harmono 25/06/2014

gambar-bendera-inggris-9POSKOTA.CO – Sungguh tragis, masih baru memasuki fase grup, tiga negara yang memiliki liga terkenal, dan dikenal negara raksasa sepakbola, Italia (Seri A), Spanyol (La Liga) dan Inggris (ELP), sudah harus angkat koper meninggalkan Brazil.

Yang sudah sampai kembali ke negaranya, kabarnya baru Spanyol. Dan mereka yakin bakal disambut dengan tak ramah oleh pendukung sepakbola Spanyol yang kecewa, karena itu kabarnya mereka keluar bandara di negaranya melewati pintu khusus, diam-diam.

Sebenarnya entrenador Spanyol, Vicente Del Bosque, jauh sebelumnya sudah memprediksi jika persaingan di Piala Dunia 2014 ini tak semudah Piala Dunia 2010. “Ada banyak tim hebat di tahun 2014 ini. Mereka seperti kami, ingin menjadi juara dunia.

Dan untuk alasan itu, sulit bagi kami untuk mengulang apa yang kami lakukan di gelaran sebelumnya,” kata Del Bosque seperti dikutip AS beberapa bulan sebelum Piala Dunia 2014.

Namun banyak yang menyayangkan, secepat itulah Spanyol angkat koper dari Brazil? Dan sampai kini pelatih gaek itu belum menentukan posisinya sebagai pelatih tim Matador.

Sementara pelatih Italia, Cesare Prandelli bersikap jantan setelah Italia tersingkir dari Piala Dunia 2014. Mantan pelatih Fiorentina itu memutuskan meletakkan jabatannya sebagai pelatih Italia.

Cesare Prandelli dan Del Bosque memang beda, Prandelli banyak diragukan bisa membawa Italia menjadi juara Piala Dunia 2014 oleh penggemar sepakbola Italia, sementara Del Bosque dipuja bisa mengulang prestasi yang pernah dilakukan. Ironisnya Spanyol tersingkir di fase penyisihan grup.

Karena itulah barangkali Prandelli merasa tak mampu memenuhi ekspektasi FIGC (Federasi Sepakbola Italia). Target FIGC Prandelli memang mampu membawa Italia juara di Piala Dunia 2014. Namun apa dikata, Mario Balotelli yang ditarik keluar saat malawan Uruguay nampak sendu memandang rekan-rekannya yang tak mampu menembus pertahanan Uruguay.

Sementara pelatih Inggris, Roy Hudgson, sudahlah pasti tak lepas dari cecaran media Inggris yang terkenal galak. Namun beruntung Roy Hudgson dapat banyak pembelaan dari para pemainnya.

“Ia pelatih yang hebat dan berdedikasi. Saya sangat menghormatinya,” tutur Hart. Penjaga gawang Manchester City ini berharap terus bermain di bawah kepelatihan Hodgson.

Banyak pengamat yang menyebut, kepulangan lebih cepat tiga negara sepakbola itu karena para punggawanya lebih banyak bermain diclub-club besar, dan menjadi pemain andalan. Beban mereka di club begitu besar. Apalagi jarak waktu antara Piala Dunia dan laga di club yang pendek, membuat mereka kepayahan tenaganya.

Bahkan ada beberapa pemain bintang yang tak bisa berlaga di Piala Dunia 2014 lantaran cedera, seperti Franck Ribery, atau Robert Lewandowski yang baru diturunkan ketika Kroasia melakoni laga kedua di level grup. Bahkan petinggi sepakbola Perancis menyalahkan club Munchen atas cidera yang diderita Riberry.

Lalu akankah negara-negara tradisi juara di Piala Dunia akan menyusul Inggris, Italia dan Inggris? Tidak juga, juara akan tetap seputaran negara Perancis, Argentina, Brazil, Jerman, Uruguay, atau Belanda yang belum pernah mengecap juara Piala Dunia tapi sudah pernah meraih Juara Eropa semasa trio maut Frank Rijkaard, Marco van Basten dan Ruud Gullit.

Yang paling besar kemungkinan menjadi juara adalah yang memiliki pemain yang siap menjaga staminannya sampai final. Di sisi lain, FIFA dan Brazil sebagai penyelenggara mengharapkan negara-negara kaya pelanggan juara dunia dan juga negara kaya peserta Piala Dunia terus melaju di Brazil, sehingga menambah devisa negara Brazil, dan pundi-punsi FIFA.

Disamping itu jika negara-negara penggila sepakbola dan negara kaya terus melaju di Brazil, pesta empat tahunan ini semakin semarak. Kalau tidak, pemandangan stadion kosong yang sering terlihat dibeberapa laga akan makin kosong. Karena rakyat Brazil sendiri sebagian besar terlilit kesulitan ekonomi.

Kita tunggu saja, apakah FIFA dan Brazil ‘ikut bermain’ terhadap harapan keuntungan finansial tersebut? Bagaimana pun sepakbola dunia tak bisa lepas dari target finansial dan juga politik.

Itu tak lepas dari catatan hebat Prandelli ketika mengantarkan Italia menjadi runner up Piala Eropa 2012 dan peringkat ketiga Piala Konfederasi 2013. Sayangnya, hal itu tak berlanjut di Piala Dunia.

Pada akhir pertandingan melawan uruguay, saya berbicara dengan Presiden FIGC. Proyek teknik adalah tanggung jawab saya. Saya akan segera mengajukan pengunduran diri, terang Prandelli di laman Football Italia.

Keputusan Prandelli langsung mematahkan kontrak panjang yang sudah disepakati. Sebelumnya, Prandelli memang sudah menyetujui perpanjangan kontrak hingga 2016. Ketika proyek teknik gagal, adalah hal yang benar saat pelatih mengambil tanggung jawab, tegas Prandelli.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*