harmono 13/11/2018

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

SENI bukan monopoli para seniman sekolahan atau ahli-ahli menjabarkan seni dalam berbagai sudut pendekatan dan teori. Seni milik setiap insan manusia. Seni adalah refleksi akal budi. Menjelaskan dan mengajarkan seni secara formal seringkali sebatas tahu dan menghafal orang yang terkenal. Apa yang ada di depannya atau di sekelikingnya, atau apa yang pernah dibuat dan dilakukanya hilang menguap. Karena yang ada di lingkunganya tidak mampu diapresiasi dan dinikmati, maka kagumlah akan kata banyak orang tentang seni terutama yang berbau luar negeri.

Kalau sudah yang mengatakan orang asing langsung dicap benar. Hanya orang asing yang sudah datang itulah yang dianggap sebagai turis. Yang lokalan dianggap kampret. Kalau menjelaskan dengan pendapat-pendapat orang asing langsung diamini dan dikagumi.

Jujur kalau mau dipahami, apa yang ada di negeri ini sangat luar biasa. Apa saja ada, apakah kita tidak mampu menata dan memberdayakanya? Mungkin saja begitu.

Tatkala para pemimpin pejabatnya tergila-gila luar negeri, maka kebijakan-kebijakannya akan mengabaikan negerinya sendiri. Apa yang dibuat didahului studi banding, belanja, piknik dan sebagainya, semua serba luar negeri. Hingga seniman-senimannya pun kalau ngegambus atau diambus luar negeri dianggap jelek, kampungan kelas bawah, dan murahan.

Seni yang kampungan murahan ini sebenarnya karakternya tinggi karena karyanya untuk hidup di dunia sampai dengan menghantar arwahnya ke alam baka. Lihat saja seni-seni suku-suku bangsa yang sering dikatakan tribal art. Adakah apresiasi dari pengamat anak negeri atau penguasa jagat bangsa ini? Hampir tidak ada semua dikoleksi dan dibukukan oleh orang asing. Nanti diakui atau diambil orang asing baru nyak-nyakan seakan pahlawan kesiangan yang mulai teriak kiri kanan.

Seni refleksi akal budi sayangnya penempatan, pemaknaan, dan apresiasinya setengah hati. Membuat seni tradisi terkikis gerusan globalisasi, semoga patriot seni tidak lagi terbelenggu, sadar dan berani meneriakkan kebenaran untuk lestarinya peradaban bangsa ini. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*