KISAH ADAM DAN HAWA bag-3 – Poskota.co

KISAH ADAM DAN HAWA bag-3

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Tuhan telah mengurus mereka dengan sangat baik, memberi mereka setiap jenis makanan atau kesenangan. Tak ada apa pun lainnya yang mereka butuhkan, yang artinya kasih Tuhan tak terbatas.

Di tempat mana lagi orang dapat hidup dengan begitu bebas dan menyenangkan tanpa harus bekerja? Yang harus mereka lakukan adalah bersenang-senang. Apakah Tuhan pernah meminta apa-apa yang luar biasa dari mereka? Tak pernah.

Dia hanya berkata, “Engkau boleh makan apa saja, kecuali pohon itu adalah
milikku. Serahkan itu untukku. Engkau tidak boleh makan dari pohon itu.”
Tapi, mereka bahkan tidak mengecualikan yang itu. Bukan karena mereka
kelaparan.

Apakah ada sesuatu yang mereka butuhkan yang tidak mereka miliki? Tuhan hanya memberikan satu syarat kepada mereka, tapi mereka tak dapat melakukannya. Tuhan menciptakan begitu banyak hal untuk kesenangan mereka, tapi mereka masih membuat kesalahan.

Hari ini kita berada dalam situasi terburuk, digoda dan dipaksa untuk hanyut dalam lautan penderitaan. Dunia kita penuh dengan penderitaan seperti kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Tapi, pada waktu itu mereka tidak mengenal penyakit, usia tua, atau kematian.

Mereka bahkan tak perlu berjuang demi makanan mereka. Mereka hanya diminta satu kebaikan kecil, yang tak dapat mereka penuhi. Apa yang berasal dari mulut Tuhan, mereka tidak menaati, apalagi jika itu dari mulut saya. Itu akan dipahami sebagai apa? Mereka tahu dengan baik bahwa Tuhan telah menciptakan segala sesuatu demi kesenangan mereka.

Mereka tahu Tuhan adalah tuan mereka dan Tuhan memberi mereka apa saja yang mereka inginkan kecuali buah dari satu pohon spesial itu, namun mereka
memutuskan bahwa mereka harus memakannya, dari semua yang ada.

Sesungguhnya, tak ada yang spesial tentang pohon itu. Pohon itu seperti
pohon lainnya. Tapi, Tuhan ingin melihat apakah mereka dapat menahan
diri untuk tidak makan buah itu demi Dia, tapi mereka gagal, bahkan
hanya satu permintaan sederhana.

Mereka menutup telinga kepada Tuhan, tapi mereka mendengarkan sang ular! Itu adalah seekor ular, dari semua makhluk! Kata-kata seekor ular lebih penting daripada kata-kata Tuhan?

Sekarang kalian mengerti, jika ada orang yang jatuh ke dalam lingkaran
reinkarnasi, sama sekali tak bisa menyalahkan siapa pun lainnya. Jika
cerita ini benar, kita tak bisa menyalahkan Tuhan lagi. Dia begitu baik
dan murah hati kepada manusia. bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)