harmono 12/05/2017
Brigjen Crisnanda Dwi Laksana
Brigjen Crisnanda Dwi Laksana

SENI sebagai tanda adanya manusia memiliki akal budi yang mampu meniru alam, mengungkapkan perasaan, membuat simbol-simbol dan bahkan mampu merajut berbagai perbedaan menjadi suatu kebhinekaan.

Seni sebagai simbol adanya nalar dan budi, yang maknanya ada logika dan hati nurani. Seni bisa menerima argumentasi bahkan berani menolak sesuatu yang memaksa untuk penyeragaman. Pemaksaan-pemaksaan dan penyeragaman-penyeragaman bisa dikatakan pokok e yang menunjukkan pekok e.

Homo homini lupus, manusia sering kali kehilangan nalarnya untuk menerkam sesamanya. Budinya tertutup kabut yang tidak mampu melihat manusia lain sebagai sesamanya.

Seni mengasah budi untuk semakin tajam dalam hal memanusiakan manusia. Seni membuka mata hati. Seni membuat nalar mau menerima perbedaan dan mampu memberdayakannya dalam kebhinekaan.

Captive mind, otak yang terbelenggu membuat budi buta bahkan tidak lagi menikmati. Yang keluar dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya antikemanusiaan. Seni membongkar tempurung captive mind yang membuat semakin manusiawi dalam membangun manusia yang seutuhnya. (*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :