TABUNG GAS MELEDAK, EMPAT WARGA LUKA BAKAR DAN DUA UNIT MOBIL RUSAK – Poskota.co
Saturday, September 23

TABUNG GAS MELEDAK, EMPAT WARGA LUKA BAKAR DAN DUA UNIT MOBIL RUSAK

POSKOTA.CO – Peristiwa ledakan dahsyat terjadi di Jalan Harimau, tidak jauh dari Pasar Maricaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sekitar pukul 21.45 WITA, Minggu (11/9). Suara ledakan terdengar hingga radius 2 kilometer. Ledakan tersebut diduga bersumber dari kebocoran gas elpiji.

Akibat kejadian itu, empat warga menjadi korban ledakan dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Mapolda Makassar, Jl Andi Mappaoddang. Keempatnya mengalami luka ringan hingga berat.

“Ada empat orang yang dibawa ke sini dari Pasar Maricaya, korban ledakan,” ujar salah satu petugas medis di ruang IGD.

Keempat orang itu diketahui bernama Markus (22) dan Trisno yang mengalami luka berat. Sedangkan Poli (21) dan Yusuf mengalami luka ringan.

Selain itu, puluhan rumah warga dan toko mengalami kerusakan, serta dua unit mobil yang terparkir di depan rumah warga rusak parah dampak dari ledakan tersebut.

Mobil tersebut yakni minibus Toyota Avanza bernomor polisi DD 1135 AH yang tertimpa reruntuhan balok dan seng. Selain itu, sebuah mobil pick up Daihatsu Grand Max mengalami kerusakan di bagian depan mobil.

Di sekitar lokasi kejadian juga ditemukan beberapa tabung elpiji 12 kilogram yang dijual di rumah toko lokasi ledakan yang terletak di belakang Pasar Maricaya.

Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Anton Charliyan mengatakan, ledakan tersebut merupakan tempat penyimpanan gas. Ledakan tersebut tidak menimbulkan korban meninggal. “Korban jiwa nggak ada, luka ada,” ujar Anton.

Anton menuturkan, akibat ledakan tersebut satu rumah terbakar cukup parah. Tempat lain juga ikut terbakar namun hanya sedikit. “Personel sudah di TKP, sudah diamankan,” jelas Anton.

Menurut Anton Charliyan, ledakan ini hanya kecelakaan biasa dan tidak berhubungan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha yang akan dilangsungkan esok hari.

“Penyebabnya kita tunggu hasil tim Labfor bekerja, ini cuma kecelakaan biasa, bukan ledakan bom, tidak ada kaitannya dengan lebaran besok,” tutur Anton yang meninjau lokasi ledakan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)