MAHREZ DIBANDEROL LEICESTER 45 JUTA POUNDSTERLING – Poskota.co

MAHREZ DIBANDEROL LEICESTER 45 JUTA POUNDSTERLING

POSKOTA.CO – Juara Liga Primer Inggris musim 2015/2016 Leicester City sejauh ini optimistis Riyad Mahrez tetap bertahan di King Power namun dengan memberikan banderol tinggi sebagai antisipasi jika mereka tak bisa menahan kepergian Mahrez.

Leicester baru saja kehilangan gelandang jangkar mereka, N’Golo Kante, yang hijrah ke Chelsea dengan nominal 30 juta poundsterling. Selain Kante, nama Mahrez tentunya tidak bisa disisihkan begitu saja bila membicarakan kesuksesan ‘The Foxes’ juara Liga Primer Inggris musim lalu.

Mahrez mempersembahkan 17 gol dan menjadi penyumbang gol terbanyak kedua bagi ‘The Foxes’ di bawah striker Jamie Vardy. Aksi Mahrez di lini tengah Leicester membuatnya terpilih jadi pemain terbaik musim lalu.

Dengan sederet prestasi tersebut, Leicester menginginkan harga yang lebih tinggi bila Mahrez benar-benar pergi. Dilansir dari Telegraph, Leicester ingin Mahrez dibanderol dengan harga 45 juta poundsterling.

Langkah Leicester menetapkan harga tinggi tersebut merupakan langkah antisipasi, karena mereka sejauh ini yakin bisa mempertahankan Mahrez.

Angka 45 juta poundsterling sejatinya merupakan angka yang masih mudah dijangkau klub-klub pemburu Mahrez. Jadi, banderol itu tak akan benar-benar menghentikan langkah klub-klub pemburu yang benar-benar serius ingin mendapatkan gelandang asal Aljazair itu.

Meskipun secara teknik kepergian Mahrez akan meninggalkan celah besar, namun secara finansial penjualan Mahrez adalah langkah penuh keuntungan bagi Leicester. ‘The Foxes’ hanya menggelontorkan dana 500 ribu euro saat merekrut Mahrez dari Le Havre, dan bakal mendapatkan untung puluhan kali lipat bila melepas Mahrez ke klub lain musim panas ini.

Mahrez masih terikat kontrak hingga 2019, dan tak ada klausul pelepasan dalam kontrak miliknya, beda halnya dengan N’Golo Kante. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)