harmono 08/11/2018

POSKOTA.CO – Nama Sujiwo tiba-tiba jadi ‘buah bibir’ sesama peserta Musyawarah Nasional (Munas) IV Ikatan Penulis dan Jurnalistik Indonesia (IPJI), di Hotel Grand Cempaka Jakarta, pada 28 Oktober lalu. Bahkan ada yang menyebut, Sujiwo itu budayawan kondang yang suka muncul di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang digawangi oleh ‘Uda Datuk’ Karni Ilyas.

Betul begitu? Usut punya usut di panitia pelaksana (panpel) ternyata bukan. Sujiwo di sini, ada embel-embelnya: sarjana ekonomi. Dia politisi tulen asal Kubu Raya, Kalimantan Barat. Di pilkada beberapa waktu lalu, lelaki bersahaja ini menjadi wakilnya Muda Mahendrawan SH, maju bertarung menjadi ‘orang pertama’ di Kabupaten Kubu Raya.

Alhamdulillah, Muda-Jiwo, diamanatkan masyarakat membangun Kubu Raya. Keduanya menjadi bupati dan wakil bupati di periode mendatang. Duet pengusaha dan politisi ini diharapkan mampu menggeliatkan pembangunan Kubu Raya.

“Saya hadir di Munas IPJI ini sebagai kapasitas pribadi. Kebetulan saya anggota IPJI,” ujar Sujiwo yang menjadi pembina IPJI Kalimantan Barat ini kepada anggota IPJI dari pelbagai daerah. Ia datang bersama rombongan IPJI Kalimantan Barat, Riyanto SPD (ketua), Evi Novianti (sekretaris), A Rakhman Hudri SIP (bendahara).

Sujiwo mengaku senang sekali berada di ‘rumah jurnalis dan penulis’, sekaligus temu kangen dengan anggota IPJI yang tersebar di pelbagai daerah. Terlebih, usia IPJI sudah 19 tahun, sebuah usia yang cukup matang dalam berorganisasi.

“Kita berharap ke depan IPJI selain dapat mengedukasi masyakarat lewat informasi, juga melahirkan jurnalis kekinian yang mampu menjawab perubahan zaman, terutama mengeliminasi hoaks,” ujarnya kepada Marlon Brando, Prayogi dan Lian Lubis didampingi IPJI Kalbar yang mencegatnya saat rehat munas, dalam keterangan tertulis IPJI pusat yang diterima POSKOTA.co, Kamis (8/11).

Wakil Bupati Kubu Raya Sujiwo SE yang juga pembina IPJI Kalimantan Barat bersama pengurus IPJI Kalimantan Barat di antaranya, Riyanto SPD (ketua), Evi Novianti (sekretaris), A Rakhman Hudri SIP (bendahara), saat menghadiri Munas IPJI IV di Hotel Grand Cempaka Jakarta.

Berikut petikan politisi yang kini menyebut dirinya nonpartisian:

Bagaimana Anda melihat Munas IPJI IV ini?
Wah, sangat bagus. Apalagi munas kali ini sangat istimewa, karena ada suksesi setelah Pak Taufiq menyatakan tidak mau dipilih kembali.

Soal pembekalan dari Kemenkominfo tadi?
Wah bagus sekali (mengacungkan jempol). Bayangkan saja, masyarakat kita hanya sekitar enam menit terlepas dari handphone maupun smartphone menerima lebih dari satu kali hoaks setiap hari. Setelah itu mencari-carinya di mana handphone? Apalagi hasil penelitian yang dilakukan masyarakat telekomunikasi 2016 lalu. Lebih dari 44 persen masyarakat kita menerima satu hoaks setiap hari. Sedang 17,20 persen menerima lebih dari satu kali hoaks.

Jadi hoaks saat ini benar-benar musuh bangsa yang bisa membahayakan NKRI. Di sinilah peran IPJI dapat mengeleminasi hoaks lewat anak organisasinya, seperti Media Online Indonesia (MOI) dan Perkumpulan Wartawan Online Nusantara Independen (PWOIN).

Oke. Dari data tadi, hoaks yang paling banyak diterima masyarakat Kubu Raya?
Maksudnya?

Politik atau SARA?
Ya, karena tahun ini tahun politik, paling banyak ya politik. Lalu SARA. Paling mengkhawatirkan masalah agama. Inilah yang bisa memecah belah bangsa. Jadi, hoaks ini bukan tugas negara saja, juga semua komponen bangsa harus ikut memberangusnya. Kita tidak boleh membiarkan hoaks menjadi virus pemecah belah NKRI.

Sebagai Wakil Bupati terpilih, bagaimana Anda mengantisipasinya?
Saya pikir ada instansi terkait, yaitu Kemenkominfo, dan di daerah ada dinas-dinasnya. Mereka memberikan sosialisasi sekaligus mengimbau masyarakat agar bisa selektif menerima berita. Kalau memang membendung, itu tidak mungkin di era seperti ini. Kita harus mengingatkan untuk sering bertanya tentang berita-berita itu.

Dan memang, pengaruh hoaks itu, sangat luar biasa. Saya tahu persis. Saya dan teman-teman selalu memberikan pencerahan dan menangkis hoaks, tapi kami kewalahan. Cukup besar volumenya mereka yang menerima hoaks

Lalu, harapan Anda bagi jurnalis sendiri?
Nah, itu dia. Saya berharap mereka juga menyajikan berita yang akuratlah. Verifikasi dulu fakta-faktanya, jangan hanya dinaikkan saja. Buat saya, harapan ini tidak hanya berlaku bagi IPJI dan dua anak organisasinya, juga bagi media mainstream. Ingat, berita yang langsung di-publish, bisa menciptakan opini publik lho. Jagalah akurasinya.

Alhamdulillah, masih sangat baiklah. Kan saya anggota IPJI dan politisi. Jadi saya tahu persislah bagaimana cara pendekatannya dan berkawan kepada kalian (tertawa). Pokoknya semua masih positif dalam tataran pemberi informasi dan mengedukasi.

Saya berharap IPJI pun tetap jadi ‘partner’ pemerintah dalam mendistribusikan informasi dan edukasi yang positif. Terus pertahankan itu. Makanya, saya betah kan jadi anggota IPJI, seperti kalian… (tertawa bersama-sama). (*/rel/oko)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*