Djoko Waluyo 03/04/2014
 AI alias Hafitd (kanan) dan AR alias Sifa (kiri) dua tersangka pelaku pembunuhan Ade Sarah Angelina,melakukan rekontruksi pembunuhan di Polda Metro Jaya, Jaksel, Kamis (3/4)

AI alias Hafitd (kanan) dan AR alias Sifa (kiri) dua tersangka pelaku pembunuhan Ade Sarah Angelina,melakukan rekontruksi pembunuhan di Polda Metro Jaya, Jaksel, Kamis (3/4)

POSKOTA.CO – Asyifa Ramadhani alias Syifa dan pacarnya Ahmad Imam Al-Hafid, tampak lunglai saat menjalani reka ulang perjalanan yang mereka lakukan menganiayan Ade Sara hingga menemui kematian dalam kendaraan mobil milik Hafitd, Kia Picanto warna Silver bernomor polisi B 8328 JO di halaman Polda Metro Jaya.

Syifa sempoyongan di tengah rekonstruksi. Tubuhnya tampak lemas…bahkan nyaris ambruk. Syifa terlihat banyak termenung. Sesekali menangis. Sementara jari tangannya terus mengamit tasbih.

Sementara Ahmad Imam Al Hafid, mengaku takut menjalani adegan rekonstruksi pembunuhan mantan kekasihnya. Rasa takut menghantui selama ia dalam bui.

Entah apa yang ditakutkan, padahal tidurnya dijaga polisi dan dibatasi jeruji. Yang mereka tempati ruangan yang kanan kirinya dihuni oleh pelaku kejahatan lain. Tapi jiwa sang pembunuh itu tak pernah damai dan tenang.

Pengacara Hafid, Hendrayanto tak membantah ketika dikorfirmasi apa alasannya pemuda berkaca mata minus itu dihantui rasa ketakutan yang luar biasa.

Tidak diungkapkan rasa takutnya kenapa, hanya saja Hafid selalu terbayang Ade Sara Suroto, mantan kekasihnya, yang dibunuh selalu datang padanya dikala ia hendak memejamkan mata.

Kepada Hendrayanto, pengacaranya Hafitd mengatakan, kaget saat mengetahui Ade Sara meninggal dunia usai dianiaya bersama kekasihnya, Assyifa Ramadhani.

Meski hatinya dikuatkan sejak berangkat dari rumah, namun ketika melihat kesadisan Ahmad Imam Al Hafitd alias Hafitd, 19, dan Assyifa Ramadhani alias Syifa, 19, yang menganiaya Ade Sara putrinya, Ny. Elisabeth Diana Dewayani, tak kuasa menahan pilu.

Begitu juga ayah korban, Suroto, 40, yang sibuk merekam setiap adegan rekuntruksi. Meski ditegarkan, ketika melihat pelaku menjejalkan kertas dan menjerat putrinya, tampak mata Suroto berkaca-kaca.

Kedua tersangka awalnya mau menculik korban saat pulang kursus Bahasa Jerman di Gondangdia Jakarta Pusat.

Rasa pilu dan duka kembali menyayat lukanya saat melihat video hasil rekamannya. “Luka ini sangat dalam, meski berbagai upaya sudah kami lupakan, kenangan menyayat sulit terlupakan. Meski begitu kami sekeluarga sudah iklas,” kata Suroto pada wartawan, Kamis (3/4)

Adegan rekonstruksi, secara keseluruhan terdapat 40 adegan. Dari mulai Hafitd dan Syifa menghubungi Sara untuk bertemu di stasiun Gondangdia, sampai keduanya menutupi jenazah Sara.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*