oleh

WAWAN KECEWA PADA MAJELIS HAKIM

Senyum Wawan cuma sedikit
Senyum Wawan cuma sedikit

POSKOTA.CO – Pengusaha Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan merasa kecewa terhadap vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap dirinya dalam perkara pemberian suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochar terkait pengurusan pemilihan kepala daerah (pilkada) kabupaten Lebak dan Banten.

“Saya dimintai bantuan karena terpaksa dan dipaksa. Kalau ditanya perasaan tentu ada rasa kecewa karena niat untuk membantu saja tidak ada,” kata Wawan seusai sidang pembacaan vonis di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jakarta, Senin.

Wawan dalam perkara ini divonis penjara selama lima tahun dan pidana denda Rp150 juta subsider tiga bulan penjara karena dinilai terbukti memberikan suap kepada Akil Mochtar sebesar Rp1 miliar terkait sengketa pilkada Lebak dan Rp7,5 miliar terkait sengketa pilkada Banten.

“Di persidangan bisa dilihat, dibuktikan dari saksi-saksi juga sudah memberikan keterangan dan bisa dinilai oleh teman-teman wartawan,” tambah Wawan. Namun Wawan belum memutuskan apakah akan mengajukan banding atau tidak.

“Tadi saya sudah sampaikan perlu waktu untuk berbicara dengan keluarga dengan pengacara. Nanti kita putuskan semingggu,” ungkap Wawan.

Dijebak Wawan melihat ia hanya dijebak oleh pasangan calon bupati Amir Hamzah dan Kasmin melalui pengacara mereka, Susi Tur Andayani.

“Bukan tidak adil. Rasa kecewa ada karena persoalan adil hakim yang memutuskan tapi rasa kecewa karena niatan untuk membantu Amir dan Susi saja tidak. Dalam persidangan sudah dilihat saya dijebak,” tambah Wawan.

Adnan Buyung Nasution sebagai salah satu pengacara Wawan mengatakan bahwa putusan tersebut melanggar azas keadilan.

“Apalagi Amir Hamzah adalah otak kepentingan. Penuntutan sangat melanggar azas keadilan,” kata Adnan Buyung.

Hakim dalam perkara ini menilai bahwa Susi adalah pihak yang lebih berperan dalam pemberian hadiah atau janji kepada Akil dibandingkan Wawan.

“Menimbang bahwa terdakwa Tubagus Chaeri Wardana dan Susi Tur Andayani sama-sama melakukan tindak pidana korupsi berkaitan pilkada Lebak. Jika ditilik dari perannya, Susi jauh lebih berperan dalam tindak pidana itu dibanding Tubagus Chaeri Wardana. Susi Tur Andaytani demikian aktif berkontak dengan Akil Mochtar membicarakan untuk meminta bantuan dan membicarakan imbalan ucapan terima kasih termasuk meminta bertemu Ratu Atut Chosiyah(gubernur Banten,red) yang belum pernah bertemu dan mengenal satu sama lain untuk meminta dukungan dana, juga meminta bantuan terdakwa untuk bersedia membantu perkara Amir Hamzah-Kasmin dengan menyediakan uang untuk diserahkan kepada Akil Mcohtar,” kata ketua majelis hakim Matheus Samiadji.

Sedangkan dalam perkara pilgub Banten terdapar perbedaan karena Wawan memberikan uang atau hadiah kepada Akil Mochtar sedangkan Susi berkaitan dengan Lampung Selatan sehingga baik Susi maupun Wawan melakukan dua tindak pidana terkait Akil dengan dalam dua perkara yang berbeda.

“Karena tuntutan kedua berbeda yaitu terdakwa Wawan dituntut lebih tinggi dari Susi Tur Andayani. Terdakwa juga masih diproses sebagai tersangka dalam perkara Alkes dan perkara pidana pencucian uang yang nanti harus dihadapi di persidangan Pengadilan Tipikor,” ungkap Matheus.

Putusan Wawan tersebut berdasarkan pasal 6 ayat 1 huruf a UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU no 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan kesatu dan melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut berdasarkan pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *