oleh

SPANYOL MERINDUKAN KEPEMIMPINAN SEPERTI CARLES PUYOL Oleh : dann julian

puyolPOSKOTA.CO – Pelatih jenius asal Italia, Fabio Capello, yang kini menangani Rusia pernah mengatakan, “Saya paling benci jika timku kalah karena takdir. Kami sudah berlatih, menyiapkan strategi, tiba-tiba kalah oleh hal yang tak kita mengerti, entah sial atau tiba-tiba kekuatan itu seperti ada yang mencabut.”

Sepakbola memang menyimpan banyak misteri. Yang terjadi kepada juara bertahan Spanyol di Piala Dunia 2014 termasuk misteri. Bagaimana tidak? Tim yang dipunggawai oleh nama-nama besar dengan ketrampilan tinggi, baik saat membela club-nya maupun timnas, tiba-tiba seperti kehilangan taji. Kekuatan itu seperti direnggut malaikat pencabut nyawa dengan tiba-tiba.

Spanyol dipermalukan Belanda 5 – 1, dan dipecundangi oleh Chile 2 -0, dan melawan Australia sudah tak ada pengaruhnya, koper sudah harus dipak, jadwal penerbangan mudik sudah ditentukan. Penggemar sepakbola seperti terganga, tak percaya, termasuk pelatihnya, Vicente del Bosque. Di pinggir lapangan, Bosque yang dahinya lebar itu sering mengernyit.

Pelatih Spanyol ini sebenarnya masih pede saat timnya dikalahkan Belanda. Ia berkeyakinan anak asuhnya masih bisa lolos di fase grup. Ia nampak menghibur anak buahnya di menit-menit terakhir ketika Belanda menghabisi pasukannya. Di bangku cadangan, kepala anak buahnya diusapnya satu-satu, seperti seorang Godfather yang sedang menebar kasih.

Namun ketika gol kedua Chili membobol Iker Casillas, Bosque nampak resah. Beberapa kali ia memegang hidungnya. Sesekali ia mengusap kumisnya yang putih. Ia mulai merasakan Spanyol berada di teras neraka yang tak ramah, dan pemain-pemain Chile seperti malaikat yang bengis terhadap anak buahnya.

“Ini hari yang menyedihkan bagi kami semua. Kami meminta maaf karena gagal terlalu dini , dan ada konsekwensinya” kata Bosque setelah Spanyol hanya meraih nol poin dari dua laga.

Apa yang terjadi sesungguhnya atas tim Spanyol? Mereka datang di final Piala Dunia Brazil 2014 sebagai juara bertahan. Spanyol juga penguasa ‘Benua Biru’ dengan menjadi juara Piala Eropa di 2008 dan 2012. Bahkan federasi sepakbola Spanyol menjanjikan bonus bagi setiap pemainnya sebesar Rp. 1,5 miliar jika bisa mempertahankan juara di Brazil.

Apa bonus besar ini tidak motivasi tersendiri? Tentu menjadi motivasi besar bagi para pemain Spanyol. Salah kalau ada yang menyebut punggawa Spanyol sudah kehilangan motivasi, lantaran ‘sudah bosan’ menjadi juara.

Banyak juga yang mengatakan, kekalahan Spanyol yang mengenaskan itu karena tika tiki sudah diketahui cara mematikannnya. Yang berkomentar hal ini termasuk Jose Mourinho, pelatih yang semasa berkarir di Spanyol strateginya banyak dikandaskan tika tiki-nya Bercelona.

Benarkah begitu? Kalau menurut saya kekuatan Spanyol hilang bak dicabut nyawanya, karena ketiadaan Carles Puyol, dialah roh timnas Spanyol selama ini. Sayang di event Piala Dunia Brazil 2014 ini untuk pertama kalinya ia tak bermain karena mengundurkan diri dari timnas dengan alasan usia.

Maka timnas Spanyol serasa ada yang mencabutnya. Puyol adalah prototype pemain matador : ulet, gigih, skill-nya mumpuni, postur tubuhnya tinggi dan sangat kuat staminanya, sering mencetak gol dengan duel udara, dan yang penting kepemimpinannya sangat mempengaruhi rekan-rekannya di timnya.

Teman-temannya di tim sangat segan terhadap Puyol. Bahkan Sergio Ramos, temannya di timnas yang menjadi musuh di level club karena berada di kubu Real Madrid pernah mendorong keras Puyol. Sehingga tubuh berambut gondrong ini terpelanting keras saat laga clasico Barcelona kontra Real Madrid.

Namun usai laga, Puyol berkomentar enteng, “Itu hanya di lapangan, di luar lapangan kami tak ada masalah lagi…” Jiwa besar dan kepemimpinannya sangat menonjol. Banyak pengamat meyakini, di event sepakbola besar mendatang, baik Piala Eropa dan Piala Dunia, Spanyol masih memiliki talenta-talenta hebat, pengganti pemain yang berlaga di Brazil.

Memang, akademi-akademi sepakbola di Spanyol tak pernah berhenti mencetak pamain hebat. Cuma yang jadi pertanyaan, apakah ada yang bisa menggantikan Puyol dengan kepemimpinan yang penuh wibawa dan sangat berpengaruh?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *