harmono 18/11/2018


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

BIROKRASI dibangun secara konseptual sebagai pembagian tugas agar pelayanan kepada publik secara prima dapat diakomodir dan dirasakan secara signifikan oleh masyarakat.

Fakta perkembangan dan perubahan dari yang ideal dengan yang aktual menjadi berbeda bahkan dapat bertentangan. Birokrat yang mengawaki birokrasi menjadi pemalak dalam memberikan pelayanannya. Lambat laun menjadi habitus baru bagi para birokrat.

Core value birokrasi bergeser dari kepuasan publik menjadi kepuasan para ndoro-nya. Gaya feodalisme lambat laun kembali dominan dan mendominasi. Gaya hidup para birokrat dan ndoro-nya menjadi konsumtif hedonisme. Posisi basah dan kering menjadi pemujaan kaum birokratnya.

Kondisi yang demikian birokrasi menjadi sebuah pasar pelayanan yang ada tawar-menawar ingin cepat ingin mudah ya bayar. Kalaupun tidak membayar maka akan berusaha mencari memo atau katebelece dari ndoro yang di atasnya. Birokrasi model yang demikian akan menjadi birokrasi patrimonial.

Berlaku lagi sabdo pandito ratu apa kata ndoro-nya itulah yang benar. Pendekatan-pendekatan kepada ndoro menjadi idola dengan kembali gaya menjilat, dengan pendekatan personal. Tentu saja mengalahkan kompetensi dan produktivitas.

Kaum birokrat yang punya cantelan ndoro di atas akan terus melejit walau tidak jelas kompetensi maupun prestasinya. Pendekatannya uang. Siapa sering sungkem, dialah birokrat kelas wahid walaupun sebagai koordinator penyimpangan atau sebagai putor, pemungut dan penyetor. Tak heran bila kompetensi para birokratnya sebatas putor saja kalau dianalogikan ya sebatas kekuatan kerupuk. Yang sekali remas hancur, dan didiamkan terkena angincpun akan melempem.

Pendekatan secara personal membutakan bahkan mematikan profesionalisme. Cara-cara manual parsial dan konvensional akan terus dipertahankan bahkan dijaga oleh para cantrik mafia birokrasi. Siapa saja yang menentang apalagi melawan akan dimatikan kariernya bahkan bisa hidup dan kehidupannya. Ndoro ini pun tidak langgeng ada masanya layu bahkan lapuk dan dicampakkan.

Para kaum loyalis ndoro ini akan berlompatan lari tunggang-langgang mencari ndoro baru yang berkuasa akan tetap numpang makan atau nunut mulyo. Bagi kaum kutu loncat memang tidak nampak. Namun yang berkelas gorila akan tetap nampak, atau aroma bau khas ndoro yang diikutinya tetap menyengat. Walau sudah bersembunyi tetap saja nampak dan pasrah dipangkas masuk kotak.

Birokrasi yang selalu nobat nongol babat akan selalu tebang pilih sampai kapan pun akan terus sarat dengan pendekataan personal dan KKN terus merajalela. Para ndoro-nya pun dibuat terbelenggu dan tidak dapat eksis idealismenya mau tidak mau harus berdamai dengan penyimpangan-penyimpangan. Kaum birokratnya bukan kelas fighter bagi meningkatnya kualitas hidup masyarakat tetap saja kelas kerupuk, sekali remas remuk dan kena angin melempem.

Mentalnya pemalak bukan pelayan yang tulus. Wani piro oleh piro menjadi standar nyantrik kepada ndoro. Para ndoro pun jika produk utang budi, maka akan sibuk membalas budi dan mencari kembalian. Akhirnya apa yang dikerjakan lebih bersifat kepura-puraan, yang sebatas kepentingan seremonial dengan superfisial belaka.

Apakah pasrah dengan kondisi seperti itu birkrasi dengan kelas kerupuknya? Tentu tidak. Di era digital, saatnya bergeser dengan semua lini dan semua bagian terintegrasi dalam model elektronik. Sistem online atau terhubung tersebut ada back office-nya, ada sistem aplikasi untuk inputing data, dan jejaring-jejaring penghubung secara elekttonik. Sistem elektronik ini akan membangkitkan energi baru yang membuat rampal gigi para mafia birokrasi, dan matinya para cantrik penjilat serta para ndoro yang merupakan produk utang budi.

Era baru birokrasi menggeser sistem sekat dan sistem palak menjadi pelayanan prima. Tidak lagi person to person, melainkan sistem e-payment atau e-banking. Semua aktivitas pelayanan publik akan te-record dan jejak-jejak digital akan membuka tabir sistem PGPS (pinter goblok penghasilan sama) menjadi birokrasi yang berbasis kompetensi, prestasi, produktivitas yang mampu membangun big data, dan memberikan pelayanan prima dalam one gate service. Para birokrat kerupuk bisa berubah, dan tidak melempem atau tidak ikut dibabat dan dicampakkan perubahan. Semoga! (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*