SEKOLAH SEHARI PENUH HARUS DIRANCANG DENGAN BENAR – Poskota.co

SEKOLAH SEHARI PENUH HARUS DIRANCANG DENGAN BENAR

POSKOTA.CO – Wakil Ketua Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan, harus ada komunikasi antara sekolah dan orang tua secara komprehensif jika rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy agar sistem sekolah negeri dan swasta menggunakan sistem belajar ‘full day school’. Selain itu ia meminta agar kebijakan ini dijalankan dengan bertahap dan tidak memaksa.

“Maksud kami ‘full day school’ jangan memaksa karena ada konsekuensinya. Nah jadi memang harus diteliti benar dan dipilah. Oleh karena harus ada komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua murid,” kata Ferdiansyah di Jakarta, Senin (8/8).

Ferdiansyah mengaku mendukung rencana kebijakan ini, tapi definisi ‘full day school’ juga harus dipikirkan lagi. Karena, tambahnya, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan sebelum rencana kebijakan ini jalankan. Salah satunya banyak anak yang diperlukan orang tua mereka untuk membantu di rumah.

Menurut Ferdiansyah, banyak anak-anak yang dibutuhkan untuk membantu orang tua di rumah atau membantu perekonomian keluarga. Ferdiansyah juga berharap pemerintah memperhatikan konsekuensi logis dari penerapan kebijakan ini. “Konsekuensi logisnya apa? Ada biaya nggak di situ? Cari biayanya gimana? Artinya kebijakan yang dibuat bagus tapi harus dihitung juga,” ujar Wakil Ketua Komisi X DPR ini.

Ferdiansyah menambahkan, ada beberapa hal yang juga perlu dipikirkan oleh Kementerian Pendidikan (Kemendikbud). Salah satunya peningkatan kualitas guru. Menurutnya, harus ada kebijakan 15 persen dari tunjangan guru digunakan untuk peningkatan kualitas diri mereka. “Misalnya diberikan keharusan setiap tunjangan 15 persen digunakan untuk peningkatan kapasitas diri masing-masing seperti membeli buku, langgangan internet atau diskusi,” pungkasnya.

Setuju Program Perpanjangan Jam Sekolah
Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla menyetujui program perpanjangan jam sekolah yang digagas Kemendikbud. “Bapak Wapres setuju. Namun beliau ada saran pilot project (proyek percontohan-red) dulu untuk menjajaki pasar (uji coba-red),” kata Mendikbud Muhadjir Effendy seusai bertemu Wapres, di Jakarta, Senin (8/8).

Muhadjir menjelaskan, gagasan sekolah sehari penuh (full day school) sebenarnya sudah dijalankan oleh banyak sekolah, terutama sekolah swasta. “Justru saya diilhami oleh sekolah-sekolah swasta soal ‘full day school’,” kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur itu.

Menurut Muhadjir, sistem ‘full day school’ banyak memberikan kesempatan kepada pihak sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik sesuai dengan program Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Bahkan nanti kita ciptakan lingkungan sekolah yang lebih menggembirakan. Kalau perlu ngaji, nanti kita undang ustaz ke sekolah,” kata salah satu pengurus teras PP Muhammadiyah itu.

Selain itu, program tersebut juga menghindari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah. Muhadjir menyebutkan, jam pulang sekolah akan disamakan dengan jam pulang kerja sehingga anak didik tidak dilepas begitu saja setelah jam sekolah. “Jadi, anak pulang jam lima sore, orang tuanya bisa jemput sehingga anak kita tetap ada yang bertanggung jawab setelah dilepas oleh pihak sekolah,” ujar Mendikbud.

Kalau program tersebut diterapkan, dalam sepekan sekolah akan libur dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, sehingga menurut Muhadjir akan memberikan kesempatan bagi peserta didik bisa berkumpul lebih lama dengan keluarga.

Meskipun demikian, pihaknya tetap akan menguji sejauh mana ketahanan peserta didik untuk menjalani ‘full day school’. “Bapak Presiden sangat mengapresiasi. Wapres juga setuju. Tinggal saya nanti yang susun programnya,” kata Muhadjir menambahkan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2898" align="alignnone" width="300"] Anang Iskandar[/caption] POSKOTA.CO- Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN) Komjen Anang Iskandar mendesak kepada Jaksa Agung Prasetyo untuk segera mengeksekusi terpida mati kasus narkoba. Salah satunya adalah terpidana mati yang kembali mengendalikan bisnis narkoba Warga Negara Nigeria, Silvester Obiek. "Iya, ingin (Silvester) segera dieksekusi mati? Saya laporkan tadi ke Pak Jaksa Agung," kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Senin(2/2). Anang berharap, eksekusi mati yang dijalankan pihak kejaksaan, diharapkan tidak terlalu lama waktunya dari eksekusi mati pertama. "Kami ingin efek jera bagi mereka, eksekusi hukuman mati perlu tapi jangan sekali dan jedanya jangan terlalu panjang. Semoga gelombang kedua nggak tahun depan. Kami ingin penegak hukum punya integritas yang tinggi," ujar mantan Kapolda Jambi ini. Sementara itu, Jaksa Agung M Prasetyo mengaku, pihaknya masih menunggu grasi yang diajukan Silvester Obiek ke Presiden Joko Widodo(Jokowi). "Yang bersangkutan (Silvester) ajukan grasi, nanti kita cek lagi,‎" kata Prasetyo. Sebelumnya, petugas BNN mencokok seorang kurir shabu bernama Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB.Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti 1.794 gram shabu. Kepada penyidik, Dewi mengaku, dirinya disuruh Andi teman satu sel Silvester Obiek, untuk mengirimkan shabu tersebut kepada seseorang berinsial E yang masih buron. Belakangan diketahui, bisnis narkoba tersebut dikendalikan oleh Silvester Obiek yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan(LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan sudah beberapa kali tersangkut kasus narkoba dan divonis hukuman mati.(sapuji)