POLISI MEKSIKO TEMUKAN TEROWONGAN RAHASIA MENUJU AS – Poskota.co
Wednesday, September 20

POLISI MEKSIKO TEMUKAN TEROWONGAN RAHASIA MENUJU AS

POSKOTA.CO – Otoritas Meksiko berhasil menemukan sebuah terowongan rahasia yang menghubungkan negara bagian Sonora di barat laut Meksiko menuju Arizona, Amerika Serikat.

Temuan terowongan rahasia tersebut disampaikan Komisi Keamanan Nasional Meksiko (CNS), sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Senin (29/8).

Disampaikan CNS, terowongan rahasia itu ditemukan saat kepolisian Meksiko, yang tengah memeriksa sebuah pipa drainase yang melintasi perbatasan, memperhatikan adanya perbedaan di permukaan beton di sebuah titik.

Setelah mengangkat sejumlah material, para petugas menemukan adanya ‘galian rahasia’ sebuah terowongan yang panjangnya sekitar 1,5 meter di wilayah Meksiko, dan lebih dari 30 meter panjangnya di wilayah AS.

“Separuh dari terowongan itu ditunjang oleh balok-balok kayu, sisanya bebatuan dan debu. Tampaknya masih dalam proses pembangunan, tanpa jalan keluar menuju ke permukaan,” demikian disampaikan CNS.

Selama ini, otoritas Meksiko dan Amerika Serikat kerap menemukan terowongan tersembunyi seperti itu. Mereka menduga terowongan tersebut digunakan oleh sindikat narkoba atau imigran ilegal yang mencoba menyeberang ke Negeri Paman Sam.

Sebelumnya pada April 2015, otoritas AS menemukan terowongan terpanjang yang digunakan untuk mendatangkan narkoba dari Meksiko. Terowongan sepanjang 800 meter tersebut menghubungkan Tijuana, Meksiko dengan Otay Mesa, bagian dari kota San Diego, California, AS. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara