HOEGENG: PARODI PEJABAT


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PEJABAT adalah orang yang dipercaya untuk menjalankan suatu tugas yang diberi kewenangan dan kekuasaan, bagai pedang bermata dua. Bila dipegang yang tak berhati nurani, serakah, tidak manusiawi, tidak ada empati, masa bodoh, tidak bertanggung jawab, budak harta, orientasinya uang, safety player, raja tega, penjilat dan suka dijilat dapat dikategorikan penjahat.

Pejabat seperti itu pejabat yang bukan karena prestasi, melainkan utang budi. Tidak mempunyai kompetensi, narsis, feodal, kecanduan dihormati dan dipuji-puji, dijilat sana-sini.

Mengapa stroke apalagi setelah pensiun? Karena saat menjabat dilayani, membawa kacamata tidak sanggup lagi, akan duduk kursi harus juga ditarik-tarik. Bukankah ini sama dengan latihan stroke.

Mengapa tak tahan duduk lama setelah tidak menjabat? Karena ia tak lagi punya pantat (bokongnya krowak habis dijilati).

Mengapa tidak rasional dan lebih mengedepankan pada emosional? Karena saat lama tidak mempunyai jabatan, ia merasa harus cuci otak agar fresh. Saat otaknya dikeluarkan dari kepala dan sedang dicuci, tiba-tiba ia mendengar kalau dirinya dijadikan pejabat. Berteriaklah dia, “dokter tutup dong kepalaku aku mau jadi pejabat nih”. Sang dokter menjadi terkejut dan menjawab, “pak otaknya sedang dicuci”. “Sudah tutup saja, jadi pejabat tidak perlu otak lagi dok, yang penting jangan jari telunjuk yang hilang”.

Mengapa loyalnya hanya kepada ndoro-ndoro saja dan siap mbabu kapan saja dan dimana saja? Loyalitasnya bukan tulus tetapi penuh dengan pamrih. Ia tidak terbiasa mandiri. Ia pun ketakutan bukan pada kegelapan atau hantu melainkan takut dengan kebenaran dan keadilan, ia juga takut kompetensi dan assesment. Bila dicopot dari jabatanya bisa ia kejang-kejang, gila dan mati.

Mengapa suka berbisnis? Karena ia bagai pedagang, di benaknya untung dan rugi.

Mengapa olahraga renang disukainya (khususnya gaya katak)? Perenang gaya katak menyembah ke atas, menyepak ke samping, menginjak ke bawah.

Semua cara dihalalkan yang penting tercapai tujuanya. Persetan ada darah dan air mata anak buah dan rakyatnya. Saat menjabat bagai manusia setengah dewa. Penuh kuasa dan bisa apa saja. Lagunya di sana senang, di sini senang…. Di mana-mana hatiku senang.

Saat tak ada kuasa kembali hati menjadi hampa, merana penuh duka lara seakan dirinya akan menjadi orang gila.

“Memang baik menjadi orang penting tetapi lebih penting menjadi orang baik”, itulah semboyan Hoegeng Iman Santoso yang menjungkirbalikkan semua yang di atas semua. Merajut kebaikan dan perbaikan demi kesehatan jiwa. Kemanusiaan pendekatan dan kebanggaannya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *