KISAH ADAM DAN HAWA bag-3 – Poskota.co
Wednesday, September 20

KISAH ADAM DAN HAWA bag-3

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Tuhan telah mengurus mereka dengan sangat baik, memberi mereka setiap jenis makanan atau kesenangan. Tak ada apa pun lainnya yang mereka butuhkan, yang artinya kasih Tuhan tak terbatas.

Di tempat mana lagi orang dapat hidup dengan begitu bebas dan menyenangkan tanpa harus bekerja? Yang harus mereka lakukan adalah bersenang-senang. Apakah Tuhan pernah meminta apa-apa yang luar biasa dari mereka? Tak pernah.

Dia hanya berkata, “Engkau boleh makan apa saja, kecuali pohon itu adalah
milikku. Serahkan itu untukku. Engkau tidak boleh makan dari pohon itu.”
Tapi, mereka bahkan tidak mengecualikan yang itu. Bukan karena mereka
kelaparan.

Apakah ada sesuatu yang mereka butuhkan yang tidak mereka miliki? Tuhan hanya memberikan satu syarat kepada mereka, tapi mereka tak dapat melakukannya. Tuhan menciptakan begitu banyak hal untuk kesenangan mereka, tapi mereka masih membuat kesalahan.

Hari ini kita berada dalam situasi terburuk, digoda dan dipaksa untuk hanyut dalam lautan penderitaan. Dunia kita penuh dengan penderitaan seperti kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Tapi, pada waktu itu mereka tidak mengenal penyakit, usia tua, atau kematian.

Mereka bahkan tak perlu berjuang demi makanan mereka. Mereka hanya diminta satu kebaikan kecil, yang tak dapat mereka penuhi. Apa yang berasal dari mulut Tuhan, mereka tidak menaati, apalagi jika itu dari mulut saya. Itu akan dipahami sebagai apa? Mereka tahu dengan baik bahwa Tuhan telah menciptakan segala sesuatu demi kesenangan mereka.

Mereka tahu Tuhan adalah tuan mereka dan Tuhan memberi mereka apa saja yang mereka inginkan kecuali buah dari satu pohon spesial itu, namun mereka
memutuskan bahwa mereka harus memakannya, dari semua yang ada.

Sesungguhnya, tak ada yang spesial tentang pohon itu. Pohon itu seperti
pohon lainnya. Tapi, Tuhan ingin melihat apakah mereka dapat menahan
diri untuk tidak makan buah itu demi Dia, tapi mereka gagal, bahkan
hanya satu permintaan sederhana.

Mereka menutup telinga kepada Tuhan, tapi mereka mendengarkan sang ular! Itu adalah seekor ular, dari semua makhluk! Kata-kata seekor ular lebih penting daripada kata-kata Tuhan?

Sekarang kalian mengerti, jika ada orang yang jatuh ke dalam lingkaran
reinkarnasi, sama sekali tak bisa menyalahkan siapa pun lainnya. Jika
cerita ini benar, kita tak bisa menyalahkan Tuhan lagi. Dia begitu baik
dan murah hati kepada manusia. bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_1031" align="alignleft" width="300"] Hakim sang wakil Tuhan di dunia[/caption]POSKOTA.CO - Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Fadli Zon mengharapkan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) jangan ada yang berasal dari partai politik. "Hakim MK haruslah merupakan orang yang benar-benar kompeten dalam bidang hukum tata negara dan bukanlah seseorang yang pernah bergabung dengan partai politik," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dalam rilisnya, di Jakarta, Jumat. Menurut dia, bila hakim MK yang terpilih berasal dari partai politik dikhawatirkan hanya mementingkan kepentingan golongannya saja sehingga mengakibatkaan potensi penyelewengan menjadi sangat besar. "Independensi hakim MK sangat penting untuk menjaga kredibilitas MK sebagai lembaga hukum tertinggi. Perlu diperhatikan juga bahwa keputusan yang dibuat MK adalah bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat. Oleh karena itu Hakim MK sebagai pembuat keputusan haruslah orang yang benar-benar mempunyai integritas," paparnya. Kasus Akil Mochtar hendaknya menjadi pelajaran bagi MK untuk bisa menjaga kredibilitasnya. "Kredibilitas MK dalam penegakan hukum tengah disorot karena kasus Akil Mochtar. Oleh karena itu MK harus memastikan bahwa kasus seperti itu tidak terulang kembali. Jangan sampai rakyat hilang kepercayaan terhadap penegakan hukum," kata Fadli. Di tempat terpisah, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berpendapat persoalan pemilihan anggota Hakim MK bukan pada asas legalitas tetapi adalah asas kepantasan, etika, dan moral.