BELAJAR DARI TOGOG MEREFORMASI BIROKRASI – Poskota.co

BELAJAR DARI TOGOG MEREFORMASI BIROKRASI

POSKOTA.CO – Togog Tejamantri sebenarnya titisan Sang Hyang Antaga putra Sang Hyang Wenang, saudara dari Batara Ismaya (semar) dan Batara Guru Penguasa mayapada/jagad para dewa.

Togog ditugaskan di Marcapada (dunia) untk menjadi pemomong dan memperbaiki pada kelompok-2 dan kondisi yg sulit. Togog sendiri menyediakan diri sbg keranjang sampah siap dimaki maki, menjadi sasaran kemarahan ndoronya.

Togog walaupun hidup dalam kelas rakyat jelata sebagai pembantu, namun tetap setia pada kebenaran dan kebaikan. Terus mengajarkan kebaikan dan terus berupaya melakukan perbaikan. Walaupun para ndoronya dengan kejumawaanya terang-2 menolaknya.

ilustrasi Togog
ilustrasi Togog

DIMAKI

Tak jarang Togog dimaki dan dilecehkan bahkan dianggap ancaman, dimana teman-2nya harus berhati hati dan dihasut untk ikut memusuhinya. Togog tetap pada prinsipnya untk terus memegang teguh kebenaran sebagai amanah Sang Hyang Wenang.

Mereformasi birokrasi indah, mudah diucapkan, namun pelaksanaanya mungkin yg getol akan mengalami nasib seperti apa yg Togog rasakan. Akan dianggap ancaman, dan harus diwaspadai dan hati-2 terhadap dirinya. Bisa jadi menjadi korban/dikorbankan kaum mafia birokrasi yg terusik kesenanganya/terganggu previlagenya.

MENYAKITKAN

Kebaikan dan kebenaran memang menyakitkan ketika akan ditularkan. Siapa saja yg mengatakan dan akan melakukannya akan terus dibuli, dikeroyok, dihujat, dimain mainkan bahkan kalau perlu dimatikan hidup dan kehidupanya.

Kejam dan biadab? Ya itulah ikon reformasi, memerlukan nyali dan kerelaan berkorban seperti Togog. Siap dihujat, dilecehkan, dijadikan sasaran kemarahan bahkan dilabel sebagai ancaman. Mereformasi birokrasi mengusik kemapanan, kejumawaan penguasa sumberdaya. Yang tak sudi mendengar kata kebaikan atau perbaikan, kekuatan dan kekuasaan pokok e terus dipaksakan.(CDL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_11694" align="alignleft" width="406"] Komjen Budi Gunawan[/caption] POSKOTA.CO - Jimly Asshiddiqie salah sati tim 9 yang dimintai pendapat Jokowi setuju dengan usulan Mensesneg Pratikno mengimbau agar Komjen Budi Gunawan mundur sebagai Kapolri. "Itu sangat indah dan ideal," ungkapnya di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2015). Menurutnya masalah konflik KPK Vs Polri memang berawal dari ditetapkannya Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka transaksi mencurigakan, padahal saat itu selangkah lagi mantan ajudan Megawati itu akan menjadi Kapolri. Kepada masyarakat dan khususnya jajaran Polri diminta untuk mensuport tegaknya hukum. "Ini untuk kepentingan bersama,Kita harus sama-sama menyelamatkan institusi KPK maupun Polri" tambahnya. Sebelumnya, Mensesneg Pratikno mengimbau agar Komjen Budi Gunawan mundur sebagai Kapolri. Menurut mantan Rektor UGM itu, akan sangat indah jika Budi mundur. Kalau tidak mundur berarti dilema antara politik dan hukum ini harus diselesaikan," kata Pratikno kepada wartawan di Istana Negara.