EZRA WIIAN BERSERAGAM BOLTON WANDERERS TERGANTUNG NEGOSIASI KONTRAK – Poskota.co

EZRA WIIAN BERSERAGAM BOLTON WANDERERS TERGANTUNG NEGOSIASI KONTRAK

POSKOTA.CO – Ezra Walian, penyerang naturalisasi Timnas Indonesia asal Belanda, telah selesai menjalani trial di klub kasta kedua Liga Inggris (Championship) Bolton Wanderers. Kemungkinan Ezra berseragam Bolton Wanderers tergantung dari negosiasi kontrak.

Ezra merupakan salah satu dari delapan pemain yang menjalani tes bersama Bolton saat ini. Penyerang 19 tahun itu sudah menjalani tes bersama Bolton sejak musim lalu, seperti dikutip dari The Bolton News.

Ezra Walian

Manajer Ezra, Wide Putra Ananda mengatakan, hingga kini belum ada keputusan terkait kontrak bersama Bolton. Wide memastikan semuanya tergantung negosiasi kontrak dengan mantan klub kapten Chelsea, Gary Cahill, tersebut. “Masih belum (Ezra di Bolton). Tergantung negosiasi kontraknya,” ujar Wide, Senin (24/7).

Bolton pun bukan satu-satunya klub di Inggris yang dihubungkan dengan Ezra. Sebelumnya, Reading juga sempat dikabarkan tertarik dengan Ezra.

Wide mengklaim bukan hanya klub-klub dari Inggris yang tertarik dengan Ezra. Penyerang Timnas Indonesia U-22 itu dikatakan Wide juga mendapat tawaran dari klub-klub di Belanda, Belgia, Yunani dan Turki. “Masih negosiasi semua, masih mencari penawaran yang cocok. Peluang ya sama besar semua, tinggal yang cocok, dan Ezra juga merasa nyaman,” ujar Wide.

Ezra saat ini sedang tidak memiliki klub setelah memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya bersama Jong Ajax akhir musim lalu, karena kurangnya menit bermain.

Wide menjelaskan, kliennya tak ingin terlalu terburu-buru menentukan klub baru. “Pertimbangan utama memilih klub baru adalah menit bermain,” tutur Wide.

Beberapa waktu, Glenn Walian menjelaskan, klub baru tersebut setidaknya bisa memberikan jaminan tampil pada Ezra dalam 20 hingga 25 laga per musim. “Di Inggris atau Belanda, sebuah klub bertanding selama 35 kali dalam satu musim. Setiap pekannya, mereka melakoni satu atau bahkan dua laga,” ungkap Glenn.

“Apabila bisa bermain antara 20 sampai 25 pertandingan, itu bagus bagi dia. Terpenting, klub memainkan dia,” pungkas Glenn menambahkan.  (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.