JAHATNYA MANUSIA DIBANDING SERIGALA – Poskota.co

JAHATNYA MANUSIA DIBANDING SERIGALA

POSKOTA.CO – Serigala sering menjadi analogi binatang yang jahat atau dekat dengan kejahatan. Serigala berbulu domba, serigala si pemangsa domba, serigala pemangsa nenek dalam ceritera kerudung merah, dalam film Dora pun Serigala yang dilarang selalu diingatkan untuk tidak mencuri.

Label buruk Serigala bukan hanya pada perilakunya, bahkan saat bersuara (melolong) pun dianggap sebagai tanda adanya roh jahat atau setan. Serigala dilabel sebagai pembunuh sesamanya walau manusia pelakunya, homo homini lupus.

Manusia sebagai serigala bagi sesamanya. Benarkah serigala jahat? Seberapa besar kejahatanya? Apakah berdampak luas? Serigala walaupun dianalogikan sebagai apa saja ia tetap binatang.

Kodrat binatang adalah secukupnya. Cukup buat makan dirinya + kawananya sudah selesai. Ia tidak akan menimbun sampai tuju turunan delapan tanjakkan. Menyimpanpun secukupnya dalam liangnya.

Siapa yg melabel Serigala sebagai simbol yang jahat? Tentu manusia. Karena manusia bisa merekayasa, menebar issue, memberi label, menebar ujaran kebencian, memfitnah, menuduh, menghakimi, membunuh hingga memusnahkan.

15rigala

Manusia bisa berbulu apa saja, untuk menutupi kejahatanya yang luar biasa. Berdalih apa saja untuk pembenar-2anya. Toh serigala tidak bisa membalas/ memprotesnya.

Kadang manusia tidak berbulu apa-2 malah hanya wajahnya yang ditutupi dengan topeng. Tidak malu lagi dengan menutupi wajahnya saja agar terus nampak suci, lurus, baik+ benar walau hati, pikiran, tangan + kakinya melakukan kejahatan.

Serigala dalam kawanan domba, kalaupun memakanya hanya satu dan masih juga ada sisanya. Coba kalau manusia, satu kawanan dihabiskan sampai kandang- 2 nya pun bisa dihajarnya tanpa sisa. Kalau perlu gembalanyapun dihajarnya juga.

Serigala pemangsa nenek + si kerudung merah, ia digambarkan sebagai binatang serakah yg menelan 2 manusia sekaligus. Namun kedua manusia yg ada di perut serigala dapat diselamatkan oleh sang pemburu dan mengganti isi perutnya dg batu-2.

Mengapa manusia-2 (nenek+ si kerudung merah masih bisa diselamatkan? Ini menunjukkan sejahat jahatnya binatang tidak melumat habis. Bayangkan bila manusia memakan mangsanya tidak ada sisanya sekalipun.

Ada joke yg mengatakan saat manusia hidup namanya bermacam macam namun saat mati hanya dikatakan mayat. Kalau binatang yang jadi santapan manusia, saat hidup hanya memiliki satu nama, namun sesudah mati namanya bermacam macam (dr……. rebus, …..panggang,…..guling, …..bakar, rica-2….., ….. bumbu pedas, dsb).

Serigala (swiper) dalam film Dora the Explorer diceriterakan suka mencuri. Namun saat swiper akan mencuri selalu diingatkan dan kalaupun berhasil mencuri selalu dapat diamankan dan diselamatkan. Maknanya sejahat jahatnya binatang selalu ada batas secukupnya, dan masih bisa diingatkan, atau dicegah.

Bagaimana dengan manusia? Apalagi membentuk kawanan dan menjadi mafia, melakukan kejahatan tidak hanya perorangan, bukan sekedar untuk makan + memenuhi kebutuhan pokoknya melainkan ditimbunnya untk tuju turunan dan 8 tanjakkan tidak ada standar batas cukupnya.

Semua bisa dilakukan dengan cara apa saja dan berbagai dalih topeng, kepura puraan bisa dilakukan dengan sadar bahkan membanggakan. Binatang melakukan karena nalurinya, instingnya, dan secukupnya.

Sedangkan manusia dengan segala kesadaranya, merencanakan, mendisain, menggunakan akal budinya, melakukan tanpa perasaan bersalah dengan mengatasnamakan/mengkambing hitamkan, bahkan memusnahkan dapat dilakukanya. Penulis Chryshnanda DL.
24cris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara