MERUSAK SIMBOL PERADABAN ADALAH KEBIADABAN?

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

TATKALA berbicara peradaban, maka penyelesaian konflik adalah dengan hukum. Hukum merupakan suatu simbol peradaban. Di dalam negara modern dan demokratis hukum menjadi panglima bukan balas membalas. Bukan pula ala premanisme keroyokan yang memamerkan ketololan. Cara-cara keroyokan, cara-cara balas dendam apalagi merusak simbol hukum atau merusak simbol peradaban jelas ini mempertontonkan kebiadaban. Hal memalukan berulang-ulang bahkan menjadi bagian dari kebidaban. Ketidakwarasan ini tatkala terus merajai dan menjadi mindset, maka bangsa ini akan terus dipermalukan.

Polisi sebagai penjaga kehidupan pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan inilah core value yang harus ditanamkan dan ditumbuhkembangkan dalam pemolisiannya. Tatkala kantor polisi dibakar, dirusak atau polisi berdinas diserang ini merupakan suatu pelecehan hukum. Menginjak-injak peradaban bahkan membuat sesuatu yang beradab menjadi sesuatu yang seolah asu gedhe menang kerahe.

Kejadian perusakan di depan mata Ibu Kota di halaman Istana, di pusat pemerintahan ini tidak boleh terjadi. Patriot bangsa di era milenial adalah pejuang-pejuang kemanusiaan yang mampu menjadi panutan, menjadi ikon, menjadi kebanggaan yang keberadaannya aman, menyenangkan bahkan bermanfaat bagi masyarakat.

Aparat bukan preman, bukan tukang palak melainkan sahabat-sahabat yang menjembatani memberi solusi dan mampu memberikan keamanan dan rasa aman. Tatkala hukum dilecehkan, apa kata dunia. Perilaku pamer ketololan ini analogi orang-orang lali kathokan sudah rapi bajunya ikut pesta tanpa bercelana. Ini lupa atau sengaja? Kalau lupa betapa bodohnya, kalau sengaja betapa gilanya.

Peradaban memang bukan dengan kata siap gerak, berhadap gerak, melainkan proses-proses pewarasan. Hanya orang gila yang tidak merasa sakit atau terusik ketika peradaban dirusak. Bagi orang yang waras pasti malu dan merasa perlu menyuarakan kritik atau bahkan mengajak stop kegilaan, dan apalagi patriot-patriot milenial tentu saja tidak main dengkul. Kapan lagi kita berani waras-waras kalau tidak sekarang, dan siapa lagi kalau bukan kita yang harus peduli terhadap pewarasan dan menjaga kehidupan ini untuk semakin manusiawinya manusia.

Bangsa ini sudah cukup kompleks dengan hal-hal yang membuat terpuruk dipermalukan bahkan dihina-hina karena saling cakar antar anak bangsa. Bener yen ora umum iku salah-salah yen wis umum iku bener. Siap gerak, hadap kanan gerak, satu hadap kanan sembilan puluh sembilan hadap kiri siapa yang salah, siapa yang gila.

Aparat milenial itu aparat yang cepat, dekat dan bersahabat sebagai penjaga kehidupan pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *