“ANTARA TAKSI, LEBAH DAN ELANG” – Poskota.co

“ANTARA TAKSI, LEBAH DAN ELANG”

SELASA malam, pukul dua dinihari, saya harus bergegas pulang menuju ke rumah. Setelah seharian bercengkrama dengan kawan untuk sebuah pekerjaan.

Seorang kawan memesankan armada taksi online. Murah, cepat dan nyaman. Untuk jarak lebih dari 35 kilometer saya hanya membayar 73 ribu.

Hanya cukup menunggu di dalam rumah, selang beberapa menit mereka datang menjemput, mengantarkan saya dalam kantuk yang parah menuju bandara. Pelayanan yang cepat dan murah.

Hari ini dunia bergerak dalam ritme yang cepat, waktu dam jarak semua seakan kian terlipat. Kecepatan dan pelayanan itu mantra zaman kini. Lamban menyambut bersiaplah tersungkur dalam titik nadir terdalam hingga lututmu menyentuh tanah, kepalamu berat dan bersujud menjadi pilihan terakhirmu.

Saat ini dunia ini tidak statis, namun dinamis, terus berkembang, mengalami kemajuan. Perubahan bergerak begitu cepat, pada titik tertentu benturan perubahan tidak dapat terhindarkan. Diam statis, berarti anda tergilas.

Hal ini mengingatkan saya tentang cerita seekor burung elang yang terperangkap di dalam sebuah kandang kecil ukuran 2×2 meter.

Mati-matian elang itu mencoba untuk keluar. Kendati bagian atapnya terbuka sekalipun, tetap saja elang itu tidak bisa terbang.

Memang bagi seekor elang untuk memulai terbang dari tanah, ia harus dengan berlari minimal sejauh 3-3,5 meter.

Tanpa tempat untuk tinggal landas berlari, elang ini tidak akan mampu terbang, dan akan terjebak selamanya walau dalam kandang kecil tanpa penutup sekalipun.

Teguh

Cerita yang sama untuk seekor lebah yang jatuh ke dalam cangkir kopi yang terbuka. Ia juga akan tetap di sana sampai mati, kecuali jika karena tidak tega, Kita keluarkan dia dari cangkir tersebut.

Elang dan Lebah tidak pernah melihat jalan keluar pada bagian atas, melainkan terus berusaha mencari jalan keluar lewat pinggir dekat dasarnya.

Mereka selalu mencari jalan bawah. Tempat di mana tidak ada jalan, hingga menghancurkan diri sendiri.

Nah… ternyata, banyak dari kita, juga seperti burung elang dan lebah itu.

Kita lebih sering bergumul dengan masalah, fokus terus dengan masalah, mengeluh terus sampai akhirnya frustrasi sendiri.

Terkadang kita lupa berpikir, bahwa jawaban dari masalah kita adalah pada diri sendiri. Kita lupa tengadah, kita kehilangan keberanian untuk lepas landas.

Jawaban untuk menaklukkan kejamnya persaingan hidup bukan bagaimana kita menjatuhkan lawan dan saingan, tetapi bagaimana kita berani membaca esok. Dan melompat keluar dari kukungan.

Kisah elang dan lebah seperti kisah pertarungan kaum puritan dan moderat. Atau mirip pertempuran media online dan media cetak konvensional. Mereka yang kaku dan enggan berubah, serta gagal melihat ke depan. Hanya berpikir untuk menjatuhkan pesaing dan membanjiri pasar dengan produk mereka siaplah tersungkur.

Perubahan tidak bisa dilawan. Perlawanan tidak akan bisa mengubah keadaan. Justru mematikan kepercayaan dan dilibas zaman.

Harus mengubah mindset sesuai eranya. Mau berdebat hingga berbusa percuma, karena sistem sudah kalah dan memang sudah ketinggalan zaman.

Ayo lepas landaslah. Kita statis, diam tak bergerak. Maka kita akan dilibas zaman. Seperti halnya taksi bird yang menjadi tertawaan karena berubah menjadi angry bird. Atau seperti deretan media cetak yang tutup gulung tikar. Ini abad digital kawan. Semua harus bisa kita lipat dalam saku.

Atau kita ingin seperti mantan-mantan kita yang begitu cepat kita lupakan karena gampang curhatan?

 

-(Renungan Bilik, Kelapa Gading)-
*Teguh K, pengagum Raisa tinggal di Jakarta*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara