NAMA ABDULLAH ATAU MOHAMMED BELUM TENTU ISLAM – Poskota.co

NAMA ABDULLAH ATAU MOHAMMED BELUM TENTU ISLAM

ILUSTRASI
ILUSTRASI

POSKOTA.CO – Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan, karena kesadaran akan kerukunan hidup umat beragama harus bersifat dinamis, humanis dan demokratis, agar dapat ditransformasikan kepada masyarakat dikalangan bawah, sehingga kerukunan tersebut bisa dirasakan secara luas tanpa terkecuali.

Penerapan sejarah sosial dalam perjumpaan lintas agama di Indonesia akan sangat relevan, karena ia akan dapat mengungkapkan sisi-sisi lain hubungan para penganut kedua agama ini diluar bidang politik, yang sangat boleh jadi berlangsung dalam saling pengertian dan kedamaian yang pada gilirannya mewujudkan kehidupan bersama secara damai diantara para pemeluk agama yang berbeda.

Walikota Ramalah, Musa Hadid, diawal kepemimpinannya menjadi orang nomor satu di Kota yang dikenal sebagai pusat pergerakan bawah tanah kemerdekaan Palestina, dihujat habis-habisan dan diserang dikarenakan latarbelakangnya yang jauh berbeda dengan walikota sebelumnya.

Latarbelakang berstatus “minoritas” dalam lingkaran politik secara nasional di Palestina, mendapat perhatian khusus sayap kiri (kelompok ekstrim) yang menolak mentah-mentah keberadaan Musa Hadid mendapat kursi pemerintahan di Ramalah.

Sempat gencar dengan diterpa berbagai isu negatif sejak tahun 2012, tak dapat menahan dan membendung Musa Hadid untuk duduk menjadi Walikota Ramalah di tahun 2013, dengan kemenangan spektakuler pada Pemilu yang berlangsung agak sedikit kisruh tersebut.

Dari isu korupsi sewaktu duduk sebagai anggota Parlemen Palestina agen ganda Israel, hingga terlibat konspirasi “anti mayoritas” serta percobaan pembunuhan atas dirinya, silih berganti menghujani Musa Hadid, tetapi justru membuahkan hasil yang diluar ramalan tokoh politik manapun di Palestina, bagai bola salju yang menggelinding dan terus membesar.

Seorang Musa Hadid yang semula kurang dikenal warga kota Ramalah, mendadak menjadi sorotan publik, satu persatu isu tersebut runtuh bagai tembok berlin yang sudah tak mampu menahan kekuatan demokrasi.

Dan satu persatu lawan politiknya digiring ke jeruji besi, karena terbukti melakukan tindak korupsi, bahkan ada juga yang terseret kasus tuduhan sebagai agen ganda Israel dan terlibat serangkaian pembunuhan.

Segala perbedaan bukan berarti membangun tembok yang tebal dan tinggi diantara kehidupan manusia, tetapi justru sebaliknya, saling mendukung dan saling mengisi satu sama lain.

Budaya hujat menghujat dan memelintir setiap fakta dibalik realitas, sangatlah tidak relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini, apalagi dengan komitmen kebersamaan diantara perbedaan yang muncul diberbagai daerah saat ini melalui forum-forum tertentu, perlu dicermati dan didukung.

Menghujat seseorang berdasarkan kebencian pribadi adalah angkara murka berdampingan kebohongan dan kemunafikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, justru membuktikan ketidakmampuan personal untuk bersaing secara sehat. Mengusung perbedaan sebagai tranding topic, sangatlah picik, karena kemerdekaan di negeri ini justru berdasarkan segala perbedaan.

Mengutip kata-kata Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi, ketika diwawancarai salah satu media televisi nasional, “Di Palestina, orang tidak bisa menebak agama seseorang dari namanya Abdullah atau Mohammed belum tentu Islam.

Maryam atau Isa belum tentu Kristen, Musa atau Harun belum tentu Yahudi, demikian juga orang Palestina tidak bisa dibedakan agamanya berdasarkan model pakaian yang dikenakan, karena pakaian yang mereka pakai, sebab nama-nama dan model pakaian tersebut sudah ada di timur tengah, jauh sebelum munculnya perbedaan agama.

Lebih dari itu, perjuangan kami adalah perjuangan sebuah bangsa yang dijajah negara lain, kelak, saat merdeka semua keputusan harus menjadi kesepakatan seluruh rakyat Palestina, tanpa membeda-bedakan latar belakangnya, kami belajar dari kenyataan di Indonesia, khususnya Pancasila.”

Oleh : Letkol Inf Purnomosidi (Dandim 0809/Kediri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_3182" align="alignnone" width="300"] ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO- Hukuman mati yang disandang Silvester Obiekwe alias Mustofa,50, Warga Negara Nigeria tidak membuatnya sadar. Justru Silvester Obiekwe alias Mustofa kembali menjalankan bisnis haramnya. Ulah si hitam itu akhirnya dibongkar aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), dari dalam Lembaga Pemasyarakatan(Lapas) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Aksi Obiekwe dibantu oleh teman satu selnya bernama Andi,32.” Dia mengendalikan bisnis narkobanya dari balik jeruji besi. Meski sudah divonis mati tidak membuatnya jera,” kata Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, Jumat(30/1). Anang menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah petugas BNN menerima inpormasi intelijen, yang menyebutkan bisnis narkoba asal Goangzu, Tiongkok dikendalikan oleh Silvester Obiekwe alias Mustofa, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Berkat informasi itu, kata Anang, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB. Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti berupa 1.794 gran shabu. "Kami lakukan pengembangan ke kontrakan di kawasan Kemayoran dan kembali menemukan barang bukti sabu 5.828 gram. Disembunyikan di dalam kardus. Sabu tersebut dikemas dalam 56 pastik berukuran sedang. Jadi total sabunya 7.622 gram," ungkap mantan Deputy Pencegahaan BNN ini. (sapuji)