harmono 20/11/2018


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PASAR tempat pedagang, pembeli, tengkulak, buruh, tukang sapu, tukang parkir, tukang penjual jasa hingga tukang catut dan rentenir pun dapat saling bertemu dalam berbagai kepentingan yang menghasilkan kesepakatan di antara mereka tatkala ada transaksi atau setidaknya dalam komunikasi.

Pasar identik dengan tawar-menawar, bisa saja ada jual ada beli yang benang merahnya saling menerima dan sepakat pada suatu harga. Keunikan pasar pada tawar-menawarnya kepiawaian komunikasi menjadi suatu ciri khas dari kehidupan di dalamnya.

Pasar menggambarkan adanya egaliter sebagian besar atau bahkan seluruhnya bisa kaum pendatang namun juga ada otoriternya ada adu kekuatan. Yang kuat tetap yang menang, yang mayoritas dominan walau belum tentu mendominasi.

Pasar semakin besar akan semakin kompleks, kadang tidak hanya bersifat lokal namun bisa saja mengglobal. Keunggulan suatu pasar tatkala banyak pembelinya. Bisa juga karena label barang jualannya yang dilabel kualitasnya atau harganya, yang penting pasar menunjukkan karakternya.

Pasar hampir setiap hari dijadikan nama suatu pasar, mungkin pasar Selasa saja yang belum saya dengar atau belum saya ketahui dengan pasti. Pasar tradisional walaupun seadanya namun ada geliat ekonomi yang menghidupi dan mampu bertahan dalam gerusan kemajuan zaman.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan apa yang terjadi dalam proses dan interaksinya dapat dipatut-patutkan atau dianalogikan dengan pasar. Mungkin aneh dan tidak lazim analogi pasar dijadikan pendekatan untuk melihat suatu fenomena.

Saya teringat pesan guru saya, Prof Parsudi Suparlan almarhum, yang selalu menganjurkan melihat pasar di setiap daerah. Beliau tidak menunjukkan apa apa tentang pasar. Beliau juga tidak memgajarkan mengapa pasar menjadi begitu penting dalam pandangan beliau.

Setelah sekian lama waktu berlalu, saya renung-renungkan apa ajaibnya sebuah pasar? Tatkala saya mencoba melukis tentang kehidupan sosial model dan rasa apa yang bisa saya ekspresikan dalam kanvas. Ternyata pasar bisa mewakili dan dapat digunakan sebagai pendekatan.

Di dalam bidang politik dapat dianalogikan sebagai pasar kekuasaan. Pasar politik yang menjadi konsentrasinya tentu ada prosesnya bargaining kekuatan dukung-mendukung. Bagi-bagi kekuasaan yang semuanya ada label harga dan pamrihnya wani piro sebagai tawaran untuk mendapatkan kesepakatan.

Bidang pendidikan menajdi pasar nilai dan rangking. Pendidikan yang semestinya sebagai lembaga transformasi penyiapan alih generasi, peningkatan kompetensi tak jarang kecanduan budaya pasar. Nilai dan ranking bisa dibeli. Guru melacurkan diri, dan banyak lagi masalah sosial yang timbul. Sekolah seringkali dijadikan status sosial.

Di dalam sistem peradilan, analogi pasar pasal keadilan yang merupakan ikon peradaban pun bisa kerasukan budaya pasar, salah bisa benar yang benar bisa salah. Memutuskan yang tidak putus bahkan memutus yang sudah putus. Pasal-pasal hukum dijadikan barang dagangan, bahkan yang mengadili pun ada yang bangga bisa memutus tidak adil karena ada tekanan, entah massa entah karena telah menerima sesuatu. Dewi keadiln sudah lirik mata dan pasang tarif harga wani piro.

Di dalam sistem birokrasi sepertinya tak mau ketinggalan, meja-meja pelayanan sarat dengan label harga. Dari kalangan internalnya pun dapat dilihat pasar posisi pangkat dan jabatan, ada tempat basah ada tempat kering. Banyak tentengan tanpa tantangan, banyak mata air tanpa air, mata budaya pasar pun merajalela. Yang sungkem dan berani bargaining akan dipasang tempat basah. Apalagi birokrasi yang patrimonial situasi pasarnya semakin kompleks maka tingkat bargaining-nya semakin tinggi, bahkan bisa pra dan saat menjabat ada kesepakatan-kesepakatan tertentu.

Dalam bidang transportasi, analoginya pasar jarak waktu dan jasa pelayanannya. Permainan harga jenis layanan mafia-mafia hingga preman jalanan ada lihat saja dari bandara, stasiun pelabuhan, terminal hingga tempat ngetem semua ada label wani piro.

Dalam bidang keamanan ada pasar suasana ketentraman. Aman tanpa rasa aman karena tertekan dengan harus berani dan mau membayar. Tidak ikut aturan pasar akan dilibas atau disikat bahkan bisa dihabisi hidup dengan kehidupannya. Lagi-lagi wani piro.

Di dalam pelayanan kesehatan pun bisa menjadi pasar resep, maupun pasar obat pasar pelayanan yang tak jarang mengutamakan wani piro daripada masalah kemanusiaannya. Dokter beranggapan tidak mudah sekolahnya, rumah sakit pun demikian bahkan sampai bagian kamar mayat pun wani piro.

Masih banyak lagi kehidupan yang menerapkan budaya pasar. Unik menarik tetap apa mau dikata bagai putri duyung yang mendamba. Ia berekor ikan tak dapat berjalan di daratan. Dipotong ekornya akan matilah dia. Serba salah mau tidak mau harus mau mengikuti siapa melawan akan dilibasnya.

Pasar selain kompleks juga unik yang sarat kepentingan namun selalu ada titik kesepakatan. Kesepakatan yang dibuat tatkala menjadi kesepakatan dapat menjadi suatu acuan. Itulah hebat bahkan anehnya. Tatkala sudah sepakat ya okelah, cincailah, tau sama taulah. Ada saat menerima, ya ada saat berbagi. Keteraturan sosial di pasar sangat dibutuhkaan tahu sama tahu, tali rafia tali sepatu sesama mafia jangan saling mengganggu.

Kebanggaan-kebanggaan semu diperjualbelikan, pemujaan berhala diagungkan sang ndoro seakan sebagai god father naga sakti tiada tandingannya. Siapa mau ikut aku sehat terhormat, tetapi wani piro lagi-lagi harus berani sungkem, memberi buluh bekti glondong pangareng-areng. Yang tidak masuk bagian silakan menonton, yang berani silakan menentang, yang tak punya nyali jangan sekali-kali melawan. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*