harmono 22/11/2018

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

BAHASA itu selain makna juga ada rasa. Memahami bahasa seringkali sebatas kata atau kalimat-kalimat, namun yang esensi menjadi kering bahkan menghilang. Misalnya saja kata kemepyar bagi orang Jawa memahami dan bisa merasakannya, namun tatkala harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maknanya bisa diartikan sebagai segar namun rasa pyar-nya ini yang berbeda.

Bagi penggemar kopi kemepyar ini akan menjadi yang sesuatu banget, cita rasa kopi nikmatnya saat ada rasa kemepyar seolah ide buntu tercerahkan, dan mencairlah suasananya. Dalam kondisi sakit pun tatkala nyruput kopi dan ada energi baru, memang akan ada rasa kemepyar segar nikmat tercerahkan. Kalau dalam gambar kartun di atas kepala ada lampu pijar yang menyala tanda cerdas atau ada sesuatu yang baru.

Kopi yang membuat kemepyar, inilah kopi yang sejati ada rasa aroma dan terpecahkan situasi dan kondisi tubuh maupun sosial yang menyumbat. Walau makna kemepyar secara harafiah susah dimaknai tetapi dapat dirasakan. Boleh lupa kata-katanya, namun rasanya terus ada. Buah buah kopi yang manis bijinya keras, ternyata ada kelembutan aroma di dalamnya yang membuat rasa melekat selamanya.

Kopi tak hanya ditampi dalam tampah besar atau digiling manual saja, namun kopi pun ada teknologinya. Ada namanya yang membuat semakin jatuh hati pada kopi. Sepanjang masa, sepanjang hayat manusia, kopi setia menemani. Kopi-kopi Nusantara yang memiliki khas karakter kemepyar-nya menjadi kekayaan dalam kopi yang berbhineka, namun semua kemepyar dalam kopi NKRI. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*