OBAMA: TRUMP ‘BELUM SIAP’ JADI PRESIDEN – Poskota.co

OBAMA: TRUMP ‘BELUM SIAP’ JADI PRESIDEN

POSKOTA.CO – Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengecam calon presiden (capres) AS dari Partai Republik. Menurut dia, Donald Trump tidak layak menjadi seorang presiden.

Teguran keras Obama itu menyusul ‘serangan’ Donald Trump terhadap keluarga tentara muslim AS yang gugur di Irak. “Calon Partai Republik (Trump) tidak layak menjadi presiden,” kata Obama dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih dengan Perdana Menteri Singapura, Selasa (2/8).

Menurut Obama, gagasan Trump yang akan menyerang keluarga dari orang yang melakukan pengorbanan luar biasa seperti atas nama negara adalah fakta bahwa Trump tidak memiliki pengetahuan dasar tentang isu-isu penting di Eropa, Timur Tengah dan Asia. “Berarti sayangnya dia tidak siap untuk melakukan pekerjaan ini,” kata Obama seperti dikutip dari CNN.

Saat berbicara bersama PM Singapura Lee Hsien Loong di Gedung Putih, Obama mengatakan, sekarang ada episode mingguan di mana bahkan pemimpin Partai Republik menjauhkan diri dari Trump. “Harus ada titik di mana Anda mengatakan ‘cukup’,” ujar Obama.

Khawatir Curang
Sementara itu capres AS dari Partai Republik, Donald Trump, kembali mengeluarkan pernyataan kontroversi dengan mengatakan kekhawatirannya akan terjadi kecurangan pada pemilihan presiden pada 8 November mendatang.

“Saya khawatir pemilihan 8 November mendatang akan diwarnai kecurangan, kita harus hati-hati,” kata Trump selama pidato di Balai Kota Columbus, Ohio, seperti yang dilansir BBC, Selasa (2/8).

Pernyataan terkait kecurangan dalam pemilu tersebut sebelumnya tidak pernah diucapkan oleh para kandidat presiden pendahulu. Trump menjadi calon presiden Negeri Paman Sam pertama yang mengucapkan hal itu, dengan hanya bersandar pada  kemenangan rivalnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton yang berhasil mengalahkan Bernie Sander pada Konvensi Nasional Partai Demokrat.

Kontroversi lainnya juga dibuat Trump saat menyebut Hillary sebagai ‘setan’. Pernyataan yang disampaikan ketika taipan properti asal New York tersebut berada di Pennsylvania. Ia menyatakan kata itu dalam menanggapi dukungan Sanders kepada Hillary. “Sanders telah membuat pernjanjian dengan ‘setan’. Dia (Hillary) adalah ‘setan’,” ujar Trump.

Sebelumnya Trump juga telah diserang atas pernyataannya baru-baru ini kepada orang tua dari prajurit AS keturunan Pakistan yang meninggal di Afghanistan pada 2004. Kritikannya ditujukan kepada orangtua dari Humayun Khan yang tewas oleh bom mobil pada 2004 di Irak, pada usia 27 tahun.

Trump menyerang orang tua Khan yang berpidato pada Konvensi Nasional Partai Demokrat yang menuduhnya belum berkorban untuk AS. Dia lantas membalasnya dengan mengatakan bahwa ayah Khan tidak menghargai istrinya yang hanya berdiri diam di sampingnya seolah-olah dilarang untuk berbuat apa-apa. Berbagai kecaman pun datang dari pelbagai pihak, bahkan dari dalam partainya sendiri.

Trump dikenal dengan beberapa pernyataan kontroversialnya terutama yang ditujukan untuk menyerang lawannya menuju Gedung Putih, Hillary. Namun serangan demi serangan yang dilancarkannya justru makin meningkatkan elektabilatas istri dari mantan presiden AS, Bill Clinton.

Berdasarkan survei terbaru yang dibuat CNN dan CBS News, Hillary memimpin tujuh poin atas Trump terkait jumlah pemilih nasional pada pemilu mendatang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)