RUTAN CILODONG DEPOK DIRIKAN PESANTREN UNTUK BINA KEIMANAN – Poskota.co

RUTAN CILODONG DEPOK DIRIKAN PESANTREN UNTUK BINA KEIMANAN

Kepala Rutan Kelas II B Cilodong Sohibur Rachman bersama jajaran TNI dan para ulama serta ustaz Kota Depok saat menghadiri acara keagamaan di pesantren yang berlokasi di dalam Rutan Cilodong.
Kepala Rutan Kelas II B Cilodong Sohibur Rachman bersama jajaran TNI dan para ulama serta ustaz Kota Depok saat menghadiri acara keagamaan di pesantren yang berlokasi di dalam Rutan Cilodong.

POSKOTA.CO – Guna memutus mata rantai peredaran narkoba hingga pencegahan paham radikalisme di kalangan para narapidana, Rumah Tahanan Kelas II B Cilodong, Depok, Jawa Barat, membuat pesantren di dalam rutan. Seluruh napi yang beragama Islam pun diwajibkan untuk mengikuti aktivitas keagamaan di dalam pesantren tersebut.

Kepala Rutan Kelas II B Cilodong Sohibur Rachman menjelaskan, aktivitas keagamaan yang digelar itu merupakan bagian dari upaya pembinaan iman agar para napi bisa lebih tenang dalam menjalani masa penahanannya.

“Termasuk itu, mencegah adanya peredaran narkoba hingga paham-paham sesat maupun radikal. Kalau ini berjalan terus, insya Allah di dalam pun akan nyaman. Dan setelah keluar dari sini, mereka dapat menjadi lebih baik lagi,” papar Sohibur kepada wartawan.

Terkait hal itu, lanjut Sohibur, pihaknya telah menggandeng sejumlah ulama yang berasal dari berbagai pesantren, salah satunya yang bernaung di Yayasan At-Taubah, Depok.

“Nanti itu sifatnya wajib ikut pesantren. Sekarang kita ajak dari hati ke hati dulu. Mereka (napi) ini kan secara ekonomi bermasalah, tingkat emosionalnya juga bermasalah, nah itu yang harus ada pendekatan,” ujar Sohibur.

“Jujur, meski dengan segala keterbatasan, namun kami akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk warga binaan (napi),” tegasnya

Sementara itu, Ustaz Abu Bakar Madris, salah satu rohaniawan yang dilibatkan dalam program ini mengakui, penyampaian metode pengajaran yang diberikan di dalam rutan sangat berbeda dengan di tempat umum. “Di sini kita pendekatannya secara psikologis,” katanya.

Pria yang akrab disapa Ustaz Abu ini pun mengaku, dirinya tidak khawatir dengan kondisi rutan yang kerap diidentikan dengan hal-hal negatif. “Enggak ada masalah, biasa saja. Toh mereka juga kan manusia, yang tentunya juga mempunyai hati nurani,” ujarnya.

Usai memberikan siraman rohani, sejumlah ustaz pun mendapat kejutan dari para napi berupa cinderamata yang dibuat menggunakan kertas. Beberapa bentuk yang dihasilkan dari pra karya tersebut di antaranya berbentuk sepeda motor, bunga, kapal laut hingga miniatur replika Menara Eifel.

Untuk diketahui, jumlah narapidana di Rutan Kelas II B Cilodong mencapai 933 orang. Dari angka tersebut, 80 persen di antaranya adalah warga Depok. (*/arya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.