EKS BUPATI KENDAL AKUI TERIMA UANG DARI DAMAYANTI – Poskota.co
Wednesday, September 20

EKS BUPATI KENDAL AKUI TERIMA UANG DARI DAMAYANTI

POSKOTA.CO – Bupati Kendal periode 2010-2015 Widya Kandi Susanti menerima uang Rp150 juta dari Damayanti Wisnu Putranti saat kampanye Pilkada 2015. Uang itu disebut Widya untuk keperluan partai selama pilkada.

Widya kemudian menceritakan awal mula pemberian uang tersebut saat ia menjadi saksi terdakwa Damayanti di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (1/8). Ia mengaku baru kenal Damayanti saat itu juga, ketika uang tersebut diberikan.

“Kenalnya mendadak, jadi tanggal 29 November hari Minggu sore sekitar jam lima saya ditelepon oleh sekretaris saya di DPC PDIP Kabupaten Kendal. Saya disuruh segera kembali ke sekretariat, kan waktu itu saya sedang sosialisasi juga dalam rangka pilkada. Saya diminta kembali karena mau ada sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dari DPR-RI. Waktu itu saya sosialisasi di daerah pegunungan,” tutur Widya.

Selanjutnya di Sekretariat DPC PDIP, Widya bertemu Julia Prasetyarini dan Dessy A Edwin. Sekitar 20 menit kemudian baru Damayanti tiba di sekretariat.

“Baru saat itu kami kenal dengan Bu Damayanti. Bu Damayanti ishoma (istirahat salat makan) di rumah saya. Ketika mau pulang, beliau nitip ngasih saya bungkusan, terus mengatakan ini ada bantuan sedikit untuk partai. Setelah itu beliau pergi,” ungkap Widya.

Bungkusan berbentuk amplop coklat tersebut kemudian ditaruh Widya di kamarnya. Baru keesokan paginya ia buka dan mendapati ada Rp150 juta di dalamnya. “Baru paginya saya hitung ada uang Rp150 juta. Saat itu juga saya telepon sekretaris DPC untuk mengambil uangnya. Saat itu juga diambil,” ujar Widya yang pada Pilkada 2015 gagal terpilih lagi sebagai bupati Kendal.

Widya menjelaskan, ia menerima uang dari Damayanti pada 29 November 2015. Sementara pencoblosan digelar pada 9 Desember 2015. “(Uang itu) untuk konsolidasi partai di enam dapil. Kegiatan mulai PAC sampai ranting, ada konsumsi ada operasional, semuanya,” jelas Widya.

Ditanya apakah tidak curiga dengan asal-usul uang pemberian tersebut, Widya mengaku itu merupakan hal yang wajar di PDIP. “Sebelum ada pemberitaan (tidak curiga), karena itu hal yang sewajarnya. Apalagi di PDIP ada istilah gotong-royong,” kata Widya.

Namun, setelah menyaksikan di media bahwa Damayanti terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK, Widya langsung berinisiatif untuk mengembalikan uang tersebut pada April 2016. “Itu kesadaran dan kewajiban saya, atas kasus yang terjadi. Saya baca berita. Saya tidak tahu (dari mana uangnya),” pungkas Widya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_3182" align="alignnone" width="300"] ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO- Hukuman mati yang disandang Silvester Obiekwe alias Mustofa,50, Warga Negara Nigeria tidak membuatnya sadar. Justru Silvester Obiekwe alias Mustofa kembali menjalankan bisnis haramnya. Ulah si hitam itu akhirnya dibongkar aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), dari dalam Lembaga Pemasyarakatan(Lapas) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Aksi Obiekwe dibantu oleh teman satu selnya bernama Andi,32.” Dia mengendalikan bisnis narkobanya dari balik jeruji besi. Meski sudah divonis mati tidak membuatnya jera,” kata Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, Jumat(30/1). Anang menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah petugas BNN menerima inpormasi intelijen, yang menyebutkan bisnis narkoba asal Goangzu, Tiongkok dikendalikan oleh Silvester Obiekwe alias Mustofa, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Berkat informasi itu, kata Anang, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB. Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti berupa 1.794 gran shabu. "Kami lakukan pengembangan ke kontrakan di kawasan Kemayoran dan kembali menemukan barang bukti sabu 5.828 gram. Disembunyikan di dalam kardus. Sabu tersebut dikemas dalam 56 pastik berukuran sedang. Jadi total sabunya 7.622 gram," ungkap mantan Deputy Pencegahaan BNN ini. (sapuji)