oleh

Ronny Tanuwijaya: Lebar Lapangan untuk Sebuah Persahabatan

JAKARTA – Ronny Tanuwijaya membuka lebar-lebar pintu hatinya. Bak ‘playmaker’, dia mengalirkan bola ke banyak pemain, untuk selanjutnya gol-gol indah tercipta di sana, suasana indah untuk ia membangun pertemanan dan memelihara persahabatan dengan baik.

“Sepak bola telah mempertemukan saya dengan banyak pemain, legenda-legenda kita. Saya hanya bisa membuat mereka senang dan bahagia,” kata Ronny Tanuwijaya, Minggu (24/3/2024).

Ronny Tanuwijaya –dia lahir di Pecindilan, kecamatan di Surabaya, 24 Maret 1957, dan hari ini genap berusia 67 tahun– adalah lelaki yang selalu membawa kebahagiaan untuk orang banyak, di mana pun dia berada. Langkahnya ringan dan hatinya lapang.

Rotan –demikian Ronny Tanuwijaya biasa disebut– adalah lelaki tanpa batas dan tidak membatasi diri dengan siapa dia berteman.

Pertemanan yang ia bangun dan, ia memeliharanya dengan baik, tidak terbatas hanya dengan pemain, atau mantan-mantan pemain sepak bola. Tapi juga di kalangan TNI.

Kawannya tak hanya sebatas banyak komandan batalion, tapi juga hingga ke level panglima, di antaranya Pangdam Sriwijaya dan Pangdam Jaya, hingga ke pucuk pimpinan Kasad.

Teringat ketika ia mengundang saya ke Lapangan Mabesad. “Bang Yon besok harus hadir ya,” katanya.

Waktu itu, di penghujung November 2022, ia menggelar pertandingan persahabatan antara Pati TNI AD dan legenda-legenda yang ia sebut sebagai PSSI Old Stars.

Dia bisa mendatangkan lebih dari 50 pemain dari berbagai daerah dan angkatan di antaranya, Risdianto, Simson Rumapasal, Oyong Liza, Tumsila, Dede Sulaiman, Ronny Paslah, Hadi Ismanto, Rully Nere, Ristomoyo Suwondo, Ferril Raymond Hatu, Robby Darwis, Berti Tutuarima, David Sulaksmono, Abidar Sudaryanto, Herry Kiswanto, Budiawan Hendratmo, Fachri Husaini. Sedangkan tim Pati, waktu itu, diperkuat Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman.

Setiap kali usai bermain bola di mana pun, di Bandung, Semarang, atau Surabaya, Ronny Tanuwijaya selalu mengundang seluruh pemain –baik yang main atau hanya menjadi penonton– dalam jamuan makan malam sambil menikmati musik.

Ronny Tanuwijaya, buat saya, tampak lebih keren ketika berada di lapangan sepak bola, karena ia tak pernah membawa statusnya sebagai pengusaha yang berpakaian rapi sebagai direktur Surya Makmur Group. Ia memanfaatkan lebar lapangan hanya untuk sebuah persahabatan.

Gambaran lain Ronny Tanuwijaya saya lihat ketika ia sedang malantunkan ‘Bos’, lagu yang ia tulis sendiri dan ketika ikut tampil sebagai drumer mengiringi penyanyi.

Hari ini, Ronny Tanuwijaya, kawan baik, lelaki yang saya hormati dan kagumi, sudah berusia 67 tahun. Tidak ada alasan lain selain saya wajib mengirim ucapan dan doa untuknya. “Pak Ronny, happy birthday … sehat-sehat dan tetap bahagia bersama orang-orang tercinta…. ” (disarikan oleh yon moeis/bu)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *