mulailah untuk memperbanyak waktu bergerak. Perkantoran di negara maju saat ini mulai menggunakan meja kerja berdiri.

Jika tidak memungkinkan, mulailah untuk lebih banyak berjalan-jalan di sekitar kantor. Lupakan kebiasaan makan di meja kerja, tetapi manfaatkan waktu istirahat siang untuk berjalan kaki ke kantin yang agak jauh. Sesekali coba naik tangga ketimbang lift, atau hampiri rekan kerja di departemen sebelah ketimbang meneleponnya.

Menurut siaran pers, peneliti melihat data yang dikumpulkan dari 54 negara antara 2002 dan 2011. Mereka menemukan, lebih dari 60 persen dari populasi dunia, duduk lebih dari tiga jam per hari, dengan rata-rata sekitar 4,7 jam per hari.

Jumlah tertinggi kematian akibat duduk lama terjadi di wilayah Pasifik Barat dan sebagian Eropa. Lebanon dan Belanda menempati puncak sebagai negara dengan kematian terbanyak akibat duduk lama, sementara Meksiko dan Myanmar memiliki kematian terkait duduk lama paling sedikit.

Para peneliti menemukan, mengurangi duduk dapat meningkatkan harapan hidup secara keseluruhan, sementara mengurangi duduk selama dua jam per hari dapat menurunkan angka kematian individu sebesar 2,4 persen. Bahkan, duduk selama satu jam atau kurang per hari dapat memiliki dampak sangat positif pada risiko kematian.

“Hal ini penting untuk meminimalkan perilaku kurang aktif demi mencegah kematian dini di seluruh dunia,” kata penulis utama studi tersebut. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)