PESAN MORAL 3 KALI 27 YA 27 – Poskota.co

PESAN MORAL 3 KALI 27 YA 27

POSKOTA.CO – Disuatu padepokan di Tiongkok, pernah hidup seorang guru yang sangat dihormati karena tegas & jujur. Suatu hari, 2 muridnya menghadap Guru. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hasil hitungan 3 x 7.

Murid pandai mengatakan hasilnya 21.
Murid bodoh bersikukuh hasilnya 27.

Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta Guru sebagai jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka.

Sibodoh mengatakan : “Jika saya yang benar 3 x 7= 27, maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh Guru. Tetapi kalau kamu yang benar (3 x 7 = 21), maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri. Haaaaaa…hhaa..” Demikian si bodoh menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya.

“Katakan Guru, mana yang benar?” Tanya murid bodoh.
Ternyata Guru memvonis cambuk 10x bagi murid yang pandai (orang yang menjawab 21).

Si murid pandai protes. Sang Guru menjawab, “Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAK ARIFAN mu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalo 3×7 adalah 21.”
Guru melanjutkan : “lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF dari pada Guru harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia”.

ilustrasi
ilustrasi

Pesan Moral :
Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tidak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu & energi untuk hal yang tidak perlu… 🌿🌹

Bukankah kita sering mengalaminya..?
Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga/kolega.
Berdebat/bertengkar untuk hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya kita diam, untuk menghindari perdebatan/pertengkaran sia-sia.
Diam bukan berarti kalah, bukan?
Memang bukan hal yang mudah, tetapi jangan sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.