oleh

Melepas Kepergian Ramadhan

BERBEDA dengan kebanyakan kita yang umumnya gembira menjelang hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Para sahabat Rasulullah SAW justru sebaliknya, mereka lebih banyak bersedih hati dan gundah-gulana.

Mengapa? ada dua penyebab mereka seperti itu: Pertama, dengan berlalunya Ramadhan maka hari-hari penuh berkah, rahmat, ampunan.

Dan berlipatgandanya pahala bagi setiap kebajikan, serta kehadiran atmosfer rohani yang kondusif untuk bertaqarub kepada Allah akan tiada lagi.

Padahal, mereka sadar sungguh tak ada jaminan dari Allah SWT apakah di tahun mendatang mereka masih akan diberi umur untuk bertemu dengan bulan ini lagi.

Karena itu, di penghujung Ramadhan mereka justru lebih fokus dan mengerahkan sekuat tenaga untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah.

Seperti bertadarus Al Qur’an, salat malam, berinfak, sedekah, serta menyantuni fakir miskin dan mereka juga menghabiskan waktu beritikaf di masjid.

Penyebab kedua, mereka khawatir seandainya seluruh bentuk amaliyah Ramadhan mereka tidak sempurna atau menjadi sia-sia.

Kualitas nilai puasa mereka, misalnya, ditakutkan sebagaimana ditenggarai oleh Rasulullah SAW hanyalah sekedar beroleh rasa haus dan lapar saja.

Atas dasar kedua alasan itu, dalam satu riwayat dijelaskan bahwa setiap malam penghabisan bulan suci Ramadhan.

Ali bin Abi Thalib sambil menampakkan wajah cemas dan gelisah serta berlinang air mata menyampaikan pertanyaan-pertanyaan retoris ini :

Wahai dapatkah kiranya aku mengetahui siapakah gerangan orang yang telah pasti diterima amalan puasanya, supaya aku dapat mengucapkan selamat berbahagia kepadanya?

Siapakah orang-orang yang bernasib malang karena tidak diterima puasanya oleh Allah SWT, supaya aku dapat menghibur hatinya?”

Ibnu Mas’ud juga kerap mengajukan pertanyaan: “Wahai saudaraku yang telah pasti diterima amaliyah puasanya, selamat dan berbahagialah dirimu.

Wahai saudaraku yang ditolak amaliyah puasanya, aku turut berdo’a semoga Allah SWT akan menutup bencana yang akan menimpa dirimu.”

Akhirnya kita berdo’a: Taqabbalallahu minnaa waminkum- ‘Semoga Allah menerima (amaliyah Ramadhan) diriku dan dirimu’. Wallahu a’lam bish shawab.

Aswan Nasution

Penulis adalah aktifis Al Washliyah, tinggal di Lombok, NTB

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.