Djoko Waluyo 21/05/2014
Prabowo mengacungkan jempol pada pendukungnya
Prabowo mengacungkan jempol pada pendukungnya

POSKOTA.CO – Suhardiman, sesepuh sekaligus tokoh Golkar mengingatkan Prabowo untuk tidak memaksakan kehendaknya menjadi prsiden RI. ” Sudahlah urungkan niat Prabowo, pasti tak akan terpilih, seya sebagai orangtua hanya memberi nasehat,” kata Suhardiman di Jakarta, Selasa (20/5).

Sikap Suhardiman ini berbeda dengan sikap yang diambil PG yang mendukung pencalonan Prabowo sebagai presiden. Suhardiman memang mengaku mendukung pasangan Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) pada Pilpres, 9 Juli nanti.

Ia menjelaskan berdasarkan sejarah dan ramalan Joyoboyo, yang memimpin Indonesia itu secara pakemnya adalah Satriyo Kinunjoro (ksatria yang terpenjara) yaitu Bung Karno, Satriyo Mukti Wibowo (ksatriya yang mendapat kenikmatan dan kewibawaan) adalah Pak Harto, dan sekarang Satriyo Piningit (ksatria yang masih disimpan) yang sekarang, ada tanda-tanda yang sudah jelas.

“Gambaran Satriyo Piningit itu dia Satriyo kesampar kesandung, yang terkena kaki dan tersandung-sandung dibawah. Artinya yang asalnya dari bawah, maka sipai yang di bawah? Mari kita lihat, Jokowi kan?” ujar pendiri Sentra Organisasi Kekaryaan Swadiri Indonesia (Soksi) itu.

Soksi merupakan ormas pendiri Golkar dan sampai sekarang masih memiliki suara di Golkar.

Suhardiman mengaku, sebagai pendiri Soksi punya hak veto, hak untuk membatalkan putusan Ketua Umum Soksi yang kini dipimpin Ade Komarudin yang menyebutkan mendukung Prabowo. Dia sudah meminta Ade dan seluruh kader Soksi untuk mengikuti petuahnya, yakni memilih Jokowi.

Dia juga mengaku tidak ada urusan dengan Partai Golkar yang sudah memutuskan mendukung Prabowo. Dia hanya ingin memberikan pilihan terbaik untuk bangsa ini. “Saya tidak ada kepentingan pribadi untuk cari kedudukan. Untuk apa, saya ini sudah 70 tahun,” ujarnya.

Menariknya, Suhardiman mengaitkan peran Amerika Serikat terhadap kekuasaan di Indonesia. Menurutnya, bangsa ini selalu dalam kendali AS, sementara Prabowo tidak dikehendaki dalam remote control (kendali) AS, sebab capres Gerindra itu dianggap sebagai pelanggar HAM berat.

Sumber:Suara Pembaruan

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*