harmono 21/11/2018

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

SEMAR ngopi bukan semar memfoto kopi, bukan pula sekadar semar dan kopi melainkan semar sang local genius menikmati aroma dan segarnya kopi.

Semar maupun kopi sama-sama menjadi ikon. Semar ikon kebijaksanaan sang pamomong dewa shang hyang ismaya yang menitis hidup sebagai manusia yang papa sederhana hidupnya. Namun semar tetap bercahaya, ia berwibawa bukan karena pangkat dan jabatannya tetapi karena kiprah dan pencerahannya.

Semar sebagai punokawan, sebagai simbol melayani mengabdi setulus hati. Semar menjadi lambang kekuatan, kelembutan, pencerahan, kesederhanaan, kesadaran, ketulusan, pengabdian bahkan keabadian.

Kopi juga merupakan ikon dalam menikmati hidup, kopi menjadi pelengkap budaya dan peradaban manusia. Aroma pahitnya semua menjadi penguat karakter kopi. Menyeruput kopi yang berarti menikmati aroma dan rasanya tidak sekadar nenggak pelepas dahaga semata.

Kopi teman dalam kemesraan, bisnis, pergaulan, bahkan saat penat kesendirian dari tongkrongan kafe sampai istana ada kopi di situ. Pemujaan kepada kopi bukanlah hal baru, namun sudah selayaknya mendapatkan tempat yang layak dalam peradaban manusia.

Tatkala semar ngopi antara kebijakan dan aroma kenikmatan menjadi satu keunggulan. Semar ikon yang nyeruput kopi seakan dunia tercerahkan ada inspirasi baru yang memguatkan sekaligus menyejahterakan.

Semar ngopi dari lokal yang memgglobal. Semar dan kopi bukan semata-mata penggabungan dua ikon melainkan menjadikan kekuatan persatuan dan kesatuan dari tempat tongkrongan kampung, kota, bahkan bangsa dan negara.

Dahulu tanam paksa, di era digital tanam kesadaran. Karena kesadaran akan membawa pada pemberdayaan, pertanggungjawaban, bahkan kultur disiplin.

Kopi Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote semua ada kopi yang karakter dan keistimewaannya bervariasi. Kekuatan kopi tak hanya menyatukan rasa, tetapi juga kata bahkan hati. Tatkala semar ngopi memang menjadi coffee smart yang tak hanya nikmat namun juga berdaya pikat. Salam kopi NKRI. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*