taher 14/10/2016

POSKOTA.CO – Togog Tejamantri sebenarnya titisan Sang Hyang Antaga putra Sang Hyang Wenang, saudara dari Batara Ismaya (semar) dan Batara Guru Penguasa mayapada/jagad para dewa.

Togog ditugaskan di Marcapada (dunia) untk menjadi pemomong dan memperbaiki pada kelompok-2 dan kondisi yg sulit. Togog sendiri menyediakan diri sbg keranjang sampah siap dimaki maki, menjadi sasaran kemarahan ndoronya.

Togog walaupun hidup dalam kelas rakyat jelata sebagai pembantu, namun tetap setia pada kebenaran dan kebaikan. Terus mengajarkan kebaikan dan terus berupaya melakukan perbaikan. Walaupun para ndoronya dengan kejumawaanya terang-2 menolaknya.

ilustrasi Togog
ilustrasi Togog

DIMAKI

Tak jarang Togog dimaki dan dilecehkan bahkan dianggap ancaman, dimana teman-2nya harus berhati hati dan dihasut untk ikut memusuhinya. Togog tetap pada prinsipnya untk terus memegang teguh kebenaran sebagai amanah Sang Hyang Wenang.

Mereformasi birokrasi indah, mudah diucapkan, namun pelaksanaanya mungkin yg getol akan mengalami nasib seperti apa yg Togog rasakan. Akan dianggap ancaman, dan harus diwaspadai dan hati-2 terhadap dirinya. Bisa jadi menjadi korban/dikorbankan kaum mafia birokrasi yg terusik kesenanganya/terganggu previlagenya.

MENYAKITKAN

Kebaikan dan kebenaran memang menyakitkan ketika akan ditularkan. Siapa saja yg mengatakan dan akan melakukannya akan terus dibuli, dikeroyok, dihujat, dimain mainkan bahkan kalau perlu dimatikan hidup dan kehidupanya.

Kejam dan biadab? Ya itulah ikon reformasi, memerlukan nyali dan kerelaan berkorban seperti Togog. Siap dihujat, dilecehkan, dijadikan sasaran kemarahan bahkan dilabel sebagai ancaman. Mereformasi birokrasi mengusik kemapanan, kejumawaan penguasa sumberdaya. Yang tak sudi mendengar kata kebaikan atau perbaikan, kekuatan dan kekuasaan pokok e terus dipaksakan.(CDL)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :