Djoko Waluyo 10/03/2014
Suhu Handaka Tania
Suhu Handaka Tania

Guru Agung Kong Zi sedang berdiskusi dengan muridnya yang bernama Zi Gong.
Zi Gong bertanya : “ Guru, bagaimanakah sikap yang benar dalam hidup ini?”
Sang Guru memandang Zi Gong sekejab, dia tidak menjawab dan bangun dari tempat duduknya lalu menyalahkan anglo dan memasak air pada sebuah panci. Zi Gong merasa heran mengapa Sang Guru tidak menjawab dan malah memasak air.
Dia ingin bertanya tetapi dilihatnya Sang Guru berjalan kehalaman depan dan ketika kembali membawa sebuah batu sebesar kepalan yang lalu dimasukan ke dalam air yang sudah melai mendidih.
Otak Zi Gong penuh dengan pertanyaan tetapi dia tidak berani bertanya karena dilihatnya Sang Guru juga tetap tutup mulut sambil memperhatikan rebusan batu. Beberapa saat kemudian Sang Guru mengangkat batu rebus keatas meja.
Sambil menatap Zi Gong Sang Guru berkata: ” Kamu janganlah seperti batu. Sangat keras kepala dan kaku, merasa paling jago dan benar, sangat sulit berubah padahal kehidupan ini selalu berubah. Ingatlah selalu bahwa gunung yang tinggi masih ada lanit yang lebih tinggi.
Yang kuat masih ada yang lebih kuat…”
Zi Gong terkejut, dia sadar bahwa Gurunya sedang memberi wejangan yang sangat berharga.

SEBONGKAH SALJU YANG MEMBEKU

Dia merasa belum puas tetapi ketika dia baru saja membuka mulut ingin bertanya, Sang Guru sudah berjalan lagi ke halaman depan. Ketika kembali beliau membawa sebongkah salju yang membeku lalu dimasukan ke dalam air yang mendidih.
Dalam hitungan detik salju tadi mencair tidak berbekas. Yang kelihatan hanya air yang mendidih. “ Kamu jangan seperti bongkahan salju, kelihat begitu keras, teguh berperinsip dan berkarakter.
Sok suci dan senang mengeritik orang yang tidak jujur tetapi baru mengalami sedikit ujian saja sudah berubah dan idealismenya lenyap tak berbekas. Akhirnya ikut2an tidak jujur dan korupsi.
Zi Gong sadar Sang Guru sedang memberi contoh yang sangat jelas yaitu dua sikap yang ekstrim. Yang pertama melukiskan orang sangat berpegang pada prinsip dan kaku dan yang kedua sikap orang yang terlalu fleksibel tapi tidak berprinsip.

TELUR REBUS

Zi Gong jadi tambah penasaran dan lagi ketika dia ingin bertanya, dilihatnya Sang Guru menghampiri lemari dan mengambil dua butir telur ayam. Sesampainya di meja sebutir telur dipecahkan.
Zi Gong melihat putih telur yang kental dan merah telur meleleh diatas meja. Sang Guru memasukan yang satunya lagi, yang utuh, kedalam air mendidih. Beberapa menit kemudian Sang Guru mengangkat telur tadi lalu dikupasnya.

Seketika tercium bau harumnya dan terlihat telur sudah mengeras. Zi Gong menahan diri untuk tidak bertanya dan menanti Sang Guru berkata.
Dalam hati dia menduga mungkin harus seperti telur rebus yang harum. “Kamu jangan seperti telur rebus. Baru belajar sedikit saja sudah sombong dan merasa sudah bisa segalanya.

Baru mengerti sedikit ayat2 suci sudah merasa berhak memonopoli kebenaran. Menjadi Ekstrim dan takabur.”
Mendengar perkataan Sang Guru, Zi Gong kaget dan tidak dapat menahan diri lagi lalu bertanya: “Maaf Guru, saya masih belum paham, jadi sebenarnya bagaimana…..” Belum habis pertanyaannya Sang Guru sadah berjalan lagi dan kali ini ke kebun belakang rumah.

Zi Gong terdiam dan hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya. Dilihat Gurunya kembali dengan membawa sebatang wortel yang lalu dimasukannya ke dalam air mendidih. Beberapa saat kemudian wortelpun diangkatnya dan diberikan kepada Zi Gong.

Zi Gong memeriksa wortel dan dipijit-pijit. Ternyata wartel yang semula keras telah berubah menjadi lunak.
Zi Gong merasa yakin bahwa kali ini pasti harus “bersikap seperti wortel”.

Baru saja dia ingin mengungkapkan pendapatnya Sang Guru berkata: “Muridku, kamu jangan seperti wortel. Meski wortel ini mula2 keras lalu setelah digodok menjadi lunak dan tetap dapat dikenali sebagai wortel. Coba kamu lihat air bekas rebusannya hampir tidak ada perubahan.
Wortel melambangkan orang yang berpegang teguh pada prinsip dan fleksible. Tetapi kurang manfaatnya bagi masyarakat.”

GULA BATU

Zi Gong semakin tidak mengerti dan dilihatnya Sang Guru mengganti air rebusan dengan yang baru kemudian dia mengambil sesuatu dari lemari. Ternyata yang diambil adalah gula batu yang lalu dimasukan kedalam air yang sudah mendidih.

Selang beberapa saat kelihatan gula batu mencair menjadi satu dengan air. Zi Gong melihat Sang Guru, menunggu penjelasan. Sang Guru tersenyum sambil berkata:”Muridku jadilah seperti gula batu. Gula batu ini melambangkan orang yang mau berkorban bagi masyarakat.

Tujuannya adalah merubah masyarakat menjadi lebih manis, lebih baik meskipun mungkin sebagian orang menganggapnya ia tidak berprinsip. Padahal prinsipnya adalah demi kebahagiaan masyarakat.

Orang lain mungkin merasa menang tetapi sebenarnya dialah pemenangnya. Dia berhasil merubah masyarakat menjadi lebih manis.
Zi Gong hanya mengangguk-angguk kagum atas contoh sederhana yang diberikan gurunya dan telah mencerahkan pikirannya.

Dia berpikir sampai dimana dirinya. Apakah gula batu? Ahk..dia merasa kadang2 diapun seperti telur rebus yang suka menyombongkan diri sendiri. Diam2 dia berjanji supaya dapat menjadi seperti Gula Batu. Terima kasih Guru.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*