oleh

PEMBUANG PASIEN DIVONIS 14 BULAN PENJARA

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Enam terdakwa pembuang pasien kakek Suparman alias Edi di RSUD A Dadi Tjokrodipo Bandarlampung, divonis masing-masing 14 bulan penjara, karena terbukti telah menelantarkan pasien sampai mengakibatkan kematian.

Ketua majelis hakim Nursiah Sianipar dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kelas I A Tanjungkarang, Bandarlampung, Rabu, menyatakan enam terdakwa secara sah bersalah melanggar pasal 306 ayat 2 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP tentang menelantarkan pasien yang mengakibatkan kematian.

Keenam terdakwa:
o. Muhaimin,33,pegawai honorer
o. Rika Ariadi,31, pegawai honorer,
o. Andika,25, office boy,
o. Andi Febrianto,25,office boy,
o. Adi Subowo,21,office boy,
o. Rudi Hendra Hasan,38, juru parkir,

Hal yang memberatkan terdakwa, yakni mereka telah meresahkan masyarakat karena menimbulkan rasa takut dan tidak nyaman bagi masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan pengobatan serta perawatan yang layak.

Sedangkan hal yang meringankan, para terdakwa bersikap sopan dan belum pernah dihukum. Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) Eka Aftarini menuntut terdakwa masing-masing 18 bulan penjara. Menanggapi putusan tersebut, JPU dan enam terdakwa menerimanya.

Berdasarkan dakwaan JPU, RSUD A Dadi Tjokrodipo pada Jumat (17/1) sekitar pukul 21.00 WIB menerima pasien bernama Suparman dan dirawat di bagian Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Berdasarkan diagnosa, pasien mengalami Dehidrasi Low Intake, atau kekurangan asupan makanan serta minuman dan infeksi bakteriil. Dia lalu dirawat di ruang E2.

“Selama perawatan tersebut pasien sering mengamuk, berteriak-teriak, gelisah dan sulit diajak komunikasi. Pada Senin (20/1) sekitar pukul 10.00 WIB saksi Mahendri selaku Kepala Ruangan E2 menemui saksi Heriansyah yang merupakan Kasubag Umum dan Kepegawaian,” katanya.

Heriyansyah juga memberikan perintah untuk membuang pasien bernama Suparman tersebut, tapi saksi Mahendri berkordinasi dahulu dengan pihak keluarga pasien di Kelurahan Kota Karang Raya.

Pada Senin (20/1) sekitar pukul 14.00 WIB, saksi Mahendri menemui terdakwa Andika, terdakwa Andi dan terdakwa Adi meminta mereka untuk tidak pulang. “Jangan pulang dulu kita akan membuang pasien yang tidak ada keluarganya di ruang E2,” katanya.

Dia mengungkapkan selain menyuruh ketiga orang tersebut pada pukul 15.30 WIB saksi Mahendri menelpon terdakwa Muhaimin membawa mobil ambulans ke ruang rawat inap E2, dan menelepon terdakwa Rika untuk mengurus pasien tersebut.

Selanjutnya, terdakwa Muhaimin datang ke ruangan E2 dan melihat Mahendri serta Heriyansyah sedang berada di dalam ruangan.

Tidak lama kemudian keduanya keluar ruangan, saksi Mahendri berkata kepada Muhaimin bahwa mereka akan membuang pasien gila di ruang E2.

“Mahendri meminta pertolongan anak PKL yakni saksi Riko dan Roma, untuk memasukkan pasien itu ke dalam mobil ambulans,” katanya.

Kemudian, saat pasien masuk saksi Muhaimin, bertanya kepada terdakwa Heriyansyah akan dibawa ke mana pasien ini. Heriyansyah menjawab letakkan saja di pasar atau tempat-tempat yang ramai.

“Saksi Muhaimin bersama dengan Rudi, Andi, Adi, Rika dan Andika pergi dari rumah sakit tersebut untuk membuang kakek Suparman ke sebuah gubuk di pinggir Jl Raden Imba Kesuma Kelurahan Sukadanaham Kecamatan Tanjungkarang Barat Bandarlampung,” katanya lagi.

JPU melanjutkan pada selasa (21/1) pasien tersebut ditemukan warga dalam kondisi lemah dan tidak bisa bicara.

Lalu dia dibawa kembali ke RSUD Dadi Tjokrodipo, namun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) dan enam jam kemudian pasien tersebut meninggal di RSUDAM. Dia menjelaskan kasus pembuangan kakek ini mencuat dalam pemberitaan media massa.

Pada Rabu (22/1) Mahendri meminta saksi dr Pratia Megasari untuk dibuatkan surat rujukan mundur, yakni tanggal Senin (20/1) dengan alasan kelengkapan administrasi, karena pasien atas nama Suparman, telah dirujuk ke RSJ Kurungan Nyawa tanpa dilengkapi surat rujukan dari dokter.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *