SENI DALAM BINGKAI KEBHINEKAAN – Poskota.co

SENI DALAM BINGKAI KEBHINEKAAN

Brigjen Crisnanda Dwi Laksana
Brigjen Crisnanda Dwi Laksana

SENI sebagai tanda adanya manusia memiliki akal budi yang mampu meniru alam, mengungkapkan perasaan, membuat simbol-simbol dan bahkan mampu merajut berbagai perbedaan menjadi suatu kebhinekaan.

Seni sebagai simbol adanya nalar dan budi, yang maknanya ada logika dan hati nurani. Seni bisa menerima argumentasi bahkan berani menolak sesuatu yang memaksa untuk penyeragaman. Pemaksaan-pemaksaan dan penyeragaman-penyeragaman bisa dikatakan pokok e yang menunjukkan pekok e.

Homo homini lupus, manusia sering kali kehilangan nalarnya untuk menerkam sesamanya. Budinya tertutup kabut yang tidak mampu melihat manusia lain sebagai sesamanya.

Seni mengasah budi untuk semakin tajam dalam hal memanusiakan manusia. Seni membuka mata hati. Seni membuat nalar mau menerima perbedaan dan mampu memberdayakannya dalam kebhinekaan.

Captive mind, otak yang terbelenggu membuat budi buta bahkan tidak lagi menikmati. Yang keluar dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya antikemanusiaan. Seni membongkar tempurung captive mind yang membuat semakin manusiawi dalam membangun manusia yang seutuhnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)