TERSANGKUT KABEL PENGENDARA MOTOR TEWAS – Poskota.co

TERSANGKUT KABEL PENGENDARA MOTOR TEWAS

Tersangkut kabel saat mengendarai motor
Tersangkut kabel saat mengendarai motor

POSKOTA.CO – Tersangkut kabel proyek yang terjuntai saat melintas di jembatan layang atau fly over Pasar Kebayoran Lama arah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sugeng Widodo,29, pengendara motor jatuh dan tewas di tempat kejadian.

Kasubbag Humas Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Purwanta mengatakan, kecelakaan maut tersebut terjadi Kamis (30/6/2016) sekira pukul 07.30 WIB tadi. Korban yang merupakan warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu melaju dari arah Ciledug menuju Kebayoran Baru.

“Korban menggunakan motor Pulsar nopol B 3964 BXS‎. Diduga korban tersangkut kabel‎ lampu proyek PP,” ujar Kompol Purwanta kepada wartawan, Kamis (30/6/2016).

Berdasarkan keterangan saksi, kata Kompol Purwanta, korban melintas di fly over Pasar Kebayoran Lama atau tepatnya di bawah proyek pembangunan jalan layang Transjakarta Ciledug-Tendean. Saat itu korban menabrak kabel yang terjuntai dari proyek jalan layang. Korban terjatuh dan langsung meninggal di tempat.

“Korban tewas akibat luka di kepala. ‎Korban masih mengenakan helm, tapi pecah karena terbentur keras di aspal. Pas jatuh, kondisi helm masih terpakai,” katanya.

‎‎Kini kasus tersebut masih ditangani aparat Polres Metro Jakarta Selatan. Polisi telah menyita barang bukti berupa kabel dan akan memeriksa penanggung jawab proyek.

“Jenazah korban saat ini sudah dibawa ke RS Fatmawati untuk keperluan visum,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)